Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Gus Yahya Tegaskan Siap Islah, namun Belum Bertemu Rais Aam PBNU

Andhika Prasetyo
25/12/2025 07:59
Gus Yahya Tegaskan Siap Islah, namun Belum Bertemu Rais Aam PBNU
Yahya Cholil Staquf(Antara)

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, kembali menegaskan komitmennya untuk melakukan islah menyusul munculnya dualisme kepemimpinan di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. Sikap tersebut ia sampaikan sebagai tindak lanjut atas keputusan Musyawarah Akbar para Mustasyar PBNU di Lirboyo, Jawa Timur, pada 21 Desember 2025.

“Telah diketahui juga bahwa saya pada kesempatan itu, sebagai tanggapan saya atas apa yang disepakati oleh para Mustasyar dan para peserta musyawarah, saya menyatakan bahwa saya siap mengupayakan Islah,” ujar Gus Yahya dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (24/12).

Ia menegaskan bahwa dirinya mematuhi hasil Musyawarah Akbar tersebut dan segera berusaha menjalin komunikasi untuk berislah dengan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar. Namun, hingga batas waktu yang ditetapkan dalam forum Lirboyo, sekurang-kurangnya 3×24 jam, belum terjadi pertemuan antara keduanya.

“Pada waktu di Lirboyo, saya juga menyatakan bahwa setelah tiga hari, 3x24 jam, saya akan melaporkan hasil upaya saya untuk dapat melakukan Islah dengan Rais Aam,” ujarnya.

Karena itu, Gus Yahya menggelar konferensi pers guna melaporkan langkah-langkah yang sudah ditempuh. Ia mengatakan telah mencoba membuka berbagai jalur komunikasi untuk meminta waktu bertemu, namun sampai kini belum memperoleh respons.

“Saya telah mencoba melalui berbagai jalur komunikasi untuk bisa mengkomunikasikan permohonan saya untuk menghadap itu, untuk memproses Islah itu kepada beliau. Tapi ya sampai sekarang, sekali lagi, saya belum mendapatkan jawaban dari Rais Aam mengenai hal itu,” katanya.

Menurutnya, sejauh ini ia hanya mengetahui adanya tabayun dari Rais Aam melalui surat dan video yang disiarkan sejumlah media. Surat tersebut, bertanggal 22 Desember 2025, juga diterima redaksi Kompas.com.

Dalam surat itu, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menjelaskan alasan pemberhentian Gus Yahya sebagai ketua umum dan penunjukan penjabat baru berdasarkan mekanisme organisasi. Di situ, Kiai Miftachul merinci sejumlah persoalan, termasuk terkait pelaksanaan Akademi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama, yang kemudian menjadi dasar keputusan tersebut. Ia juga memaparkan alasan ketidakhadirannya dalam Musyawarah Kubro Lirboyo yang menghasilkan seruan agar kedua pimpinan PBNU melakukan islah.

“Forum kultural tersebut tentu kami hormati, karena berangkat dari inisiatif KH Anwar Manshur selaku salah satu Mustasyar PBNU. Tetapi keputusan organisasi harus berjalan sesuai aturan dan mekanisme Jam'iyah. Semua harus kembali kepada mekanisme organisasi, karena di situlah marwah Jam'iyah Nahdlatul Ulama dijaga,” tulis Kiai Miftachul.

Dengan situasi ini, proses komunikasi antara kedua belah pihak masih dinantikan, sementara dorongan islah dari para kiai dan jamaah NU terus bergema di tengah dinamika internal organisasi. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya