Headline
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
Kumpulan Berita DPR RI
BAYANGKAN dahulu bumi kita pernah mengalami hujan yang tak berhenti turun selama dua juta tahun. Terdengar seperti film fiksi ilmiah, tetapi ini adalah salah satu peristiwa alam yang luar biasa yang pernah terjadi di planet kita.
Bumi, dengan sejarahnya yang panjang pernah mengalami periode yang dikenal sebagai "hujan dua juta tahun". Ini adalah salah satu fenomena yang membentuk wajah planet kita, berkontribusi pada pembentukan lautan dan benua seperti yang kita kenal hari ini.
Tapi bagaimana fenomena ini bisa terjadi Dan apa dampaknya bagi kehidupan di Bumi pada saat itu.
Pada masa Pangea, yaitu sekitar 200-300 juta tahun yang lalu, Bumi merupakan benua raksasa yang terdiri dari seluruh daratan dunia. Planet kita saat itu merupakan tempat yang sama sekali berbeda dari yang kita kenal.
Para ilmuwan meyakini pada masa itu, ada periode di mana hujan turun selama sekitar satu hingga dua juta tahun. Dengan berlandaskan penemuan lapisan-lapisan yang tidak biasa yang tersimpan di beberapa batuan purba yang berasal dari sekitar 232 juta tahun lalu yang telah ditemukan dan diteliti lebih lanjut oleh para ahli geologi.
Oleh karena itu, periode hujan dua juta tahun ini diyakini terjadi pada era akhir periode Trias, sekitar 232 juta tahun yang lalu. Fenomena ini dipicu oleh perubahan iklim global yang ekstrem akibat aktivitas vulkanik besar-besaran. Di waktu itu, gunung-gunung berapi meletus tanpa henti, memuntahkan lava dan gas-gas ke atmosfer, yang mempengaruhi keseimbangan iklim global secara dramatis.
Gas-gas vulkanik, terutama karbon dioksida (CO2), yang dilepaskan dalam jumlah besar, menyebabkan pemanasan global. Hal ini meningkatkan penguapan air dari lautan, menciptakan awan yang tebal di seluruh permukaan bumi. Awan-awan ini menutupi langit selama ribuan tahun, menyebabkan hujan turun tanpa henti. Penelitian geologi menunjukkan bahwa fenomena ini berlangsung hingga dua juta tahun, membawa hujan deras yang mengubah permukaan bumi secara drastis.
Alasan utama di balik hujan yang tak berkesudahan ini berkaitan dengan perubahan iklim yang dipicu oleh letusan vulkanik besar. Saat gunung berapi melepaskan gas dan partikel ke atmosfer, terjadi peningkatan suhu yang signifikan. Pemanasan global yang ekstrem ini membuat uap air di atmosfer meningkat secara dramatis, menciptakan awan tebal yang memicu hujan deras.
Selain itu, pelepasan gas seperti CO2 mempercepat proses perubahan iklim ini. Konsentrasi karbon dioksida yang tinggi menjebak panas di atmosfer, yang tidak hanya menyebabkan penguapan air yang lebih banyak, tetapi juga mencegah uap air itu menghilang dari atmosfer. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan di mana penguapan terus terjadi, dan hujan terus-menerus turun selama jutaan tahun.
Fenomena hujan tanpa henti ini membawa dampak besar bagi Bumi. Curah hujan yang tinggi menyebabkan erosi besar-besaran di daratan, mengikis pegunungan, dan membawa sedimen ke lautan.
Selain itu, hujan dua juta tahun ini juga diduga berkontribusi pada pembentukan lautan yang lebih luas, karena air yang terkumpul mengisi cekungan di permukaan bumi.
Tidak hanya mempengaruhi permukaan bumi, hujan ini juga berdampak pada kehidupan makhluk hidup. Pada periode tersebut, banyak spesies mengalami kepunahan, terutama spesies yang tak mampu beradaptasi dengan perubahan drastis dalam lingkungan.
Peristiwa hujan dua juta tahun adalah salah satu contoh bagaimana Bumi telah melalui perubahan luar biasa sepanjang sejarahnya. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa planet kita selalu berubah, sering kali melalui proses alam yang tidak bisa kita kendalikan. Tanpa perubahan besar seperti hujan dua juta tahun, mungkin Bumi tidak akan menjadi tempat yang kita kenal sekarang. (IFL Science, WION/Z-3)
BUMI awal 2026 krusial, CIC tinggal 2,81% usai divestasi, free float 41,31% dongkrak likuiditas. Target 330-344, stop loss 250; volume kunci. Waspadai koreksi MSCI!!
Tanpa keseimbangan sempurna dari elemen-elemen ini, sebuah planet berbatu mungkin tampak layak huni di permukaannya, namun secara mendasar tidak akan mampu mendukung kehidupan biologis.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pangkas RKAB batu bara 2026 jadi 600 juta ton. Cek dampaknya ke harga saham emiten batu bara hari ini.
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Selain memengaruhi medan magnet, struktur panas bawah tanah ini mungkin berdampak pada tata letak benua-benua di planet in
Fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved