Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
Mantan Bupati Sleman, Sri Purnomo, menjalani sidang perdana kasus dugaan korupsi Dana Hibah Pariwisata Tahun Anggaran 2020 di Pengadilan Negeri Yogyakarta, Kamis (18/12). Agenda sidang perdana diisi dengan pembacaan surat dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dalam dakwaan tersebut, JPU memaparkan dugaan pemanfaatan dana hibah pariwisata untuk kepentingan politik pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sleman 2020. Sejumlah nama disebut dalam konstruksi perkara, di antaranya Raudi Akmal, Kustini Sri Purnomo, dan Danang Maharsa yang kini menjabat Wakil Bupati Sleman.
Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Melinda Aritonang, dengan tim JPU terdiri atas Rachma Ariyani Tuasikal, Shanty Elda Mayasari, dan Wiwik Trihatmini. Jaksa menjelaskan, pada 2020 pemerintah pusat mengucurkan dana hibah pariwisata senilai Rp68,51 miliar kepada pemerintah daerah untuk menekan dampak pandemi covid-19 di sektor pariwisata. Penyaluran dana tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor KM/704/PL.07.02/M-K/2020 tertanggal 9 Oktober 2020.
Dana hibah itu dibagi dengan skema 70 persen untuk bantuan langsung kepada pelaku usaha hotel dan restoran, serta 30 persen untuk pemerintah daerah dalam penanganan dampak ekonomi dan sosial pandemi di sektor pariwisata.
Sebagai Bupati Sleman periode 2016-2021, Sri Purnomo disebut menerima alokasi dana hibah tersebut dan merealisasikannya melalui Peraturan Bupati Sleman Nomor 49 Tahun 2020 tentang Pedoman Pemberian Hibah Pariwisata, yang diterbitkan pada 27 November 2020.
Namun, sebelum regulasi itu ditetapkan, jaksa mengungkap bahwa pada Agustus–September 2020 Sri Purnomo diduga menyampaikan pesan kepada Kuswanto, Ketua DPC PDI Perjuangan Sleman saat itu, yang juga bagian dari tim koalisi pemenangan Pilkada Sleman.
Dalam dakwaan, Sri Purnomo mengakui terdapat dana dari Kementerian Pariwisata yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pemenangan Pilkada. Pesan tersebut kemudian diteruskan Kuswanto kepada 14 anggota DPC PDIP Sleman dalam sebuah pertemuan internal. Pertemuan itu membahas rencana penggunaan dana hibah pariwisata untuk mendukung pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Sleman nomor urut 3, yakni Kustini Sri Purnomo-Danang Maharsa.
“Dana hibah yang diberikan kepada pemerintah daerah dibagi dengan imbangan 70% dialokasikan untuk bantuan langsung kepada industri hotel dan restoran dan 30% untuk pemerintah daerah digunakan untuk penanganan dampak ekonomi dan sosial dari Pandemi covid-19 terutama pada sektor pariwisata,” kata JPU.
Jaksa juga mengungkap peran sejumlah pengurus partai politik. Sri Purnomo disebut memerintahkan Arif Kurniawan (Sekretaris DPD PAN Sleman) dan Dodik Ariyanto (Wakil Ketua DPD PAN Sleman) untuk memanfaatkan program hibah pariwisata sebagai sarana penjaringan suara bagi pasangan Kustini–Danang.
Dodik kemudian melakukan sosialisasi program hibah di wilayah Gamping, Mlati, Godean, Seyegan, Moyudan, dan Minggir, yang merupakan Daerah Pemilihan V, dengan menyampaikan bahwa pengajuan proposal hibah diharapkan diikuti dukungan politik kepada pasangan calon tersebut.
Selain itu, Raudi Akmal, anak kandung Sri Purnomo yang tergabung dalam tim pemenangan, juga disebut berperan. Raudi diduga memerintahkan Anas Hidayat, Ketua Karang Taruna Sleman 2020, untuk mengarahkan kelompok masyarakat mengajukan proposal hibah dan mengumpulkannya ke rumah dinas Bupati Sleman.
Atas perbuatannya, Sri Purnomo didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, serta Pasal 22 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. (E-3)
KPK memiliki waktu 1 x 24 jam untuk menentukan status hukum para pihak yang terjaring dalam operasi senyap tersebut.
Penyitaan ini dilakukan sebagai langkah krusial untuk membedah keterlibatan korporasi yang terjerat dalam kasus perintangan penyidikan
Ekrem Imamoglu, rival utama Presiden Erdogan, hadir di pengadilan atas tuduhan korupsi. Oposisi dan aktivis HAM sebut persidangan ini bermotif politik.
Penahanan dilakukan setelah penyidik mengantongi minimal dua alat bukti yang sah.
Peneliti Pusat Studi Antikorupsi menilai maraknya kasus korupsi kepala daerah akibat tak ada efek jera dalam penegakan hukum dan hukuman yang rendah
BUPATI Pekalongan Fadia Arafiq mengaku tak sadar telah melakukan tindak pidana korupsi. Ia mengatakan tak punya pengetahuan soal rasuah lantaran berlatar belakang sebagai penyanyi dangdut.
Hariyono ditangkap pada Jumat, 23 Januari 2026. Dalam kasusnya, terpidana itu terbukti membuat negara merugi Rp277,1 juta.
Kasus ini dilaporkan sejak Agustus 2025 dan telah melibatkan pemeriksaan terhadap 61 orang, termasuk pengurus dan atlet
Penyidik sejatinya mau menahan beberapa tersangka dalam kasus ini, beberapa waktu lalu. Namun, rencana itu dibatalkan karena alasan kesehatan pihak berperkaranya.
KPK masih ogah memerinci identitas mereka. Namun, tiga tersangka penerima berstatus penyelenggara negara dan satu sisanya staf pejabat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved