Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
EKONOM Senior dan Associate Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto menilai penarikan dana oleh Muhammadiyah dari Bank Syariah Indonesia tak memberikan dampak signifikan pada kondisi perusahaan. Sebab, pada umumnya bank memilik rencana cadangan untuk menambal dana yang keluar dari kelolaannya.
"Manajemen BSI pasti sudah memikirkan bagaimana kompensasi dana yang keluar itu. Bisa dari tempat lain, prospek nasabah lain untuk chip in dananya ke BSI," kata Ryan saat dihubungi, Kamis (6/6).
"Tapi memang secara keseluruhan tidak memengaruhi kesehatan BSI, relatif tidak memberikan tekanan yang serius. Manajemen BSI kita juga tahu itu bukan bankir sembarangan," tambahnya.
Baca juga : Muhammadiyah: Penarikan Dana dari BSI untuk Hindari Potensi Risiko
Ryan mengatakan, jika dana yang ditarik oleh nasabah atau deposan memiliki angka fantastis, bisa jadi itu akan mendorong kenaikan Loan to Depocit Ratio (LDR). LDR yang naik tinggi mengindikasikan adanya pengetatan likuiditas meski secara umum masih cukup cair.
"Secara umum memang tidak terpengaruh, tetap likuid. Tapi dengan adanya dana keluar ini LDR bisa naik, dan kalau naik kan menandakan likuiditas yang ketat," terangnya.
Namun dia meyakini penarikan dana yang dilakukan Muhammadiyah tak akan mengganggu kinerja maupun keuangan perusahaan. Penarikan dana itu juga disebut aktivitas bisnis yang umum terjadi.
Pasalnya penarikan dana dilakukan oleh entitas atau organisasi yang sejatinya merupakan pemilik dana tersebut. Ryan menilai, variasi penempatan dana oleh Muhammadiyah ke sejumlah bank syariah justru dinilai tepat sebagai upaya mitigasi risiko.
"Mungkin ini juga dalam konteks mitigasi risiko. Ditakutkan kalau hanya di satu bank, ketika bank itu bermasalah, akan berdampak pada dana itu. Itu hak pemilik dana atau deposan, apakah mau ditempatkan di satu bank atau lebih dari satu bank," tuturnya. (Z-8)
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatatkan kinerja yang solid sepanjang 2025. Per Desember 2025, perseroan menyalurkan pembiayaan sebesar Rp318,84 triliun.
Sepanjang 2025, BSI juga secara konsisten terus memberikan kontribusi untuk masyarakat melalui penyaluran zakat melalui program beasiswa pendidikan siswa berprestasi
NAIK kelas menjadi badan usaha milik negara (BUMN), kinerja BSI pada 2025 progresif jauh di atas industri perbankan sekaligus mengubah peta perbankan Indonesia.
Pada 23 Januari 2026, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) secara administratif telah menyandang status sebagai perusahaan Persero.
BSI menegaskan komitmen untuk menjalankan mandat tersebut dengan tetap mengedepankan governance dan kepatuhan terhadap ketentuan terkait.
Masalah dalam kasus korupsi ini adalah karena adanya pembagian kuota yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.
Perilaku seperti belanja berlebih, mengambil pinjaman, atau menghamburkan uang dijadikan sebagai cara tidak langsung mengurangi stres, kesepian, atau rasa tidak berdaya.
Cara membayar fidyah puasa dengan uang versi Hanafiyah adalah dengan memberikan nominal yang sebanding dengan harga kurma atau anggur seberat 3,25 kg untuk per hari puasa yang ditinggalkan.
Pertemuan itu diduga berkaitan dengan kasus dugaan korupsi dalam penyelenggaraan dan pembagian kuota haji di Kementerian Agama (Kemenag).
Keputusan merahasiakan sosok juru simpan ini diambil KPK karena tersangka dalam kasus ini belum ditetapkan dan diumumkan.
KPK khawatir penyidikan terganggu jika materi pemeriksaan sampai pengembalian uang dipaparkan ke publik secara gamblang, saat ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved