Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Survei Sebut Hoaks Mampu Turunkan Elektabilitas Capres

Antara
11/4/2019 19:30
Survei Sebut Hoaks Mampu Turunkan Elektabilitas Capres
Peneliti Digitroops Indonesia, Yusep Munawar Sofyan(MOHAMAD IRFAN/MI)

HASIL survei lembaga Digitroops Indonesia menyebutkan isu hoaks yang beredar, khususnya di media sosial dan dialamatkan kepada
calon presiden tertentu terbukti menurunkan elektabilitas capres, terutama di pemilih yang aktif di medsos.  

Peneliti Digitroops Indonesia, Yusep Munawar Sofyan, di Jakarta, Kamis (11/4), mengatakan, survei itu melibatkan 1.200 responden dari seluruh provinsi di Indonesia pada Maret 2019 dengan margin of error kurang lebih 2,8%.  

Dari total populasi, sebanyak 44,5% atau 534 responden merupakan pengguna media sosial. Sebanyak 61,6% menyatakan hoaks sudah terlalu banyak. Hal senada dinyatakan oleh 55,5% responden yang tidak memiliki medsos menilai bahwa hoaks sudah terlalu banyak mencapai 37,2%.   

"Bila dibandingkan, pemilih yang memiliki media sosial rentan sekali terkena hoaks. Mereka juga mengakui bahwa pemberitaan media mempengaruhi pilihan masing-masing," kata Yusep.  


Baca juga: Soal Hoaks Hasil Pemilu Luar Negeri, Jokowi: Dihitung juga Belum


Salah satu isu hoaks yang paling banyak mendapat perhatian publik ialah isu masuknya jutaan tenaga kerja asing. Sebanyak 48,2%
menyatakan pernah mendengar isu itu, dan 46,9% di antaranya menyatakan percaya dengan isu tersebut, hal ini cukup mencolok karena jumlah yang menyatakan pernah mendengar isu tenaga asing dan percaya isu tersebut mencapai 22,6% dari populasi responden.  

"Hoaks yang secara langsung maupun tidak langsung menyerang paslon tertentu, memang memiliki pengaruh terhadap persepsi publik mengenai paslon tersebut. Secara linier, efek elektoralnya segera terasa. Jokowi kalah pada segmen yang percaya pada isu hoaks atas Jokowi. Prabowo kalah pada segmen yang percaya hoaks terhadap Prabowo. Dari data kami, hoaks yang menyerang Jokowi jauh lebih banyak," ujar Yusep.    

Ia menambahkan, mayoritas publik, terutama pemain media sosial merasa hoaks ini perlu diberantas tegas.

"Bila hoaks tersebut didiamkan, hal ini bisa merusak sendi demokrasi yang telah lama dibangun dan akan melunturkan persatuan karena
efek hoaks yang memecah belah," katanya.

Survei tersebut mengonfirmasi isu hoaks yang berkembang di medsos selama kurun Agustus 2018 hingga Maret 2019 melalui survei tatap muka. Riset ini juga dilengkapi dengan FGD, analisis media, dan indepth interview. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya