Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Moral Hazard Tambahan Jatah Asia

Suryopratomo
15/11/2025 05:00
Moral Hazard Tambahan Jatah Asia
Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola(MI/Seno)

BABAK kelima penyisihan Piala Dunia 2026 Grup Asia Kamis lalu bergulir. Tuan rumah Uni Emirat Arab gagal memanfaatkan kesempatan emas yang mereka miliki setelah dipaksa bermain imbang 1-1 oleh Irak.

Pertandingan kedua di Basra, Selasa mendatang, akan menjadi penentu siapa peraih tiket terakhir Asia ke putaran final Piala Dunia 2026. Namun, tim yang kalah masih memiliki satu kesempatan terakhir dengan memainkan play-off melawan tim dari Amerika Latin.

Keputusan FIFA untuk menambah jumlah peserta putaran final Piala Dunia dari 32 negara menjadi 48 negara menjadi berkah bagi negara-negara Asia. Dari semula hanya empat jatah yang didapatkan, kini ada sembilan bahkan bisa 10 negara lolos ke putaran final.

Saat ini, delapan negara sudah mengantongi tiket tampil di ajang Piala Dunia tahun depan. Delapan negara yang lolos ialah Jepang, Australia, Iran, Korea Selatan, Arab Saudi, Qatar, Uzbekistan, dan Yordania.

Namun, sayang kesempatan itu tidak menjadi pemacu bagi negara-negara Asia untuk memperbaiki sistem pembinaan sepak bola mereka. Yang terjadi justru munculnya moral hazard. Semua negara bermimpi tampil di Piala Dunia tanpa mau bersusah payah menggapainya.

Jalan pintas menjadi ciri pembinaan sepak bola di banyak negara Asia. Alih-alih mereka memacu para pemuda untuk bisa bersaing dan meraih tiket ke Piala Dunia, mereka justru melakukan naturalisasi.

FIFA membuka peluang itu dengan melegalkan naturalisasi. Ada dua cara yang bisa dipakai. Pertama, melalui hubungan darah, sekecil apa pun hubungan itu. Kedua, ialah jika pemain yang dinaturalisasi itu sudah lima musim bermain dalam kompetisi negara yang akan memberikan mereka kewarganegaraan baru.

 

BUKAN ORANG UEA

Pertandingan antara UEA melawan Irak menjadi gambaran betapa maraknya naturalisasi pemain di Asia. Hanya lima pemain UEA yang merupakan warga asli negara itu, sisanya pemain berdarah Brasil, Argentina, dan Tunisia.

Bahkan, pada babak kedua, pelatih asal Rumania, Cosmin Olaroiu, menurunkan delapan pemain naturalisasi. Namun, 'Singa Mesopotamia', Irak, bukanlah tim yang mudah digertak pemain naturalisasi. Mereka bergeming dan mampu menahan gempuran pemain tuan rumah.

Dengan kekuatan uang yang dimiliki, UEA bisa melakukan apa saja. Bahkan, mereka bisa memainkan 11 pemain kalau diinginkan karena jumlah pemain yang mereka naturalisasi sangat besar.

Selain pemain asal Brasil seperti Lucas Pimenta, Marcus Meloni, Luanzinho, Bruno Oliveira, Caio Lucas, dan Caio Canedo, ada dua pemain asal Argentina, yakni Nicolas Gimenez dan Gaston Suarez, yang dinaturalisasi UEA. Sementara itu, dari Afrika, mereka mendatangkan pemain asal Maroko, Tunisia, dan Pantai Gading.

Dengan naturalisasi tanpa batas, hal itu menjadi pertanyaan apakah tim UEA masih pantas menyandang nama sebagai tim asal Jazirah Arab. Sebab, nyaris tidak lagi ada pemain lokal yang menjadi identitas UEA hanya demi mengejar tampil di ajang Piala Dunia.

Masa depan sepak bola Asia pantas dipertanyakan karena banyak negara melakukan hal yang sama, termasuk Indonesia yang melakukan naturalisasi massal hanya demi mengejar ambisi tampil di Piala Dunia.

Padahal, tujuan penambahan jatah dimaksudkan FIFA untuk membuat sepak bola menjadi lebih mendunia. FIFA ingin mempertahankan sepak bola dan Piala Dunia menjadi olahraga paling favorit di muka bumi ini.

FIFA sangat ambisius untuk membuat kompetisi sepak bola selalu menjadi perhatian dan berskala dunia. Yang terakhir mereka luncurkan ialah Kejuaraan Dunia Antarklub yang formatnya persis seperti Piala Dunia. Agenda itu ditentang banyak pihak, terutama pemain, karena membuat pemain tidak memiliki waktu istirahat yang cukup.

Keinginan untuk menambah jumlah peserta putaran final Piala Dunia seharusnya diikuti dengan peningkatan kualitas sepak bola dunia. FIFA seharusnya mewajibkan semua anggotanya untuk memperbaiki sistem pembinaan agar kualitas sepak bola dunia semakin meningkat.

Benar bahwa FIFA setiap tahun memberikan dana pembinaan kepada para anggotanya. Kepada Indonesia, misalnya, FIFA membantu pembangunan pusat latihan nasional yang dilakukan di Ibu Kota Negara Nusantara.

Seharusnya FIFA menindaklanjuti dengan meminta progres pembangunan fasilitas pemusatan latihan nasional dan program pembinaan yang dilakukan. Sayang kalau anggaran yang dibagikan ke seluruh dunia tidak berdampak kepada pembinaan yang benar dan perbaikan kualitas sepak bola dunia.

 

AMBISI PEMAIN DAN NEGARA 

Tampil dalam ajang Piala Dunia merupakan mimpi bukan hanya negara, melainkan juga pemain. Semua pemain berharap bisa mendapat kesempatan tampil di panggung sepak bola tertinggi di dunia karena bisa membawa diri mereka diincar klub-klub besar dunia.

Hanya, tampil di ajang Piala Dunia bagi setiap pemain bukan hal yang mudah. Apalagi di negara yang kompetisinya ketat dan pembinaan sepak bolanya baik. Lihat, misalnya, Prancis yang pemain sekelas Karim Benzema saja tidak bisa masuk ke tim nasional.

Ketika harapan untuk tampil di tim nasional negaranya tipis, tidak heran jika banyak pemain yang mau dinaturalisasi negara yang sangat berambisi tampil di Piala Dunia. Pertemuan dua kepentingan inilah yang membuat program naturalisasi semakin marak dan lagi-lagi FIFA melegalkan tindakan itu.

Enam pemain Brasil dan dua pemain Argentina yang memilih membela UEA melakukan itu karena kualitas mereka tidak mungkin bersaing dengan pemain sekelas Vinicius Jr atau Julian Alvarez. Mereka boleh dikatakan medioker di negara asalnya, tetapi bintang di UEA.

Perdebatan mengenai naturalisasi akan berlangsung panjang ketika tidak ada ukuran etika yang disepakati. Apakah tampil di ajang Piala Dunia sesuatu yang boleh dilakukan dengan segala cara ataukah harus melalui proses pembinaan berjenjang yang panjang.

Piala Dunia seharusnya kembali kepada hakikatnya sebagai pesta sepak bola dunia. Mereka seharusnya merepresentasikan persaingan di antara bangsa-bangsa di dunia, bukan hanya ajang pertemuan pemain dari negara elite sepak bola dengan menggunakan bendera negara dunia.

Kita bersyukur bahwa sampai sejauh ini hanya negara yang melakukan pembinaan sepak bola dasar dengan benar yang bisa tampil di Piala Dunia. Bukan paham Machiavelli yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik