Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

Prajurit TNI UNIFIL Tewas di Lebanon, DPR Desak Pemerintah Tarik Pasukan

Rahmatul Fajri
30/3/2026 14:20
Prajurit TNI UNIFIL Tewas di Lebanon, DPR Desak Pemerintah Tarik Pasukan
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid (kanan) bersama Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Akbarshah Fikarno Laksono (kiri) bersiap mengikuti rapat kerja bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (15/9/2025).(. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/YU)

WAKIL Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono mendesak pemerintah melakukan evaluasi termasuk opsi penarikan pasukan setelah seorang prajurit TNI anggota UNIFIL tewas yang tergabung dalam misi perdamaian PBB di Lebanon.

Politikus Partai Golkar ini menilai insiden  tersebut harus menjadi momentum bagi pemerintah dan militer untuk mengoreksi keberadaan satgas TNI di Lebanon. Dave mempertanyakan apakah kehadiran prajurit di sana masih berfungsi efektif menjaga perdamaian atau justru hanya menjadi target serangan.

"Ini menjadi kesempatan untuk melakukan koreksi, apakah keberadaan prajurit kita ini benar-benar berfungsi atau tidak? Dengan adanya serangan yang terus berkelanjutan bahkan menewaskan prajurit kita, apakah keberadaan kita ini berguna menjaga perdamaian atau justru malah menjadi target serangan IDF (Israel Defense Forces)," kata Dave di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (30/3/2026).

Mengingat eskalasi konflik yang terus meningkat dan sulit diprediksi, Dave meminta pemerintah tidak memaksakan keberadaan personel TNI jika risiko keselamatan sudah di luar batas toleransi. Menurutnya, keselamatan jiwa prajurit harus menjadi prioritas utama di atas misi diplomatik manapun.

"Bilamana kondisinya memang tidak bisa dinyatakan aman, ada baiknya pemerintah melakukan penarikan ataupun evaluasi terhadap keberadaan prajurit kita di Lebanon," pungkas Dave.

Sebelumnya, seorang prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) dilaporkan gugur di tengah meningkatnya eskalasi situasi keamanan akibat konflik antara Hizbullah dan Israel.

Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan (Kemhan), Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengonfirmasi insiden yang terjadi di dekat Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3/2026) malam tersebut. Selain satu prajurit yang meninggal dunia, terdapat tiga personel lainnya yang menjadi korban luka. Personel TNI yang mengalami luka-luka dilaporkan telah dievakuasi dan sudah mendapatkan penanganan medis intensif.

"Kami mengonfirmasi adanya insiden di area penugasan UNIFIL Lebanon akibat eskalasi situasi keamanan. Terdapat korban dari prajurit TNI, yaitu satu orang meninggal dunia, satu dalam kondisi luka berat, dan dua luka ringan," ujar Rico melalui keterangannya, Senin (30/3/2026).

Berdasarkan laporan awal, insiden maut tersebut terjadi saat wilayah penugasan pasukan TNI terjepit di tengah saling serang artileri antara pihak-pihak yang bertikai. Rico menjelaskan bahwa saat ini proses investigasi dan klarifikasi lebih lanjut sedang dilakukan oleh pihak otoritas UNIFIL di lokasi kejadian.

"Perlu disampaikan bahwa insiden terjadi di tengah saling serang artileri, dan proses klarifikasi masih dilakukan oleh UNIFIL," tambahnya.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras ledakan di pos UNIFIL di Libanon Selatan yang menewaskan satu penjaga perdamaian asal Indonesia dan melukai penjaga lainnya, serta mendesak semua pihak menjamin keselamatan personel PBB. 

Dalam pernyataan resminya, Guterres menyampaikan kecaman tegas atas peristiwa tersebut yang dinilai mengancam keselamatan pasukan penjaga perdamaian PBB. "Saya mengutuk keras insiden hari Minggu yang menewaskan seorang penjaga perdamaian asal Indonesia dari UNIFIL di tengah permusuhan antara Israel dan Hizbullah. Seorang penjaga perdamaian Indonesia lainnya mengalami luka serius dalam insiden yang sama," katanya seperti dikutip laman X, Senin (30/3). (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya