Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYINTAS terorisme Hendi Suhartono ikut mengomentari pernyataan Fadli Zon perihal pembubaran Densus 88 Aniteror Polri. Menurut dia, jika tak ada Densus 88, tidak ada satuan khusus yang memberikan pendampingan dan mencarikan solusi kepada mantan napi terorisme.
"Kalau Densus enggak ada, orang-orang seperti saya dulu, orang-orang yang akal siapa yang mau pegang, siapa yang mau tandem. Karena memang harus ada satuan khusus," ucap Hendi dalam diskusi yang digelar Jakarta Journalist Center bertajuk Kenapa Densus 88 Penting, Jumat (15/10)
Ia mengatakan bahwa ketika keluar di dalam lembaga pemasyarakatan (LP), para narapidana kasus terorisme bisa saja kembali bergabung menjadi radikal jika tak ada pendampingan dan pemberian solusi yang diberikan Densus 88.
Baca juga: Fadli Zon Minta Densus 88 Dibubarkan, Polri: Tetap Bekerja
"Siapa yang menanggani mereka mereka (napiter) yang kembali nakal. Karena di dalam ini, orang itu dapat ilmu seperti sekolah, yang tadinya cuma bisa satu setelah dia bergabung bisa lima ilmunya. Siapa yang menangani ini. Yang pulang bareng saya saja itu dua bulan, setelah pulang bisa berhasil lagi, siapa yang mau menangani kalau Densus enggak ada," ucap Hendi.
Hendi pun menceritakan Kepala Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri Irjen Martinus Hukom yang pernah membantunya di awal-awal menjalani kehidupannya seusai bebas.
Martinus kata Hendi bahkan membantu dari mulai pembangunan TK hingga pendirian Yayasan Hubul Wathon Indonesia.
"Setelah TK diresmikan. Ketika itu Pak Martinus memberikan tantangan kepada saya, 'Bisa enggak membuat wadah orang-orang seperti kamu bisa sejahtera?' Setelah tantangan beliau tadi, saya kumpulkan teman-teman, kita buat Yayasan Hubul Wathon, Cinta Tanah Air," kata Hendi
"Alhamdulillah disupport beliau (Martinus) pendirian yayasan ini. Beliau tidak hanya istilahnya menanam, tidak, tapi kita dipantau."
Bahkan ia mengingat pernyataan Martinus yang ingin menyejahterakan para mantan napiter. "Saya ingat betul yang pak Martinus katakan, 'Tolong selama saya jadi Kadensus, saya ingin menyejahterakan orang-orang yang pernah saya tangkap'. Selalu saya ingat, syarat jangan nakal. Dia itu tidak terlalu mempermasalagkan apakah dia ISIS, orang ini apa yang penting jangan 'nakal."
Karena itu ia merasakan bantuan Densus 88 sehingga dirinya kembali diterima dengan masyarakat dengan baik. "Saya mengalami sendiri saat kembali ke masyarakat mereka acuh, karena itu di hati ada dendam. Kalau cuma dipantau lembaga negara enggak akan bisa. Sakit hati kita, saat berbuat baik, diomongin sakit hati. Inilah faktor makanya ada yang kembali ke garis keras," kata Hendi
Ia pun menilai bahwa cara yang dilakukan Kadensus bukanlah menyentuh fisik, melainkan mengunakan hati. "Bukan badan kita tapi hati kita disentuh, dengan hati cepat selesai. Yang saya saya lihat terutama Pak Martinus itu melihat sesuatu tidak hanya dari satu sisi tapi lebih kedepankan hati, dari hati semua akan bisa jadi lebih baik," katanya.
Ia pun menilai bahwa kerja Densus 88 selama ini tidak setengah hati. "Dari itu kita sudah menilai bahwa selama ini Densus tidak setengah hati, tidak dibuat langsung ditinggal sampai dipantau, bahkan sampai kita bisa mandiri. Alhamdulillah kita bisa mandiri," tandasnya. (J-2)
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, diharapkan program ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan mendukung proses deradikalisasi yang lebih holistik.
Ratusan mantan narapidana terorisme (napiter) mengikuti upacara bendera merah putih memperingati hari Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indoensia ke-79 tahun
Komjen Rycko Amelza Dahniel membeberkan tantangan yang dihadapi dalam menghadapi kasus terorisme tahun 2024.
SEMBILAN narapidana kasus terorisme (napiter) di Lapas Kelas I Surabaya mengucapkan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Kamis (18/1).
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut ada 146 tersangka teroris ditangkap Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror sepanjang 2023.
Kepala BNPTKomisaris Jenderal Ryzko Amelza Daniel mengatakan bahwa pencegahan terorisme merupakan kewajiban semua pihak agar saling memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa.
Hasilnya, enam anggota satuan pelayanan markas Mabes Polri ditetapkan sebagai terduga pelanggar atas nama Brigadir IAM, Bripda JLA, Bripda RGW, Bripda IAB, Bripda BN, Bripda AM.
Polri tidak ingin terburu-buru menetapkan regulasi baru yang diberlakukan secara nasional.
Polri mengakui ada anggota yang Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Anggota tersebut langsung diberikan sanksi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) atau dipecat.
Ulama kondang Ustad Abdul Somad menegaskan pentingnya menjaga toleransi beragama di Indonesia. Hal itu disampaikan saat UAS, sapaannya, memberikan ceramah di Mabes Polri
Bareskrim Polri menetapkan 9 tersangka kasus pembobolan rekening dormant senilai Rp204 miliar di salah satu bank pemerintah Jawa Barat.
Polri tangkap 295 anak dalam kasus kerusuhan di 15 Polda. Sebanyak 68 anak tidak diproses hukum, sementara ratusan pelaku dewasa tetap disidik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved