Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
HERMAWAN Susanto (HS) melayangkan permohonan penangguhan penahanan menjadi tahanan kota ke penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya.
Permohonan tersebut dilayangkan dengan alasan dalam waktu dekat dirinya yang pernah mengancam memenggal kepala Presiden Joko Widodo itu akan menikah.
"Jadi hari ini kita menyampaikan surat permohonan penangguhan penahanan atas nama Hermawan Susanto, karena HS ini kan bulan ini rencananya akan menikah," kata Kuasa Hukum Hermawan, Sugiarto, di Polda Metro Jaya, Senin (10/6).
Sugiarto mengaku, keluarga ingin penahanan HS ditangguhkan. Namun, jika tidak dikabulkan, ia berharap kliennya dapat diberikan kelonggaran untuk menikah di area Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dittahti) Polda Metro Jaya.
"Kalau tidak memungkinkan (dikabulkan penangguhan), kita mohon diberikan tempat dan waktu agar ijab kabul itu bisa dilaksanakan di (rumah) tahanan," ujar Sugiarto.
Baca juga: Tidak Ada Maaf bagi Hermawan
Jaminan dalam penangguhan penahanan itu yakni ayah kandung Hermawan, Budiarto.
"Secara hukum penangguhan penahanan adalah bapaknya yang menjadi jaminan," sebut Sugiarto.
Budiarto berharap anaknya dapat ditangguhkan. Dengan demikian, pernikahan tetap dapat dilangsungkan dengan baik dan lancar.
"Saya berharap dikabulkan. Rencana tanggal nikah sih belum tahu, nanti tergantung ini kalau diizinkan ya menyesuaikan saja. Insyaallah ini nanti kalau dikabulkan ya kita di rumah (nikah), kalau enggak dikabulkan tetap dilaksanakan di Polda," beber Budiarto.
Sementara itu, terkait surat permohonan maaf yang sudah dilayangkan ke Presiden Jokowi disebutkan belum mendapatkan jawaban. Surat itu dikirim ke presiden Selasa, 21 Mei 2019.
"Sampai hari ini kita minta jawaban dari yang mulia Pak Presiden Joko Widodo, jadi kita juga masih menunggu. Tapi apa pun tentu kita siap lah, kita menghadapi proses hukum dan kedua kita hormati proses hukum ini," pungkas Sugiarto.
Sebelumnya, video Hermawan berteriak mengancam Jokowi beredar di media sosial.
Dalam video dia menyebut, 'Siap penggal kepalanya Jokowi, Insyaallah Allahu Akbar. Siap penggal kepalanya Jokowi. Jokowi siap lehernya kita penggal dari Poso, Demi Allah'.
Buntut ucapannya, Hermawan dilaporkan ke polisi dan ditangkap di wilayah Parung, Kabupaten Bogor, 12 Mei 2019 pagi. Pada Selasa, 14 Mei 2019, Hermawan resmi ditahan. Hermawan ditahan untuk 20 hari ke depan.
Hermawan terancam pasal berlapis, yakni Pasal 104 KUHP tentang Tindak Pidana Kejahatan terhadap Keamanan Negara dan Pasal 27 ayat 4 juncto Pasal 45 ayat 1 Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Teknologi Informasi (ITE).
Dia diancam pidana mati atau penjara seumur hidup atau penjara paling lama 20 tahun. (Medcom/OL-2)
PRESIDEN ke-7 RI Joko Widodo dicecar pertanyaan penyidik Polda Metro Jaya dengan 10 pertanyaan mendalam selama 2,5 jam di Mako Polresta Surakarta, Rabu (11/2).
Walaupun belum tercatat sebagai kader, sikap politik Jokowi ini dinilai sebagai langkah untuk melengkapi legasinya.
Pernyataan Jokowi yang siap “berjuang mati-matian” untuk PSI sebagai sinyal kecemasan dan rasa terancam di tengah dinamika politik pasca-Pilpres.
Pernyataan-pernyataan Jokowi dalam pidatonya di Rakernas PSI memiliki makna politik yang kuat, meskipun secara formal Jokowi belum bergabung ke PSI.
Upaya itu untuk mendongkrak elektabilitas PSI di Pemilu 2029. Mengingat, saat ini PSI masih belum bisa lolos ke parlemen di Senayan.
Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep merespons ajakan “habis-habisan” Jokowi dalam penutupan Rakernas PSI di Makassar. PSI ditargetkan jadi partai besar di Pemilu 2029.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved