Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
POLDA Metro Jaya (PMJ) berhasil menangkap pria bersorban hijau yang mengancam akan membunuh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wiranto ketika kerusuhan 21-22 Mei lalu.
Kasubdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Sapta Maulana membenarkan pihaknya sudah menangkap pelaku pengancam Presiden Jokowi dan Wiranto setelah viral di media sosial.
“Iya benar, pelakunya sudah ditangkap,” kata Sapta saat dihubungi, Senin (10/6).
Sebelumnya, polisi sempat mengamankan pria yang mirip dengan pelaku bernama Teungku Yazid. Namun, yang bersangkutan bukanlah pelaku sebenarnya yang ada dalam video tersebut.
Baca juga: Pengancam Presiden Dijerat Pasal Makar, Jaksa Agung: Sudah Tepat
Pihak kepolisian pun mengakui adanya prosedur salah tangkap dan segera menangkap pelaku dalam video viral tersebut.
“Ada orang yang dianterin sama ibunya, sama orangtuanya ke sini. Iya betul (salah tangkap),” tutur Sapta Maulana.
Sapta menjelaskan pelaku sesungguhnya beridentitas Muhammad Fahri. Dia ditangkap di rumah keluarganya di Palu, Sulawesi Tengah.
“Ditangkap pada 1 Juni lalu. Saat berada di rumah keluarganya di Palu, Sulawesi Tengah,” imbuhnya.
Video ancaman ini beredar di media sosial Twitter dan WhatsApp. Video tersebut menayangkan dua orang pria. Satu pria mengenakan pakaian putih dan bersorban warna hijau yang diikat di kepala dan satu lainnya mengenakan jaket kulit dan sorban berwarna gelap.
Video berdurasi 53 detik itu berisi ancaman kepada Jokowi dan Wiranto. Ancaman diucapkan oleh pria bersorban hijau. Sementara itu, pria bersorban gelap berperan sebagai perekam video.(OL-5)
Petugas kepolisian saat ini tetap disiagakan di lapangan untuk memantau pergerakan masyarakat, terutama di area aglomerasi dan kampung halaman.
Ledakan petasan di Pekalongan menewaskan remaja 14 tahun. Dua korban lain masih dirawat intensif, polisi lakukan penyelidikan.
Ketua YLBHI Muhamad Isnur menyoroti adanya perbedaan data terduga pelaku penyiraman air keras aktivis KontraS, Andrie Yunus yang diungkap oleh kepolisian dan TNI.
Kisah haru Aipda Arno di Manggarai, NTT. Berlutut sambil menangis demi memohon warga binaannya agar tidak bentrok. Simak aksi humanis sang polisi di sini
Menurut Oegroseno, semestinya hal-hal seperti ini tidak terjadi, karena tak diatur oleh KUHAP.
Trunoyudo menyebutkan bahwa momentum bulan suci Ramadan turut melandasi semangat kedua belah pihak untuk saling memaafkan dan melakukan introspeksi diri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved