Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Penanganan Autisme di Indonesia Terkendala Data: BRIN Dorong Intervensi Berbasis Lokal

Atalya Puspa    
01/4/2026 16:18
Penanganan Autisme di Indonesia Terkendala Data: BRIN Dorong Intervensi Berbasis Lokal
Ilustrasi, seorang anak dengan autisme.(Dok. Freepik)

PERINGATAN Hari Kesadaran Autisme Sedunia yang jatuh pada 2 April menjadi momentum krusial untuk menyoroti berbagai tantangan besar dalam penanganan autisme di Indonesia. Salah satu persoalan fundamental yang hingga kini belum terpecahkan adalah ketiadaan data nasional yang akurat dan terintegrasi.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rozana Ika Agustiya, mengungkapkan bahwa angka prevalensi autisme di Indonesia saat ini masih sebatas estimasi. Belum ada survei nasional komprehensif yang mampu memetakan kondisi riil di lapangan.

“Jika kita mengetahui jumlah dan distribusinya secara pasti, kita dapat merencanakan kebutuhan layanan, tenaga ahli, hingga alokasi anggaran dengan tepat. Tanpa data yang solid, kebijakan yang diambil berisiko tidak tepat sasaran,” ujar Ika dalam keterangan resminya, Rabu (1/4).

Tantangan Deteksi Dini dan Akses Layanan

Minimnya data nasional berbanding lurus dengan hambatan di lapangan. Ika mengidentifikasi beberapa kendala utama yang masih dihadapi keluarga dengan anak autisme, di antaranya:

  • Keterlambatan Deteksi Dini: Rendahnya pemahaman orang tua dan terbatasnya tenaga terlatih di fasilitas kesehatan tingkat dasar membuat banyak kasus baru teridentifikasi saat anak sudah memasuki usia sekolah.
  • Ketimpangan Akses Terapi: Layanan terapi wicara, okupasi, hingga intervensi perilaku masih terpusat di kota-kota besar, sehingga masyarakat di daerah sulit mendapatkan akses yang setara.
  • Layanan Tidak Terintegrasi: Orang tua sering kali harus berpindah-pindah antara dokter, psikolog, dan terapis karena belum adanya sistem layanan satu pintu yang terpadu.

Kondisi ini memberikan beban ganda bagi keluarga, baik dari sisi waktu maupun ekonomi. Meski sebagian layanan telah dijamin oleh BPJS Kesehatan, biaya operasional seperti transportasi dan pendampingan khusus tetap menjadi tanggungan mandiri yang memberatkan.

Urgensi Intervensi Berbasis Lokal

BRIN mendorong adanya pergeseran paradigma dalam penanganan autisme dengan mengedepankan model intervensi berbasis lokal. Menurut Ika, pendekatan dari negara maju tidak bisa diadopsi mentah-mentah tanpa penyesuaian dengan konteks budaya dan keterbatasan tenaga profesional di Indonesia.

“Pendekatan berbasis keluarga dan komunitas, serta pemanfaatan teknologi seperti aplikasi deteksi dini, merupakan solusi relevan untuk memperluas jangkauan layanan di tanah air,” jelasnya.

Penanganan autisme tidak hanya bertumpu pada medis. Mengingat sebagian besar waktu anak dihabiskan di rumah, orang tua memegang peran vital sebagai ko-terapis bagi perkembangan buah hati mereka.

Melawan Stigma Sosial

Selain kendala teknis dan medis, stigma sosial masih menjadi tembok besar. Anak dengan autisme sering kali dicap sebagai anak nakal, sementara orang tua dianggap gagal dalam mengasuh. Tekanan sosial ini kerap membuat keluarga menarik diri dari lingkungan.

Ika menegaskan bahwa tujuan intervensi bukanlah untuk "menyembuhkan" atau menyeragamkan anak, melainkan membantu mereka mencapai potensi terbaiknya. “Anak dengan autisme bukan anak yang kurang, mereka hanya berkembang dengan cara yang berbeda. Setiap anak memiliki potensi unik yang perlu dikenali dan dikembangkan,” pungkasnya.

Melalui integrasi data lintas sektor—mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga sosial—pemerintah diharapkan dapat menyusun kebijakan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan demi masa depan anak-anak spektrum autisme di Indonesia. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya