Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Ledakan radio cepat (Fast Radio Bursts/FRB) adalah fenomena astronomi yang masih menjadi misteri besar hingga saat ini. Namun, para ilmuwan telah menemukan indikasi bahwa ledakan energi misterius itu bisa terjadi ketika asteroid menabrak sebuah bintang mati yang sangat padat atau yang biasa disebut bintang neutron. Tabrakan itu menghasilkan energi yang sangat besar, cukup untuk memenuhi kebutuhan daya manusia selama 100 juta tahun.
FRB sendiri adalah ledakan gelombang radio singkat yang dapat bertahan mulai dari beberapa milidetik hingga beberapa detik. Selama waktu tersebut, FRB bisa menghasilkan energi setara dengan jumlah yang dibutuhkan Matahari untuk memancarkannya dalam beberapa hari.
Pertama kali diamati pada tahun 2007, ledakan energi ini terus menyimpan misterinya karena jarang terdeteksi hingga tahun 2017. Pada tahun tersebut, Eksperimen Pemetaan Intensitas Hidrogen Kanada (CHIME) mulai beroperasi dan sering kali menemukan FRB.
Dikutip dari Space.com pada Selasa (10/12), pemimpin tim dan ilmuwan Universitas Toronto, Dang Pham mengatakan selama bertahun-tahun, telah diketahui bahwa asteroid dan komet yang menghantam bintang neutron bisa menghasilkan sinyal seperti FRB, namun hingga kini, masih belum jelas apakah peristiwa ini terjadi cukup sering di seluruh alam semesta untuk menjelaskan kemunculannya.
"Kami telah menunjukkan bahwa objek antarbintang (ISO), kelas asteroid dan komet yang belum diteliti yang diperkirakan ada di antara bintang-bintang di galaksi di seluruh alam semesta, jumlahnya mungkin cukup banyak sehingga dampaknya terhadap bintang neutron dapat menjelaskan FRB,” tambahnya.
Penelitian tim tersebut juga mengungkapkan sifat-sifat lain yang diharapkan dari dampak ini, yang sesuai dengan pengamatan FRB, seperti durasi, energi, dan frekuensi terjadinya selama masa hidup alam semesta.
Bintang neutron terbentuk ketika bintang-bintang masif mati dan inti mereka runtuh, menciptakan objek padat dengan massa setara Matahari, namun terkompresi dalam ukuran yang tidak lebih besar dari lebar rata-rata kota di Bumi.
Hasilnya adalah sisa bintang dengan sifat-sifat ekstrem, seperti materi terpadat yang dikenal di alam semesta (sebuah sendok teh dapat memiliki berat 10 juta ton jika dibawa ke Bumi) dan medan magnet terkuat yang ada, triliunan kali lebih kuat dari magnetosfer Bumi.
"Bintang-bintang neutron adalah tempat-tempat ekstrem, dengan lebih dari massa matahari terjepit ke dalam bola dengan lebar sekitar 12 mil (20 km), sehingga mereka memiliki beberapa medan gravitasi dan magnet terkuat di alam semesta," kata Matthew Hopkins, anggota tim dan astrofisikawan Universitas Oxford.
Hal tersebut menunjukkan bahwa sejumlah besar energi potensial dilepaskan ketika sebuah asteroid atau komet jatuh ke bintang neutron, dalam bentuk kilatan gelombang radio yang cukup terang untuk terdeteksi di seluruh alam semesta.
Para astronom telah mendeteksi FRB dari seluruh langit, sehingga beberapa ilmuwan memperkirakan bahwa 10.000 FRB dapat terjadi di titik acak di langit di atas Bumi setiap hari. Jika ini benar, berarti banyak tabrakan antara bintang neutron dan asteroid.
Selain itu, para peneliti menunjukkan bahwa jumlah bintang neutron dan objek antarbintang meningkat seiring dengan usia alam semesta. Hal ini berarti bahwa laju tabrakan antara bintang neutron dan objek antarbintang juga akan meningkat seiring berjalannya waktu kosmik.
"Kami menemukan bahwa model ini tidak dapat menjelaskan FRB yang berulang karena bintang neutron yang bertabrakan dengan batuan antarbintang merupakan peristiwa yang langka," jelas Hopkins.
Tabrakan antara bintang neutron dan objek antarbintang sangat jarang terjadi. Sebagai perbandingan, FRB yang berulang biasanya terjadi jauh lebih cepat dengan beberapa diantaranya teramati terjadi hingga dua kali ledakan per jam.
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa jika FRB yang terjadi sekali saja disebabkan oleh tabrakan antara bintang neutron dan asteroid. Maka FRB yang berulang dapat menunjukkan bintang-bintang mati tersebut bertabrakan dengan sabuk asteroid, seperti yang ada di tata surya antara Mars dan Jupiter. (Z-11)
Lubang hitam supermasif di galaksi J1007+3540 kembali aktif dengan ledakan plasma sejauh 1 juta tahun cahaya.
Fenomena astronomi langka akan kembali menghiasi langit dunia. Gerhana Matahari Total terlama pada abad ke-21 dipastikan terjadi pada 2 Agustus 2027.
Pernahkah Anda bertanya mengapa orbit planet berbentuk datar seperti piringan? Simak penjelasan ilmiahnya.
Penemuan langka sistem bintang V1298 Tau mengungkap fenomena unik di mana planet-planet muda memiliki kepadatan sangat rendah dan menyusut seiring waktu.
Simulasi terbaru mengungkap gravitasi Mars berperan vital dalam menstabilkan kemiringan sumbu Bumi dan mengatur siklus iklim jangka panjang (Milankovitch).
Peneliti temukan fenomena 'faint-end suppression' di mana jumlah galaksi kecil menyusut drastis. Simak bagaimana radiasi bintang purba menghambat pertumbuhan mereka.
Pernahkah Anda bertanya mengapa orbit planet berbentuk datar seperti piringan? Simak penjelasan ilmiahnya.
PLANET Mars dikenal sebagai planet merah karena warnanya yang kemerahan. Namun, jika diamati dari Bumi, kecerahannya tidak selalu sama.
Hal ini disebabkan oleh komposisi planet yang sangat tidak biasa dan lokasinya yang terlalu dekat dengan Matahari.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
Sistem peringatan dini benturan benda langit Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) berhasil mendeteksi sebuah objek yang melintas melalui Tata Surya.
Selama puluhan tahun, buku pelajaran dan pengetahuan populer membuat kita yakin bahwa Venus adalah planet terdekat dengan Bumi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved