Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

World Terrorism Index (WTI) 2025: Ancaman Teror Bergeser ke Ruang Digital dan Sasar Anak Muda

Irvan Sihombing
12/2/2026 13:47
World Terrorism Index (WTI) 2025: Ancaman Teror Bergeser ke Ruang Digital dan Sasar Anak Muda
Peluncuran dan diskusi WTI 2025 yang digelar Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia di Kampus Salemba, Rabu (11/2).(Dok. Istimewa)

POSISI Indonesia dalam World Terrorism Index (WTI) 2025 menunjukkan perbaikan dengan skor turun dari 18 menjadi 15 dan tetap berada dalam kategori low impact. Secara peringkat, Indonesia naik dari posisi 51 pada 2024 menjadi peringkat 45 pada 2025.  

Temuan tersebut disampaikan dalam peluncuran dan diskusi WTI 2025 yang digelar Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia di Kampus Salemba, Rabu (11/2).

Meski demikian, tim peneliti menjelaskan bahwa kenaikan peringkat tidak selalu mencerminkan peningkatan ancaman domestik, melainkan dipengaruhi dinamika relatif negara lain dalam indeks global.

Peneliti WTI, Muhamad Syauqillah dan Adhiascha Soemitro, mengungkapkan bahwa perbaikan skor Indonesia terutama dipicu penurunan jumlah insiden dan efektivitas langkah pencegahan sebelum aksi teror terjadi.

Namun secara global, laporan WTI 2025 menyoroti pergeseran pola terorisme ke ruang digital yang menyasar generasi muda. Fenomena ini dinilai mempercepat proses radikalisasi karena berlangsung cepat, masif, dan sulit terdeteksi pengawasan konvensional.

“Kami menemukan peningkatan radikalisasi dan rekrutmen anak muda melalui platform digital. Kelompok ekstremis memanfaatkan media sosial, pesan terenkripsi, hingga fitur percakapan dalam gim daring untuk menyebarkan propaganda,” ujar tim peneliti yang dilansir, Kamis (12/2/2026).

WTI 2025 juga mencatat eskalasi serangan di sejumlah negara Afrika, serta munculnya kecenderungan pengategorian geng dan kelompok kejahatan terorganisir sebagai organisasi teror. Kebijakan tersebut dinilai dapat memperkuat dasar hukum, namun berisiko disalahgunakan secara politik.

Dari sisi ideologi, serangan pada 2025 didominasi oleh etnonasionalisme atau separatisme, diikuti ideologi keagamaan, motif ekonomi yang belum teridentifikasi, serta kelompok kiri.

Kepala Densus 88 Antiteror Polri yang diwakili Kombes Mayndra Eka Wardhana menyatakan Indonesia mencatat nihil serangan teror selama tiga tahun terakhir. Eka menuturkan, aparat tetap melakukan tindakan preventive strike sebagai langkah pencegahan.

“Tahun 2025 menjadi titik balik migrasi besar aktivitas terorisme dari dunia nyata ke dunia maya, termasuk peningkatan rekrutmen anak dan pelajar,” ujarnya.

Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung RI, Prim Haryadi, menambahkan harmonisasi putusan pengadilan menjadi tantangan tersendiri pasca berlakunya KUHP 2023 dan KUHAP 2025 dalam penanganan perkara terorisme.

Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Ulta Levenia Nababan, mengingatkan agar indeks tidak dibaca semata sebagai peringkat, tetapi sebagai sinyal kebijakan untuk mitigasi risiko berbasis data.

Diskusi ditutup oleh Ketua Prodi Kajian Terorisme SPPB UI, Zora A. Sukabdi, yang menekankan kerentanan psikologis anak dalam fase pencarian identitas sehingga mudah terpapar narasi ekstremis, terutama di ruang digital yang minim pengawasan. (I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya