Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KEJAKSAAN Agung (Kejagung) menyerahkan sejumlah dokumen terkait kasus perintangan penyidikan (obstruction of justice) yang melibatkan Direktur Pemberitaan JAK TV Tian Bahtiar ke Dewan Pers hari ini, Kamis (24/4). Setelah menerima dokumen itu, Dewan Pers akan menilai ada atau tidaknya dugaan pelanggaran kode etik jurnalistik dalam pemberitaan.
"Puspenkum (Pusat Penerangan Hukum) meneruskan berbagai dokumen yang diminta oleh Dewan Pers. Dan pada hari ini, Puspenkum setelah menerima dari penyidik, kami teruskan ke Dewan Pers," jelas Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Harli Siregar di Kantor Dewan Pers, Jakarta.
Tian menjadi satu dari tiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka dengan sangkaan Pasal 21 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) oleh penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (JAM-Pidsus) Kejagung. Adapun dua orang tersangka lainnya berlatar belakang advokat, yakni Marcella Susanto dan Junaedi Saebih.
Ketiganya diduga merintangi proses hukum dengan membentuk opini publik lewat berita negatif yang menyudutkan kejaksaaan maupun JAM-Pidsus dalam menangani perakra korupsi tata niaga timah dan importasi gula, baik saat penyidikan maupun persidangan yang menyebabkan kejaksaan mendapat penilaian negatif dari publik ataupun perkara tidak terbukti di meja hijau.
Harli dan Ketua Dewan Pers Ninik Rahayu tak merinci dokumen apa saja yang diserahkan hari ini. Namun, Harli mengungkap totalnya sekitar 10 bundel dokumen. Kejagung menyilakan Dewan Pers untuk menilai dokumen-dokumen tersebut.
"Biar dulu Dewan Pers yang bekerja, tapi kami sudah sampaikan bahwa tentu Dewan Pers akan bekerja di ranahnya dan kami bekerja di ranah kami," terang Harli.
Dalam kesempatan yang sama, Ninik juga mengamini pernyataan Harli bahwa baik Dewan Pers dan Kejagung memiliki tugas dan fungsi masing-masing. Sampai saat ini, Dewan Pers menghormati proses hukum yang dilakukan oleh jajaran JAM-Pidsus.
Ninik menggarisbawahi, kewenangan Dewan Pers dalam masalah yang melibatkan Tian adalah menilai sebuah produk jurnalistik dan menentukan ada tidaknya pelanggaran kode etik atas kerja-kerja Tian.
"Kewenangan kami adalah sebatas etik, tapi itu penting ya, supaya kami sama-sama paham tentang itu dan masyarakat juga paham. Kewenangan etik itu terkait dengan konten berita maupun terkait dengan perilaku wartawan," papar Ninik. (H-4)
Tim penasihat hukum terdakwa Tian Bahtiar menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada satu pun bukti maupun keterangan saksi yang memperkuat dakwaan Jaksa Penuntut Umum.
KETUA Dewan Pers Ninik Rahayu memastikan akan meminta keterangan Direktur Pemberitaan JAK TV Tian Bahtiar. Tian kini sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus perintangan penyidikan
Dirpem Jak TV bisa dijerat dengan menggunakan UU Nomor 11/1980 tentang Pidana Suap. Tetapi bukan pasal perintangan proses penyidikan.
Kejagung menetapkan Direktur Jak TV Tian Bahtiar sebagai tersangka dinilai melangkahi kerja Dewan Pers
Kejagung menegaskan pihaknya tak anti dengan kritik lewat pemberitaan negatif atas penyidikan kasus korupsi di jajaran Jampidsus. Itu menanggapi soal penetapan tersangka Dirpem Jak TV
Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, menegaskan bahwa sinergi antarlembaga merupakan kunci utama agar setiap kasus yang menimpa insan pers dapat diselesaikan secara berkeadilan.
Putusan MK menegaskan bahwa wartawan tidak dapat serta-merta diproses secara pidana atau perdata atas karya jurnalistik dalam pengujuan UU Pers, Dewan Pers minta baca detil putusan MK
Dewan Pers mengeluarkan klarifikasi terkait beredarnya informasi mengenai pungutan biaya untuk penyebaran pamflet imbauan kewaspadaan penyalahgunaan profesi pers di sejumlah daerah.
Sepanjang 2025, isu kemerdekaan pers, profesionalisme jurnalistik, serta keberlanjutan ekonomi media menjadi tiga persoalan utama yang saling berkaitan.
Totok mengatakan Dewan Pers tidak dapat lagi memfasilitasi UKW dalam jumlah besar seperti tahun 2024 karena keterbatasan anggaran.
Edukasi tentang pemahaman terkait Artificial Intelligence (AI) ini dihadiri sekitar 100 orang, dan dikemas melalui forum Insight Talk Literasi Cerdas di Era Kecerdasan Artifisial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved