Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Tidore periode 1947–1967, Zainal Abidin Syah, pada upacara peringatan Hari Pahlawan, Senin, 10 November 2025. Sultan Zainal Abidin Syah dikenal sebagai tokoh yang berperan penting dalam memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), terutama melalui perjuangannya mengintegrasikan Irian Barat (kini Papua) ke dalam wilayah Indonesia.
Sultan Zainal Abidin Syah lahir pada tahun 1912 di Soasiu, Pulau Tidore, Maluku Utara. Ia merupakan Sultan Tidore ke-26 dan putra dari Dano Husain, cicit Sultan Ahmad Saifuddin Alting, serta ibunya bernama Salma. Ia memiliki tiga saudara, yaitu Amir, Halni, dan Idris. Sebagai keturunan kerajaan, Zainal Abidin Syah tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai tradisi, tanggung jawab, dan kepemimpinan.
Sultan Zainal Abidin Syah memegang tampuk kepemimpinan Kesultanan Tidore sejak 1947 hingga 1967. Pada masa kepemimpinannya, ia memainkan peran penting dalam menjaga kedaulatan Indonesia di kawasan timur, terutama dalam proses integrasi Irian Barat ke dalam NKRI.
Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1956 membentuk Provinsi Perjuangan Irian Barat dengan ibu kota sementara di Soa-Sio, Tidore. Keputusan ini diambil berdasarkan sejarah panjang hubungan Kesultanan Tidore dengan wilayah Papua sejak berabad-abad lalu.
Sultan Zainal Abidin Syah kemudian diangkat sebagai Gubernur sementara Provinsi Perjuangan Irian Barat melalui SK Presiden RI No. 142 Tahun 1956, dan pada 4 Mei 1962 diangkat menjadi Gubernur tetap berdasarkan SK Presiden RI No. 220 Tahun 1961. Dalam jabatannya, ia turut berperan dalam Operasi Mandala (Trikora) untuk pembebasan Irian Barat dari kekuasaan Belanda.
Sebagai gubernur, ia dikenal menggunakan pendekatan diplomasi dibanding kekuatan militer. Keputusannya yang tegas untuk menyatukan Irian Barat dengan Indonesia menunjukkan semangat nasionalisme yang tinggi serta memperkuat integrasi wilayah timur Indonesia ke dalam NKRI.
Selain dikenal sebagai pemimpin kerajaan, Sultan Zainal Abidin Syah juga dikenal sebagai sosok yang sederhana dan mencintai rakyatnya. Meski menempuh pendidikan modern di Belanda, ia tidak meninggalkan nilai-nilai kebangsaan dan tetap berpihak pada kepentingan rakyat Indonesia.
Menurut Rektor Universitas Negeri Jakarta, Komarudin, perjuangan Sultan Zainal Abidin Syah menjadi teladan bagi generasi muda karena mencerminkan sikap nasionalisme yang tinggi. “Ketika Bung Karno bertanya akan ke manakah Kesultanan Tidore, Sultan menjawab tegas: masuk NKRI. Jawaban itu menunjukkan semangat patriotisme sejati,” ujarnya dalam seminar nasional di UNJ.
Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono juga menyebut bahwa Sultan Zainal Abidin Syah dipilih Soekarno sebagai Gubernur Irian Barat karena kapasitas dan nasionalismenya yang kuat. Ia dikenal sebagai pemimpin moderat dan toleran yang mampu menjaga keberagaman di wilayah timur Indonesia.
Sultan Zainal Abidin Syah wafat pada 4 Juli 1967 di Ambon dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha. Pada 11 Maret 1986, jenazahnya dipindahkan ke Soa-Sio, Tidore, dan dimakamkan di kompleks pemakaman kerajaan Sonyine Salaka (Pelataran Emas).
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada tahun 2025 menjadi bentuk pengakuan negara atas jasa besar Sultan Zainal Abidin Syah dalam mempertahankan keutuhan dan kedaulatan NKRI.
Dengan semangat nasionalisme dan kepemimpinannya yang mengedepankan diplomasi, Sultan Zainal Abidin Syah menjadi simbol perjuangan dari wilayah timur Indonesia, sosok yang memperjuangkan persatuan tanpa meninggalkan nilai-nilai kebangsaan.
Sumber: Media Indonesia, Metro TV News
Gelar Pahlawan Nasional yang diterima kedua tokoh tersebut merupakan kebanggaan sekaligus pengingat bagi generasi muda untuk terus meneladani perjuangan mereka.
Bahlil Lahadalia menilai Soeharto layak mendapatkan gelar pahlawan nasional. Ia berharap pihak yang menolak dapat menerima keputusan pemberian gelar tersebut.
Keputusan Presiden Nomor 116/TK Tahun 2025 menetapkan dan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Bidang Perjuangan Bersenjata kepada Tuan Rondahaim Saragih pada 10 November 2025.
Paguyuban Persaudaraan Trisakti 12 Mei 1998 menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait keputusan pemerintah yang memberikan Gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh.
Pada Hari Pahlawan, 10 November 2025, Pemerintah Republik Indonesia kembali menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada dua tokoh penting dari kalangan NU
PEMERINTAH Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menggelar syukuran atas anugerah gelar pahlawan nasional kepada K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Marsinah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved