Dari Stanislavski sampai Riantiarno 

MEMBACA perubahan zaman. Itulah yang memicu Teater Koma menghadirkan terobosan pementasan daring. Kelompok besutan penyair cum sutradara Norbertus Riantiarno, 72, itu menghadirkan program Digitalisasi Koma 2021 untuk menjangkau khalayak pecinta teater. 

Ini menjadi inovasi mutakhir Teater Koma demi tetap bisa berkarya. Ada tiga program pertunjukan kali ini, yaitu Perempuan Berkarya, Teater Koma x Karya Karsa, dan Seri Panakawan. Semuanya disajikan lewat Youtube Teater Koma sejak 27 November hingga 10 Desember ini. 

Program Perempuan Berkarya, misalnya, adalah bentuk empat pementasan pendek baru yang ditulis Norbertus dan disutradarai oleh empat anggota Teater Koma secara kuat, baik tema maupun dramaturginya. Ada unsur kehidupan di sekitar kita dalam masing-masing produksi. 

Mereka adalah Sari Madjid (lakon Padang Bulan), Palka Kojansow (lakon Arsena), Sekar Dewantari (lakon Arkanti), dan Rita Matu Mona (lakon Siti Seroja). Pada program Teater Koma x Karya Karsa, Norbertus, yang akrab disapa Nano, itu juga menghadirkan dua lakon lama, yaitu Demonstran dan Opera Kecoa

Proses digitalisasi memang penting dalam menjawab perubahan akibat pandemi. Program Digitalisasi Koma ini telah lebih dahulu dilakukan pada Oktober 2020. Saat itu, ada tiga lakon dipentaskan secara daring, yaitu Sie Jin Kwie Kena Fitnah (2011), Opera Kecoa (2016), dan Semar Gugat (2016). 

Belum lagi lakon daring lainnya, seperti Cinta Semesta, sebuah naskah Nano yang disutradarai Idries Pulungan pada Desember 2020, disajikan secara lebih humanis berbalut alegori. Idries lebih dikenal sebagai penata artistik. Ia sukses terlibat pada produksi Teater Koma ke-154 dengan lakon klasik Mahabarata: Asmara Raja Dewa pada 2018. 

Pada sebuah ajang bergengsi Future Theatre Festival di Moskwa, Rusia, 22-29 Februari 2020, misalnya, para pelaku teater, teoretikus, aktor, dan kritikus berkumpul. Saya hadir sebagai pendengar dan peserta. 

Ajang berlangsung sebelum terpaan pandemi di 'Tanah Tsar'. Para pekerja seni membincangkan dan mendiskusikan kondisi teater masa kini. Mereka pun memprediksi situasi perteateran di 2030 mendatang. 

Isu-isu yang terkuak pada Future Theatre Festival antara lain kelompok teater harus siap tampil di panggung tanpa penonton. Begitu pula sebaliknya, kelompok teater harus mampu mementaskan lakon di rumah-rumah penonton yang notabene dapat membayar seluruh ongkos produksi. 

Lalu, ada juga kajian kekinian dalam penerapan immersive VR art project dalam teater. Terutama penggunaan virtual reality (VR)/augmented reality (AR), 3D VR scenes, 3D 360 video, dramaturgy in 3D 360 video, serta interactive scenario

Semua sudah diterapkan di kota-kota seperti Berlin, Helsinki, Stockholm, Praha, dan Moskwa. Bukan hal yang mustahil dalam berkesenian. Michael Eickhoff, dramaturg dari Teater Dortmund, Jerman, yang turut hadir pun mengamini. Dia datang sebagai pemateri.

Salah satu kajian Eickhoff ialah teater di masa mendatang memiliki tantangan untuk berkolaborasi antarbenua. Keberadaan teknologi membuat semuanya lebih mudah. Namun, jaringan kerja juga harus lebih diperluas, seperti koneksi antara komunitas dan perusahaan teater itu sendiri. 

Melawan teori-teori abad lalu 
Dalam dunia teater, Antonin Artaud (1896-1948), seorang penyair, dramawan, sutradara, dan teoretikus teater Prancis, pernah mengabdikan hidup dan bekerja demi sebuah alasan ‘teater baru’ untuk seni, yakni tempat di mana ia berhak bekerja dan berhak untuk hidup. 

Artaud mengembangkan konsep teaternya sendiri yang disebut Teater Kruotic atau Teater Kekejaman. Istilah ‘kekejaman’ dalam Sistem Artaud memiliki makna yang secara fundamental berbeda dengan kehidupan sehari-hari. 

Dalam pengertian biasa, kekejaman diasosiasikan dengan manifestasi individualisme, sedangkan menurut Artaud, kekejaman adalah penyerahan secara sadar kepada kebutuhan yang bertujuan menghancurkan individualitas. 

‘Kekejaman’ adalah karakteristik dari setiap tindakan yang bermanifestasi pada kebaikan dan kekejaman. Di dunia yang termanifestasi, berbicara dalam bahasa metafisika, kejahatan tetap menjadi hukum permanen. 

Sebaiknya kebaikan hanyalah upaya. Oleh karena itu, kekejaman lain ditambahkan ke dunia yang termanifestasi. Dalam pemahaman Artaud, kekejaman adalah tindakan penciptaan. 

