Sabtu 20 Februari 2021, 23:08 WIB

Pengamat: Rizieq Shihab Bisa Digugat Perdata

Pengamat: Rizieq Shihab Bisa Digugat Perdata

ANTARA/ARIF FIRMANSYAH
Rizieq Shihab menyapa ribuan jamaah di Puncak, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (13/11/2020).

 

PENGAMAT hukum sumber daya alam Universitas Tarumanagara Ahmad Redi menyebutkan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII dinilai bisa menggugat perdata Rizieq Shihab terkait dugaan penggunaan lahan tanpa izin di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Ahmad di Jakarta, Sabtu (20/2), mengatakan PTPN bisa menuntut Rizieq secara perdata sesuai Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

"Sangat bisa, selama memang ada kerugian yang diterima pihak tertentu, dalam hal ini PTPN," kata Redi.

Pasal 1365 KUH Perdata menyebutkan bahwa setiap perbuatan melawan hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.

Redi menilai gugatan perdata tidak akan mengganggu proses hukum pidana. "Keduanya bisa jalan bersamaan," kata dia lagi.

Sejauh ini, langkah hukum yang sudah diambil PTPN VIII, yakni melaporkan Rizieq ke Bareskrim Polri. Adapun laporan polisi yang dibuat PTPN VIII itu teregister dengan nomor LP/B/0041/I/2021/Bareskrim 22 Januari 2021, dengan terlapor Muhammad Rizieq Shihab.

Di sisi lain, PTPN VIII bakal mengambil alih lahan yang ditempati Pondok Pesantren Agrokultural Markaz Syariah yang diasuh Rizieq di Kecamatan Megamendung.

Baca juga: Polri Tetap Tangani Penggunaan Lahan PTPN VII Oleh Rizieq Shihab

Sekretaris Perusahaan PTPN VIII Naning Diah Trisnowati mengatakan perusahaan berupaya menyelamatkan aset-aset negara, termasuk lahan berstatus hak guna usaha (HGU) di lahan pesantren itu.

Menurut Naning, langkah ini diambil untuk mengoptimalkan lahan yang masih produktif untuk dikelola, sehingga memberikan hasil keuangan kepada negara.

Pakar pertanahan dari Dewan Nasional Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Iwan Nurdin menilai FPI tidak berhak mendapat ganti rugi jika lahan yang ditempati Pondok Pesantren Markaz Syariah diambil oleh PT PTPN VIII.

Sebab, dia menilai FPI melanggar banyak undang-undang terkait keberadaan dan berdirinya Pondok Pesantren Alam Agrokultural Markaz Syariah di atas kavling seluas kurang lebih 31,91 hektare. Terutama UU Perkebunan mereka langgar dan ada denda yang kurang lebih Rp4 miliar kalau melakukan penyerobotan tanah perkebunan yang telah memiliki HGU.

Dia menilai akad jual beli tanah yang dilakukan tidak dapat dibenarkan menurut hukum Indonesia. Karena, pemegang hak atas tanah adalah PTPN VIII, dengan demikian, akad terkait lahan harus dilakukan oleh PTPN VIII.       

Bahwa akadnya hanya pengalihan penggarapan juga tidak bisa diterima. Sebab, fakta di lapangan menunjukkan FPI tidak hanya menanami lahan dengan aneka tumbuhan namun juga membuat aneka bangunan.

Dia menambahkan HGU yang dimiliki PTPN VIII diperuntukkan bagi usaha perkebunan, pertanian, peternakan, tambak perikanan. Sementara untuk bangunan, maka sertifikat dalam bentuk hak guna bangunan (HGB).       

"Harusnya untuk perkebunan bukan untuk pendidikan dan bangunan," ujarnya. (R-3)

Baca Juga

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

KPK Periksa Tersangka dalam Dugaan Korupsi Nurdin Abdullah

👤Cahya Mulyana 🕔Selasa 09 Maret 2021, 00:41 WIB
"Tersangka NA, ER dan AS masing-masing diperiksa tim penyidik KPK dalam kapasitas sebagai saling menjadi...
Dok. TNI AD

211 Prasis Dikmaba Dilantik jadi Prajurit TNI AD

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Selasa 09 Maret 2021, 00:06 WIB
Dalam pendidikan ini, lanjut Putranto, seluruh calon anggota ikut latihan pembentukan dasar menjadi seorang bintara untuk wanita Angkatan...
Antara

Polri Belum Menindaklanjuti Laporan Kerumunan KLB Demokrat

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Selasa 09 Maret 2021, 00:04 WIB
"Bukti-bukti sudah kami serahkan dan saat ini masih dalam tahap koordinasi dengan para pimpinan yang ada di Bareskrim Mabes...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya