Kamis 10 Juni 2021, 14:44 WIB

Pahami Firli Cs, Lemhanas Ikut-ikutan Pertanyakan Komnas HAM

Mediaindonesia | Politik dan Hukum
Pahami Firli Cs, Lemhanas Ikut-ikutan Pertanyakan Komnas HAM

MI/Susanto
Gubernur Lemhannas Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo

 

GUBERNUR Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Letjen TNI Purn Agus Widjojo mengingatkan agar lembaga negara, seperti KPK dan Komnas HAM untuk membuka komunikasi untuk menyelesaikan polemik Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) bagi pegawai KPK.
 
"Sebetulnya semua itu bisa diselesaikan sebelumnya dengan komunikasi yang lebih baik di antara kedua lembaga," kata Gubernur Lemhannas saat ditemui di Tugu Proklamasi, Jakarta, hari ini.
 
Menurut Agus, masing-masing lembaga perlu introspeksi dan mengadakan review tentang apa fungsi, peran, dan kewenangannya pada lembaga tersebut.
 
"Dalam hal ini tentu KPK, dan mungkin juga bagaimana pun juga Komnas HAM itu tidak jauh dari fungsi pemerintahan. Coba dibuka komunikasi, jangan serta merta kemudian dilihat dari perbedaannya, dilihat dari perbedaan pendekatan, kepentingan dari perannya, dari fungsinya, yang itu dilihat juga dalam pendekatan yang membedakan," paparnya.

Baca juga: Hakim Makin Bandel, Laporan Pelanggaran Etik Naik 25%
 
Menurut Agus, meskipun lebih mudah dilihat dari sisi perbedaan antar lembaga, namun menurut Agus lebih baik dilihat dalam fungsi pemerintahan.
 
Agus pun mempertanyakan kepentingan Komnas HAM untuk memanggil pimpinan KPK. Agus juga mengatakan bisa memahami kenapa Ketua KPK Firli Bahuri tidak memenuhi panggilan Komnas HAM.
 
Hal itu lantaran bukan pimpinan KPK yang melakukan seleksi tersebut melainkan seleksi itu dilakukan sejumlah lembaga secara objektif.
 
"Jadi kembali, Ketua KPK itu hanya melaksanakan Undang-Undang. Tidak menentukan lulus atau tidaknya, dan tidak membuat baterai-baterai persoalan yang ada di tes tersebut," kata Agus.
 
Indikator-indikator tes, tentang kriteria apa yang di tes dan bagaimana seseorang lulus atau tidaknya TWK, kata Agus, di susun oleh lembaga lain, yang merumuskan pertanyaan tes tersebut.
 
"Itu tidak ada kaitannya dengan Ketua KPK atau KPK itu sendiri. Jadi itu standar untuk semua lembaga sebetulnya itu berlakunya," ucapnya.
 
Sebanyak 75 pegawai KPK yang tak lolos TWK mengadu ke Komnas HAM pada 24 Mei 2021. Dalam aduannya, mereka melampirkan laporan yang berisikan delapan hal yang dinilai sebagai bentuk dugaan pelanggaran HAM.(Ant/OL-4)

Baca Juga

Antara

Ini Hasil Pembicaraan Presiden dengan Anies

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Selasa 15 Juni 2021, 20:12 WIB
Presiden mengingatkan lagi agar Jakarta bisa meningkatkan pencapaian target vaksinasi covid-19 hingga terciptanya 'herd immunity'...
MI/Ramdani

Komnas HAM Pertanyakan Pemerintah Hanya Revisi 4 Pasal UU ITE

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Selasa 15 Juni 2021, 19:50 WIB
Komnas HAM menyebut masih banyak pasal lain yang menjadi sumber masalah atas jaminan kebebasan berekspresi dan...
Antara

Relokasi Gereja Yasmin belum Menyelesaikan Sengkarut

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 15 Juni 2021, 18:57 WIB
"Akta perjanjian hibah tanah tersebut tidak dapat menganulir putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap," ujar...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Pengelola Nakal di Hunian Vertikal

TREN masyarakat tinggal di hunian vertikal terus meningkat dalam lima tahun belakangan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya