Sajak-sajak Yunia Bili 

Ilustrasi: Ishita Banerjee 


Teko 

Angin puyuh sudah merasuki sukma saat aku menikmatimu. Terbuai kasih semesta yang tiada duanya. Bebijian hitam punya rasa berbeda. Memenuhi ruang hampa sebelum lenyap dalam ceret bertembikar ini. 

Sementara, semerbak uap panas menyeroboti bulir-bulir. Menghembuskan serpihan-serpihannya. Yang tak henti-hentinya keluar dari tubuh berusang dan berkeringat kusam. Tak ada waktu dan cara tuk berpaling sebab kau senantiasa mengendap dalam setiap cita rasa. Yang menggilakan orang-orang saat menyeruput seteguk demi seteguk. 

Halia, kayu manis, gula pasir, dan air panas. Kumaknai sebagai pendamping kesempurnaan aromamu. Tetapi, pemeran utamanya adalah anak-anak yang dirawat tuk selalu berpadu. Dialah kopi yang dipanggil sayang dan disebut anak. 

Tak heran, hitam pekat bercampur aroma yang kuat. Tak ayal aku tergila-gila pada rasa itu; lalu pahit, lalu manis. Kusadari telah menjadi teko kosong; dipenuhi dan dialiri cita rasa serta seribu kisah-kisah purba. Kopi alamiah telah terisi kembali dalam tekoku. 

2022 


Kopi Degan 

Bahagia dalam kehidupan. Sukacita dalam keberagaman. Bersyukur dalam kekayaan. Oleh karena jerih payah petani, secangkir kopi degan akhirnya kunikmati dalam sepotong kemewahan. 

Barangkali ada waktunya berpetualang ke kota lain. Menikmati aromanya di tengah hamparan rerimbunan hutan, pembawa kesejukan dan kehangatan di jiwa. Serupa rasa yang mewakili cinta. Selalu saja orang-orang menghirup setetes demi setetes; tik, tik, tik. 

Tak sabar menantikan dan mengisi kembali jiwa yang haus. Cara Pak Tua meraciknya; diseduh, disaring, dan dicampuri aneka racikan. Mulai dari santan, gula, jahe, sampai dengan irisan pandan. Kini, kau bak permata yang harus kulindungi karena bibit kejora kian memudar. Rembulan seakan telah mengeruh dan melukai alam. 

Aku tak ingin berseteru pada keserakahan. Tuhan, kasih-Mu tanpa batas. Aku tahu di balik rasa kopi degan, pastilah tumbuh bibit-bibit lain; menempatkanya dalam nirwana di selingkung hutan tandus akibat para pendosa. 

2022 


Kopi Refleksi 

Pepohonan mengering serupa hati menjerit. Daging tak berpori. Tuhan telah menjadikannya separuh bagianku. "Bagaimana menutup luka ini?" Sepenggal kegundahan buat bibitnya hilang. 

Kucari, tetapi tak ditemui. Kupanggil, tetapi tak disahut. "Kemana kau berkelana?" Barangkali hanya sementara saja. Tak sadar oleh sebabnya; 

Rindu membawa langkah ke gerbong kereta para pendosa. 

Fajar hilang dan aroma pudar oleh keserakahan. Oh Tuhan, ada kasih mengaliri teduh. Materaikanlah aku pada hati-Mu, sebab kasih agape telah kalahkan maut. Menjaga alam sampai sangkakala dibunyikan. Segelas kopi kuracik. Sekiranya esok tumbuh kembali. 

2022 


NIlai Biji Kopi 

Tembakan keras menyadarkan kita. Hantaman kuat menggundahkan jiwa. Anggrek bulan serupa purnama redup. Menutupi hati yang fana saat berpaling dalam ego. Kau menanam biji-biji kopi di hutan dan membiarkan anggrek berinkarnasi. 

Senja menjelang malam, orang-orang pun mencari birahi kenikmatan. Menyeruput racikan kopi penuh nafsu. Betapa nikmat! Membendung hama dan menghasilkan biji-biji pilihan terbaik. Tak peduli luka walau orang-orang bergantung padamu. Memberikan sejengkal harapan bagi mereka yang selalu bersandar. 

2022 


Keadilan Petani Kopi 

Orang-orang mencari kenikmatan 
saat kabar politik memenuhi ruang maya 
sedang para petani berpeluh dan berkeringatan 

Tak perlu kita menjadi insan 
yang rapuh dalam sepotong nisan. 
Tak perlu buaian, jauhkan berita sampah 
ke mana hidup ditaruhkan, tak perlu jengah 

Wahai para petinggi dan pesohor 
adakah belas kasih tuk para petani 
kepastian janganlah sia-sia belaka. 

Bibit-bibit kopi bak saksi perjuangan 
Tersaji bagi mereka yang duduk di sofa 
tak tahunya di rimba; para pemetik berjuang  
mencangkul dan menyemai sebelum tiba petang. 

2022 


Renungan dan Harapan 

Belenggu di bawah loteng 
anak-anak merintih keras 
raga telah usai berjuang 
masih menyambung napas. 

Tuhan mengingatkan kita 
tuk selalu mengasihi sesama 
menerima apa yang dititipkan 
dan meletakkan semua di kaki-Nya. 

Berilah aku pencerahan, Bapa! 
agar mata hati kembali tak gentas  
dan mulut yang ditutupi kain terlepas 
renungan dan harapan hanya bagi-Mu. 

2022 


Baca juga: Bayar Kopi dengan Puisi

Baca juga: Penyair Riau Raih Lomba Cipta Puisi Kopi

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

 

 

 

 

Yunia Sara Bilisedang menekuni dunia tulis-menulis, lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 2 Juni 2000. Sajak-sajak di sini merupakan karya yang terangkum dalam 50 peserta pilihan kurator pada Lomba Cipta Puisi dalam rangka Festival Pesona Kopi Agroforestry 2022. Lomba ini diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI bekerjasama dengan Media Indonesia. Kini, tercatat sebagai mahasiswi tingkat akhir pada program S1 Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pelita Harapan, Lippo Village - Tangerang, Banten.