Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
LANGKAH penyidik Kejaksaan Agung untuk menyerahkan aset sitaan kasus dugaan korupsi PT Duta Palma berupa lahan sawit untuk dikelola perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai sudah sesuai koridor. Pengelolaan aset sitaan dalam proses penyidikan diperlukan agar nilainya tidak menyusut.
"Memang prinsip dasar dari barang sitaan itu harus dikelola agar terjaga nilainya, tidak menyusut, tidak rusak," kata peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada, Zaenur Rohman kepada Media Indonesia, Selasa (11/3).
Ia menegaskan, barang sitaan itu belum bersifat mutlak. Sebab, status barang tersebut nantinya akan diputuskan oleh majelis hakim pengadilan. Setidaknya, ada dua kemungkinan akan nasib barang sitaan itu, yakni dikembalikan kepada pemilik ataupun dirampas untuk negara.
Oleh karena itu, jika tidak dikelola dengan baik, barang yang sudah disita itu nantinya akan membuat rugi terdakwa selaku pemilik maupun negara, terlepas dari apapun putusan pengadilannya nanti.
"Sehingga memang yang namanya barang sitaan itu ada kewajiban untuk menjaganya," terang Zaenur.
Sebelumnya, Kejagung sudah menyerahkan 37 bidang tanah dan bangunan dengan total luas 221 ribu hektare milik sembilan korporasi terkait Duta Palma untuk dikelola oleh PT Agrinas Palma Nusantara (persero).
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM-Pidsus) Kejagung Febrie Adriansyah berharap, perusahaan pelat merah itu akan mengelola lahan hasil sitaan pihaknya dengan produktif dan memberikan manfaat ekonomi.
Kendati demikian, Zaenur menegaskan bahwa pengelolaan lahan sawit yang disita Kejagung itu tidak selamanya dilakukan oleh Agrinas Palma Nusantara. Sebab, masih ada kemungkinan majelis hakim mengembalikan aset tersebut kepada sembilan koperasi pemilik lahan kelapa sawit tersebut.
Adapun jika memang pada akhirnya dirampas untuk negara, jaksa selaku eksekutor harus menyerahkan terlebih dahulu hasil rampasan berdasarkan putusan pengadilan ke Kementerian Keuangan.
Terpisah, Badan Pemulihan Aset (BPA) Kejagung berhasil menyelesaikan aset barang rampasan negara dan barang sita eksekusi dari perkara dugaan korupsi dan pencucian uang pada PT Asuransi Jiwasraya (persero) sebesar Rp5,560 triliun lewat mekanisme lelang.
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Harli Siregar mengungkap, barang rampasan maupun barang sita eksekusi itu terdiri dari tanah, bangunan, kapal phinisi, mobil, saham, unit penyertaan rekadana, maupun saham. Hasil lelang dilakukan oleh BPA dengan perantaran Kantr Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).
"Hasil tersebut disetorkan ke kas negara," ujar Harli. (Tri/M-3)
Pemerintah bersiap melakukan intervensi strategis di sektor tekstil nasional menyusul kolapsnya PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), salah satu pemain terbesar industri tekstil.
CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan pemerintah tengah mengkaji pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil.
ANGGOTA Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Asep Wahyuwijaya menilai, inisiatif pemerintah untuk mendirikan BUMN tekstil merupakan langkah yang tepat dan strategis.
Kritik Prabowo itu khususnya ditujukan pada direksi dan komisaris perusahaan pelat merah yang mencatatkan kerugian namun tetap meminta tantiem atau bonus.
Fokus utama kajian dari Anisha adalah penegasan posisi BUMN sebagai entitas hukum terpisah (separate legal entity) yang tetap mengemban mandat konstitusional demi kemakmuran rakyat.
PRESIDEN Prabowo Subianto memberikan kritik keras kepada jajaran direksi badan usaha milik negara (BUMN) lantaran terlalu lama menerapkan praktik pengelolaan yang merugikan negara.
Pemerintah melalui Kejaksaan Agung baru-baru ini menyerahkan sejumlah aset rampasan negara senilai sekitar Rp6-7 triliun, termasuk enam smelter timah
Kejagung memanfaatkan aset barang rampasan negara dalam bentuk tanah yang selama ini terbangkalai untuk digunakan sebagai lahan produktif.
Pemanfaatan aset sitaan dari kasus korupsi dan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) masih terus dikaji oleh Badan Bank Tanah (BBT)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved