Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Komisi X Soroti Peran Inovasi dalam Penanganan Bencana

 Gana Buana
28/1/2026 19:43
Komisi X Soroti Peran Inovasi dalam Penanganan Bencana
Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi X, Selasa (27/1).(Dok. Awan BRIN)

KOMISI X DPR RI memberikan apresiasi terhadap kinerja riset nasional sepanjang tahun 2025 serta berbagai rencana strategis pada 2026. Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada Selasa (27/1), yang dinilai membawa semangat baru dalam penguatan inovasi dan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menyatakan, capaian BRIN memberikan semangat dan energi baru bagi Komisi X dalam mendorong pemanfaatan riset yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

“Kami melihat pemanfaatan riset sangat penting. Termasuk riset atau inovasi yang dihasilkan masyarakat, untuk kemudian mendekatkan bahwa riset dan inovasi bukan hal yang jauh dari persoalan yang perlu solusi cepat yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari,” ujar Hetifah.

Apresiasi tersebut sejalan dengan penguatan ekosistem riset dan inovasi yang tengah dikembangkan BRIN. Di antaranya melalui Rumah Inovasi Indonesia sebagai wadah kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta Rumah Inovasi Daerah yang mendorong pemanfaatan hasil riset sesuai kebutuhan dan potensi wilayah. Inisiatif ini diarahkan agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan secara nyata di tengah masyarakat.

Selain itu, BRIN juga menjalankan Agenda Riset dan Inovasi Nasional sebagai acuan bersama dalam penyusunan dan pelaksanaan riset, sekaligus memperkuat sinergi dengan kementerian, lembaga, perguruan tinggi, industri, dan pemerintah daerah. Upaya tersebut diperluas melalui program BRIN Goes to Stakeholders, mencakup BRIN Goes to Campus, BRIN Goes to School, dan BRIN Goes to Industry, guna memperluas jejaring, literasi, serta pemanfaatan iptek di berbagai sektor.

Meski demikian, Hetifah menegaskan bahwa evaluasi menyeluruh tetap diperlukan sebagai dasar perbaikan kebijakan dan penguatan kelembagaan ke depan agar lebih adaptif, inklusif, dan memberi dampak nyata bagi pembangunan nasional serta kesejahteraan masyarakat.

Ia juga menekankan perlunya penguatan keterlibatan BRIN dalam penanganan bencana melalui Task Force Tim Cepat Tanggap.

“Saya juga melihat keterlibatan BRIN melalui Task Force Tim Cepat Tanggap perlu diperkuat lagi. Ini masih panjang, Bu Esti mengunjungi beberapa daerah bencana, menunjukkan masih perlu solusi inovatif untuk percepatannya. Jadi kami masih mengandalkan BRIN untuk itu,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Komisi X dari Fraksi Demokrat Sabam Sinaga mengakui bahwa riset dan inovasi merupakan tantangan berat. Ia berharap kepemimpinan Arif Satria dapat menjadikan BRIN sebagai inkubator atau wadah riset dan inovasi yang semakin kuat.

Sabam juga mengapresiasi kolaborasi BRIN dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dalam menyusun Peta Jalan Riset untuk digunakan bersama. Menurutnya, langkah ini penting agar riset yang dilakukan tidak tumpang tindih, terutama yang berbasis pada delapan agenda riset nasional.

“Ini terkait dengan pembiayaan. Kalau ada overlapping pembiayaan, ini bukan hal yang tepat. Maka sudah benar ada rencana kemitraan dengan Kemdiktisaintek sehingga tidak ada overlapping penelitian. Sehingga pembiayaan Rp1 uang rakyat yang kita distribusikan untuk penelitian benar-benar efektif,” jelasnya.

Menanggapi berbagai masukan dalam RDP, Kepala BRIN Arif Satria menjawab sejumlah pertanyaan pimpinan dan anggota Komisi X, baik secara langsung maupun tertulis. Ia mengapresiasi pandangan, kritik, serta masukan yang disampaikan dan menilainya konstruktif.

“Karena kami merasa punya frekuensi yang sama. Bahwa iptek, teknologi, dan inovasi harus memiliki dampak dan kesejahteraan kepada masyarakat. Sehingga Indonesia Emas tidak hanya aspek ekonomi, tapi ekologi dan sosial bisa terjaga dengan baik,” kata Arif.

Di sisi lain, Arif menyampaikan bahwa Task Force Tim Cepat Tanggap pada hari yang sama telah menggelar rapat untuk penanganan bencana longsor di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Ia menyebut BRIN akan mengirimkan teknologi berupa drone dan Arsinum, sebagaimana telah dilakukan di lokasi bencana Sumatera dan Aceh.

“Terkait bencana 2026 kami menyiapkan early warning system untuk erosi dan banjir. Nanti akan ada pemetaan nasional daerah yang rawan, lalu di beberapa titik dipasang alat untuk nantinya bisa dilakukan antisipasi,” jelasnya. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya