Minggu 02 Mei 2021, 16:15 WIB

Nadirsyah Hosen: Pandemi Buka Peluang Sinergikan Agama dan Sains

Humaniora | Ramadan
Nadirsyah Hosen: Pandemi Buka Peluang Sinergikan Agama dan Sains

Dok PCINU Australia-New Zealand
Nadirsyah Hosen dalam Pengajian Muslim Indonesia di Canberra Australia, Minggu (2/5/2021).

Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand Professor Nadirsyah Hosen menegaskan pentingya muslim untuk bangkit dari pandemi. Nadirsyah mengajak semua pihak untuk mengintegrasikan agama dan sains, sebagai cara untuk bangkit dari wabah serta memberi kontribusi penting bagi peradaban. Demikian pernyataan Nadirsyah dalam Pengajian Muslim Indonesia di Canberra Australia, seperti dilansir dari keterangan resmi, Minggu (2/5) 

Nadirsyah juga mengajak kalangan pesantren untuk mengharmoniskan fikih tradisional dengan standar medis dan klinis. “Di tengah pandemi, saya beberapa kali menyampaikan ke beberapa pihak pesantren, bahwa ukuran dua kulah itu suci, itu secara fikih benar. Tapi apakah secara klinis itu higienis? Apakah itu suci secara klinis? Kan ini harus dikaji,” ungkapnya.  

Baca juga: Puasa Ajarkan Umat Kendalikan Diri dan Junjung Toleransi
 

“Bisakah kita menggabungkan, sebagai respons atas pandemi, bahwa syarat secara fikih terpenuhi, tapi secara alam dan lingkungan higienis itu harus terpenuhi. Maka orientasi pengajaran fikihnya itu diperkaya agar menyentuh bidang-bidang lain. Nah, contoh lainnya, kalau ada pas corona tahun lalu itu, yang kena Covid itu adalah mereka yang tidak menjaga wudunya, misalnya. Nah, ini kan kita repot, dibenturkan antara wudu dengan protokol kesehatan,” demikian jelas Nadirsyah, yang alumnus National University of Singapore dan University of Wollongong Australia. 

“Padahal, wudu itu untuk mensucikan dari hadats, bukan dari bakteri. Jadi bahwa ada orang yang jaga wudunya terus itu baik, secara fikih dan tasawuf itu baik. Nah, kan tidak cukup hanya itu, harus cuci tangan pakai sabun, setelah wudlu pakai hand sanitizer dan yang lain,” terangnya. 

Nadirsyah mengajak kita semua untuk berubah di tengah pandemi, menjadi pribadi yang lebih baik. “Kalau pandemi ini tidak membuat kita berubah, jadi kacau balau. Justru, pandemi mengajari kita, bahwa tidak semua hal harus kita benturkan, malah bisa kita rangkul dan perkaya untuk melengkapi keislaman kita.”

“Di tengah pandemi ini, yang membuat kita bertahan ini komunikasi, kita masih terus bisa survive. Kalau selama ini kita fokus hanya pada agama saja, kita umat muslim Indonesia lupa mengantisipasi apa yang terjadi,” ungkap Nadirsyah Hosen. 

Menurut Nadirsyah, diaspora muslim Indonesia di berbagai belahan dunia harus berpikir, bergerak selaligus berkontribusi untuk peradaban. “Nah, kalau kita ingin menyalakan pelita, bagaimana kontribusi para cendekiawan muslim, berpikirlah bagaimana menguasai akses. Ini yang harus kita pikirkan ke depan,” jelasnya dalam forum yang dimoderatori oleh Sitta Rosdaniah ini. 

Guru besar di Faculty of Law Monash University Australia itu menyampaikan pentingnya umat muslim untuk menganalisa pandemi dan mengambil pelajaran penting. 

Baca juga: Temukan Potensi Pelanggaran Siaran Ramadan, MUI Pantau Stasiun TV

“Kesempatan besar sekarang ini, peradaban Barat juga kolaps akibat pandemi. Apa yang bisa kita berikan? Pendekatan tradisi pesantren, yakni al-muhafadzah ala al-qadimi as-shalih, kita bisa melihat ke belakang. Di abad 14, ada pandemi bernama black death, wabah hitam. Pandemi itu sangat dahsyat dan mengubah wajah Eropa, juga mengubah eskalasi antara umat muslim dan Nasrani,” terang penulis puluhan buku bidang hukum dan syariah itu

“Maka, kita bisa pelajari ini, mengapa Eropa berantakan menghadapi pandemi. Juga, negara-negara seperti Jepang dan India juga berantakan. Nah, ciri masyarakat yang lentur seperti Indonesia itu modal besar untuk masa depan,” ungkap putra dari pakar hukum Islam Kiai Ibrahim Hosen ini. 

Pengajian muslim Canberra yang diselenggarakan rutin ini,dihadiri beberapa lulusan kampus-kampus Australia yang saat ini mengabdi di berbagai instansi. Di antaranya: Sitta Rosdaniah, Akmal Salim, Badrun Kurnia, Yon Machmudi, Sumardiyono Mardi, Farid Saenong, dan beberapa penggerak lain (H-3)

Baca Juga

MI/Haryanto.

Lima Macam Bacaan Salawat Nabi Muhammad

👤Nur Aivanni 🕔Sabtu 08 Mei 2021, 20:23 WIB
Membaca salawat Nabi memiliki banyak keutamaan, salah satunya bisa menenteramkan hati dan menghilangkan...
DOK Pribadi.

Selama Ramadan, Evalube Keliling Kota untuk Menebar Kebaikan

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 08 Mei 2021, 18:55 WIB
Dalam mengisi bulan suci yang penuh kasih dan berkah ini, Evalube kembali mengadakan kegiatan rutin tahunan My Ramadhan, My Charity seperti...
MI

Surah Hawamim, Sebutan 7 Surah dalam Alquran

👤Zubaedah Hanum 🕔Sabtu 08 Mei 2021, 14:20 WIB
KITAB suci Alquran memuat beberapa istilah untuk menyebut sekumpulan ayat yang memiliki tipologi sama. Salah satu contoh pengistilahan itu...

RENUNGAN RAMADAN

TAFSIR AL-MISHBAH

2021-05-09

JADWAL IMSAKIYAH
Minggu, 09 Mei 2021 / Ramadan 1442 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:31 WIB
Subuh : 04:41 WIB
Terbit : 05:53 WIB
Dzuhur : 11:49 WIB
Ashar : 15:11 WIB
Maghrib : 17:58 WIB
Isya : 18:53 WIB

TAUSIYAH