Menarik lebih jauh pandangan Artaud, maka ‘kekejaman’ teknologi informasi mau tidak mau harus diterima dan disesuaikan oleh setiap kelompok teater untuk tetap eksis. 

Perkembangan teater di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan teori-teori yang diterapkan ke dalam panggung teater. Salah satu yang banyak dijadikan rujukan ialah Sistem Stanislavski, teori seni pertunjukan dan metode teknik akting. 

Sistem ini dikembangkan oleh sutradara, aktor, guru, dan tokoh teater Rusia Konstantin Sergeyevich Stanislavski pada periode 1900 hingga 1910. Teorinya telah menjadi rujukan di perusahaan teater dunia. 

Untuk pertama kalinya, sistem memecahkan masalah pemahaman sadar tentang proses kreatif menciptakan peran, mengidentifikasi cara mengubah aktor menjadi gambar. Tujuannya ialah mencapai validitas psikologis penuh dari akting. 

Sistem ini didasarkan pada pembagian akting menjadi tiga teknologi: keterampilan (craft), kinerja (performance), dan pengalaman (experience). Craft ala Stanislavski didasarkan pada penggunaan klise yang sudah jadi. Penonton dapat secara jelas memahami emosi apa yang ada dalam pikiran aktor. 

Seni pertunjukan didasarkan pada performance dalam proses latihan yang lama. Itu membuat aktor mengalami pengalaman asli sehingga secara otomatis menciptakan bentuk manifestasi dari pengalaman tersebut. 

Pada pertunjukan itu sendiri, aktor tidak mengalami perasaan. Aktor hanya mereproduksi bentuk dan gambar peran eksternal yang sudah jadi. Terakhir, pengalaman dalam pertunjukan seni. Aktor mengalami pengalaman asli dalam proses akting dan memunculkan kehidupan sebagai gambar nyata di atas panggung. 

Untuk memadukan pandangan dua teoretikus dunia, baik Artaud maupun Stanislavski, maka dalam pemanfaatan media sosial untuk menjadi saluran pementasan teater, saya pikir akan terjadi perubahan. 

Pertama, ada jarak antara penonton dan aktor. Tidak ada lagi rasa kedekatan antara penonton dan aktor karena tidak melihat dan merasakan suasana ruang, juga mendapati magisnya gedung teater. 

Kedua, pengalaman sebagaimana teori Stanislavski, yakni penonton dapat secara jelas memahami emosi apa yang ada dalam pikiran aktor. Artinya, secara tidak langsung hal itu akan pudar dan hilang. Karena penonton dihadapkan ke layar monitor, bukan di panggung langsung. 

Dan, ketiga, pentas secara daring akan menghilangkan kedekatan aktor kepada penonton. Aktor ‘kehilangan arah’ karena tidak mendengar atau melihat reaksi penonton. Padahal, dalam teater, reaksi penonton itu menjadi kunci sukses tidaknya sebuah pementasan. 

Eksistensi di era digital 
Program Digitalisasi Koma 2021 menjadi hal yang penting, tapi bukan baru. Nano sebagai pendiri sekaligus tokoh kunci di Teater Koma pastinya memiliki pemikiran-pemikiran cemerlang demi tetap eksis di era pandemi. 

Tidak hanya di Indonesia, pentas daring selama pandemi sudah dilakukan oleh kelompok-kelompok teater di Moskwa, semisal Teater Sovremennik. Teater tersebut banyak mementaskan lakon secara daring. 

Meski demikian, warga lebih senang mengunjungi teater, seperti Bolshoi Theatre (Teater Besar) dan Maly Theatre (Teater Kecil) di pusat Kota Moskwa untuk menonton lakon secara lebih dekat. 

Kelebihan pementasan daring ialah dapat menjangkau penonton lintas benua. Namun, sebaliknya, lakon yang dipentaskan secara daring sejatinya menghilangkan fungsi teater itu sendiri. 

Ikatan emosional antara penonton dan aktor akan hilang karena mereka tidak menyaksikan langsung di gedung. Jika teater ditonton secara virtual, tidak ada bedanya menonton dokumentasi lakon-lakon abad silam. 

Sebut saja lakon yang ditulis sastrawan Rusia, Anton Chekhov (1860-1904). Karya-karyanya telah didigitalisasikan sehingga mudah ditemui. Antara lain; Tiga Bersaudari (1900), Kebun Cheri (1903), dan Paman Vanya (1896). Pementasan pun digarap oleh Stanislavski. 

Dokumentasi visual tersebut kini bisa ditonton secara daring dari mana pun. Untuk itulah, Teater Koma perlu memikirkan hal terbarukan, bukan sebaliknya malah memisahkan penonton dari aktor. Teater adalah pertunjukan yang ditonton secara langsung dengan pendekatan emosi, daya magis, dan interaksi. 

 

 

Iwan Jaconiah, penyair, kulturolog, wartawan Media Indonesia dan Metro TV.  Ia adalah penyair Indonesia pertama peraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival 'Chekhov Autumn-2019' di Yalta, Republik Krimea, Rusia. Kini, sedang menyelesaikan program S3 Kulturologi, Russian State Social University, Moskwa. Ilustrasi oleh Carol Covert (2021) dan pemeriksa aksara oleh Adang Iskandar.