Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
BELAKANGAN, fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar, dari pertanda perubahan iklim sampai ancaman untuk kehidupan manusia.
Padahal, menurut pakar, inti persoalannya jauh lebih sederhana, dan tidak semengerikan yang dibayangkan.
Sonni Setiawan, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, menjelaskan bahwa perubahan jarak Bulan dengan Bumi terkait dengan lintasan orbit Bulan yang elips, bukan lingkaran sempurna. Artinya, dalam satu periode revolusi, Bulan memang punya fase lebih dekat dan lebih jauh.
“Efek Bulan menjauh dari Bumi merupakan konsekuensi orbit revolusi bulan terhadap bumi yang berupa elips. Ada saat Bulan berada pada jarak terdekat (perigee) dan jarak terjauh (apogee) dalam setiap periode revolusi Bulan,” jelasnya dilansir dari laman resmi IPB, Kamis (5/2).
Fenomena serupa juga terjadi pada orbit Bumi mengelilingi Matahari: ada perihelion (lebih dekat, sekitar Januari) dan aphelion (lebih jauh, sekitar Juli).
Jawabannya: tidak berdampak langsung ke manusia dalam kehidupan sehari-hari. Yang sering bikin salah kaprah adalah kata “menjauh”—seolah-olah Bulan terus melarikan diri dan akan memicu bencana dalam waktu dekat. Padahal, yang dijelaskan pakar adalah dinamika jarak dalam orbit yang wajar terjadi.
Sonni menegaskan, kalau pun ada dampak, itu muncul lewat mekanisme tertentu di Bumi, bukan efek instan yang “langsung terasa”.
Contoh paling mudah adalah pasang surut air laut, yang dipengaruhi gaya gravitasi Bulan. Perubahan muka laut ini bisa terasa pada aktivitas manusia, misalnya nelayan atau masyarakat di wilayah pesisir, karena berkaitan dengan kondisi perairan.
“Fenomena Bulan menjauh dari Bumi tidak berdampak langsung terhadap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya baru terasa melalui mekanisme lain,” tuturnya.
Untuk sistem iklim, Sonni menekankan tidak ada dampak langsung dari fenomena ini. Alasannya: iklim bekerja dalam skala tahunan hingga puluhan tahun, sementara perubahan yang relevan terhadap iklim biasanya terkait faktor-faktor lain.
“Kalau terhadap sistem iklim tidak secara langsung, karena durasi iklim itu tahunan hingga puluhan tahun,” jelasnya.
Menurutnya, faktor eksternal yang lebih berpengaruh terhadap iklim, terkait orientasi Bumi terhadap Matahari, adalah tiga komponen yang dikenal sebagai Siklus Milankovitch:
Masing-masing punya periode sangat panjang: perubahan bentuk orbit terjadi setiap 100.000 hingga 400.000 tahun, kemiringan sumbu setiap 41.000 tahun, dan pergeseran sumbu setiap 26.000 tahun.
“Perubahan orientasi Bumi ini menyebabkan perubahan radiasi Matahari yang diterima oleh Bumi sebagai sumber energi utama iklim Bumi sehingga perubahan ini mempengaruhi iklim Bumi dalam skala waktu ribuan hingga ratusan ribu tahun,” urainya.
Selain orientasi Bumi terhadap Matahari, Sonni menyebut konfigurasi planet di tata surya juga dapat berpengaruh pada atmosfer. Saat planet-planet berada dalam posisi sejajar atau konjungsi, gaya gravitasi gabungan yang besar bisa berkontribusi pada perubahan kondisi atmosfer.
“Konstelasi planet dalam keadaan konjungsi bisa menyebabkan uap air terangkat, sehingga potensi pembentukan awan meningkat. Karena konjungsi planet terjadi dalam orde ratusan tahun dan efeknya global, hal ini dapat menyebabkan perubahan sistem iklim,” paparnya. (Institut Pertanian Bogor (IPB University)/Z-10)
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Bulan terus menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini diperkirakan akan mengakhiri gerhana Matahari total sekitar 600 juta tahun mendatang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved