Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Herman Nurcahyadi Suparman mendorong pemerintah untuk mereformasi model desentralisasi di Indonesia dari pendekatan simetris menjadi asimetris. Model yang berlaku saat ini dinilai tidak efektif karena menyeragamkan beban kewenangan dan formula fiskal ke seluruh daerah tanpa mempertimbangkan perbedaan kapasitas daerah.
Herman menjelaskan selama ini desentralisasi asimetris hanya dipahami secara sempit pada dimensi historis dan politik, seperti yang diterapkan di Papua, Yogyakarta, dan Aceh.
"Kita perlu memperluas gagasan asimetris ini ke isu fiskal dan kewenangan. Saat ini, dengan pendekatan simetris, sebanyak 32 urusan diserahkan semua ke daerah. Padahal, setiap daerah memiliki kapasitas yang berbeda-beda," ujar Herman saat ditemui di Jakarta, Kamis (12/2).
Herman mengusulkan agar penyerahan wewenang dari pusat ke daerah disesuaikan dengan potensi dan kemampuan riil daerah tersebut, baik dari sisi sumber daya manusia (SDM) maupun fiskal. Menurutnya, daerah seharusnya fokus pada urusan yang memang berkaitan dengan produk unggulan masing-masing, bukan dipaksa memikul beban administratif yang sama di seluruh sektor.
"Dengan pendekatan asimetris, kewenangan yang diserahkan adalah urusan yang sesuai kemampuan daerah. Apakah itu kemampuan keuangan atau kesiapan SDM-nya," tambahnya.
Selain soal kewenangan, Herman mengkritik sistem pembagian Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil (DBH), hingga Dana Alokasi Khusus (DAK) yang saat ini masih menggunakan formula seragam secara nasional. Ia menilai tidak adil jika kebijakan pengelolaan anggaran untuk daerah dengan kapasitas ekonomi tinggi disamakan dengan daerah yang masih tertinggal.
"Kalau sekarang pendekatannya simetris. Formula DAU untuk DKI Jakarta disamakan dengan Papua atau Aceh. Ke depan, formula fiskal ini jangan lagi seragam. Harus dibedakan antara satu daerah dengan daerah lainnya sesuai kebutuhan dan karakteristik wilayah," tegas Herman. (Faj/P-3)
Pilkada tak langsungĀ bertentangan dengan semangat demokrasi lokal dan tidak menyelesaikan persoalan biaya politik tinggi.
Daerah Otonom Baru (DOB) di Indonesia yang kerap mengutamakan kepentingan elit politik daripada kesejahteraan masyarakat.
Kepala Pusat Riset BRIN Mardyanto Wahyu Tryatmoko menilai wacana pilkada tidak langsung lewat DPRD tidak menjamin hilangnya politik uang dan justru berpotensi lebih mahal.
KPPOD menilai 25 tahun otonomi daerah menunjukkan kemajuan penurunan kemiskinan dan peningkatan IPM, namun tren resentralisasi dan ketergantungan fiskal ke pusat menguat.
Pertumbuhan ekonomi jauh lebih akseleratif jika dana itu dikelola melalui skema distribusi fiskal langsung ke daerah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved