Rabu 05 Januari 2022, 14:45 WIB

Pukat UGM Minta Jaksa Perbaiki Tuntutan ASABRI

Tri Subarkah | Politik dan Hukum
Pukat UGM Minta Jaksa Perbaiki Tuntutan ASABRI

Antara/Muhammad Adimaja.
Pembacaan vonis kasus ASABRI di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (4/1/2022).

 

PENELITI Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Zaenur Rohman menilai tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) terhadap empat terdakwa kasus korupsi di PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI) masih terlalu rendah. Hal ini dibuktikan dengan putusan ultrapetita yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta, kemarin.

Dua bekas Direktur Utama ASABRI, yakni Mayjen (Purn) Adam Rachmat Damiri dan Letjen (Purn) Sonny Widjaja, dihukum pidana penjara 20 tahun. Putusan itu dua kali lebih tinggi dari tuntutan JPU yang hanya 10 tahun penjara.

Begitu pula hukuman 15 tahun penjara untuk mantan Kepala Divisi Keuangan dan Investasi ASABRI Bachtiar Effendi dan mantan Direktur Investasi dan Keuangan ASABRI Hari Setianto. Sebelumnya, JPU menuntut Bachtiar dan Hari masing-masing 12 dan 14 tahun penjara.

"Seharusnya dari awal JPU memang menuntut maksimal yang disediakan dalam peraturan perundang-undangan," kata Zaenur saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (5/1). "Syukurnya majelis hakim progresif, ultrapetita, melebihi apa yang diminta," sambungnya.

Zaenur menyebut putusan majelis hakim sudah tepat dan memenuhi rasa keadilan masyarakat. Sebab, rasuah di perusahaan pelat merah itu menyebabkan kerugian keuangan negara yang terbilang besar, yakni Rp22,788 triliun. Selain itu, korupsi ASABRI juga berdampak pada industri perasuransian dan menyebabkan para nasabah sebagai korban langsung sengsara.

Ia berharap agar putusan ultrapetita kepada empat terdakwa ASABRI dijadikan pembelajaran JPU dalam menuntut terdakwa lain. Beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan oleh JPU, katanya, antara lain tingkat keseriusan dari tindak pidana, kerugian yang diakibatkan, tingkat kesalahan yang dilakukan, serta dampaknya terhadap perekonomian nasional.

"Itu harus diperhitungkan benar-benar. Jangan lagi menuntut rendah," ujar Zaenur.

Adam, Sonny, Bachtiar, dan Hari menjadi empat terdakwa ASABRI pertama yang diputus di pengadilan tingkat pertama. Setidaknya masih ada empat terdakwa lain yang belum divonis.

Mereka ialah Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Heru Hidayat, Komisaris PT Hanson International Benny Tjokrosaputro, Direktur Utama PT Prima Jaringan Lukman Purnomosidi, dan Direktur Jakarta Emiten Investor Relation Jimmy Sutopo.

Benny bahkan belum menjalani sidang pembacaan tuntutan oleh JPU. Selain itu, terdapat empat tersangka ASABRI lain yang belum diseret ke meja hijau. Salah satunya ialah adik kandung Benny, Teddy Tjokrosaputro selaku Presiden Direktur PT Rimo International Lestari Tbk.

Baca juga: Sakit Kanker Usus, Eks Dirut ASABRI Justru Dihukum Ultra Petita

Sedangkan tiga tersangka lain yang masih dalam penyidikan Kejaksaan Agung ialah mantan Direktur Ortos Holding Ltd Edward Seky Soerjadjaya, mantan Komisaris Utama PT Sinergi Millenium Sekuritas Bety, dan Komisaris PT Sekawan Intipratama Rennier Abdul Rachman Latief. (OL-14)

Baca Juga

Dok. Pribadi

Kornas Ganjarist Sebut Loyalitas Ganjar Pada PDIP tak Perlu Diragukan

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 24 Juni 2022, 22:43 WIB
Kris menambahkan sebagai kader PDIP, sosok Ganjar adalah sosok yang setia pada amanat partai dan tentunya akan memegang teguh dan...
ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Gerindra dan Demokrat Buka Peluang Kerja Sama

👤Putra Ananda 🕔Jumat 24 Juni 2022, 22:05 WIB
Prabowo mejelaskan bahwa pimpinan parpol memang memiliki tanggung jawab untuk saling menjalin komunikasi untuk menghadapi tantangan bangsa...
Dok PSI

PSI kembali Ingatkan Elite Politik Soal Capres: Ojo Kesusu

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 24 Juni 2022, 21:58 WIB
Giring kembali mengingatkan dampak buruk pandemi masih dirasakan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya