Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
UPAYA memperkuat ketahanan pangan Indonesia kini memasuki babak baru. Bukan lagi sekadar soal stok dan distribusi, tetapi juga bagaimana teknologi mampu menjaga kualitas pangan lebih lama dengan cara yang lebih efisien.
Inilah yang menjadi fokus kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Perum Bulog.
Alih-alih bergantung pada sistem pendingin yang boros energi, BRIN menghadirkan pendekatan berbeda. Teknologi penyimpanan ini, dinilai mampu memperpanjang usia pangan secara signifikan.
Kepala BRIN, Arif Satria, mengungkapkan bahwa inovasi ini telah terbukti mampu menjaga telur hingga dua bulan dan beras hingga dua tahun, tanpa pendinginan.
Menurutnya, teknologi tersebut bukan sekadar konsep laboratorium, melainkan sudah melalui berbagai uji coba pada sejumlah komoditas dengan hasil yang konsisten.
“Ini membuka peluang besar untuk efisiensi energi sekaligus menjaga kualitas pangan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Meski demikian, penerapan teknologi ini masih perlu disesuaikan dengan kebutuhan operasional Bulog, terutama untuk skala penyimpanan besar. Adaptasi menjadi kunci agar inovasi tersebut dapat berjalan optimal di lapangan.
Tak hanya berhenti pada penyimpanan, BRIN juga membawa solusi di sisi keamanan pangan. Melalui fasilitas iradiasi di Kawasan Sains dan Teknologi GA Siwabessy, Pasar Jumat, BRIN menawarkan metode pengamanan yang mampu memastikan produk bebas hama sekaligus memenuhi standar ekspor.
Teknologi ini dinilai penting, terutama dalam menghadapi tantangan global terkait standar keamanan pangan yang semakin ketat. Selain meningkatkan kualitas, proses ini juga mempercepat pemenuhan syarat ekspor.
Di sisi lain, Bulog melihat kolaborasi ini sebagai langkah strategis dalam transformasi perannya.
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa pengelolaan pangan tidak lagi bisa dilakukan dengan pendekatan konvensional.
“Ketahanan pangan hari ini menuntut efisiensi dan inovasi. Kami membutuhkan teknologi yang mampu menjaga kualitas sekaligus memperpanjang daya simpan,” katanya.
Apalagi, pemerintah tengah mendorong pembangunan infrastruktur pascapanen, termasuk rencana pembangunan 100 fasilitas baru dalam waktu dekat. Bulog berharap teknologi BRIN dapat menjadi bagian dari sistem tersebut.
Transformasi Bulog sendiri kini mengarah pada pengelolaan berbagai komoditas strategis, tidak terbatas pada beras. Hal ini membuat kebutuhan akan teknologi penyimpanan modern menjadi semakin mendesak.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa masa depan ketahanan pangan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga oleh kemampuan mengelola, menyimpan, dan mengamankan pangan dengan pendekatan berbasis inovasi. (Ant/Z-10)
Target utama BRIN adalah menghasilkan periset yang karyanya mampu membawa perubahan nyata dan diakui secara global.
BRIN dan FAO perkuat kolaborasi global untuk transformasi sektor peternakan berkelanjutan melalui riset, inovasi, dan teknologi berbasis sains.
Kedepannya, fasilitas ini akan diperkuat dengan antena parabola berdiameter 20 meter yang mampu bekerja pada rentang frekuensi tinggi hingga 50 GHz.
Pemerintah memperkuat kolaborasi riset untuk menopang target swasembada pangan nasional.
Banyak proyek eksplorasi Bulan saat ini melibatkan berbagai negara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved