Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Soroti Eskalasi Konflik Iran-Israel-AS, Tokoh Islam Dorong RI Mainkan Peran Penengah

M Ilham Ramadhan Avisena
05/3/2026 20:36
Soroti Eskalasi Konflik Iran-Israel-AS, Tokoh Islam Dorong RI Mainkan Peran Penengah
Presiden Prabowo Subianto duduk semeja bersama pimpinan PBNU, Muhammadiyah, dan MUI saat buka puasa bersama ormas Islam di Istana Negara, Jakarta.(Instagram Prabowo)

SEJUMLAH tokoh organisasi Islam di Indonesia menyoroti eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Mereka menilai Indonesia perlu terus mendorong upaya perdamaian sekaligus memainkan peran diplomatik yang lebih aktif di tengah situasi global yang memanas.

Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Jimly Asshiddiqie mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang telah menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Menurut Jimly, sikap tersebut tepat karena dilandasi nilai kemanusiaan dan prinsip yang dianut Indonesia. "Saya juga ingin menyampaikan apresiasi kemarin beliau sudah statement resmi, turut belasungkawa kepada pemerintah Iran atas wafatnya The Supreme Leader, itu di atasnya presiden," kata dia kepada pewarta di Istana Kepresidenan, Kamis (5/3). 

"Jadi sangat tepat, terlepas dari soal hubungan kita antar aliran agama, hubungan dengan Amerika, ini masalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Maka, tepat sekali presiden kemarin sudah menyampaikan turut berduka kepada seluruh rakyat Iran," lanjut Jimly. 

Ia juga menilai Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar yang berlandaskan Pancasila, tidak dapat menerima tindakan kekerasan terhadap pemerintahan yang sah. "Ini tidak bisa terima dengan pembunuhan biadab yang dilakukan oleh Amerika dan Israel kepada pemerintahan yang sah menurut hukum internasional," kata Jimly.

Meski demikian, Jimly menilai langkah diplomatik Indonesia tidak seharusnya berhenti pada penyampaian belasungkawa. Ia menyarankan pemerintah memanfaatkan hubungan baik dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memberikan tekanan diplomatik.

Menurut dia, Indonesia dapat menunda sebagian komitmen kerja sama tertentu, seperti penangguhan keanggotaan di Board of Peace (BoP) hingga konflik mereda dan ada kepastian terkait pengakuan kemerdekaan Palestina oleh Israel. Jimly juga menilai Indonesia berpotensi memainkan peran penting dalam menjembatani dunia Islam agar tidak terpecah oleh konflik geopolitik.

"Kita sudah saatnya berperan untuk bagaimana menjembatani potensi konflik adu domba dari Israel kepada dunia islam, bangsa Arab dengan bangsa non Arab, Turkiye, Persia atau Iran, Indonesia dan Pakistan, mudah-mudahan bisa merununjukkan dunia islam. Jangan nanti diadu domba," ujarnya.

Sementara itu Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf menilai fokus utama saat ini adalah menghentikan perang secepat mungkin. Menurutnya pengupayaan damai adalah satu-satunya cara untuk menghentikan perang. 

Yahya mengatakan, eskalasi kekerasan hanya akan membawa kerugian besar bagi semua pihak. "Karena kalau tidak begitu (damai dan berhenti perang), tidak ada yang selamat. Kita harus berhenti kekerasan dengan cara apa pun," ujarnya.

Ia juga menilai Indonesia dapat memanfaatkan berbagai forum atau kerja sama internasional yang dimiliki untuk mendorong perdamaian, salah satunya melalui BoP. Menurutnya, keanggotaan Indonesia di dalam BoP justru menjadi modal untuk mendorong perdamaian. 

"Apa pun yang sudah ada di tangan itu mari kita gunakan, kalau kita butuh menggali lubang tidak ada sekop, punyanya sendok, kita gali pakai sendok," pungkas Yahya. (P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya