Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
MANTAN presenter politik Tina Talisa menganggap tindakan ibunda Sandiaga Uno, Mien Uno, dalam membela anaknya kurang tepat jika dilihat dalam konteks komunikasi publik sekaligus politik.
Sebab, tindakan pembelaan tersebut kurang elegan jika dibandingkan situasi yang dihadapi rivalnya, Joko Widodo.
“Mau tidak mau publik akan selalu melakukan komparasi antar calon yang berkompetisi. Dalam aspek apapun. Termasuk komunikasi publik. Mana yang lebih santun, mana yang lebih elegan dan etis,” kata Tina yang merupakan lulusan master dalam bidang komunikasi di Universitas Padjadjaran, Bandung, tersebut, Selasa (12/2).
Dalam konteks konferensi pers Mien Uno, kata Tina, tidak tepat jika perempuan yang merupakan pakar etika tersebut sampai harus turun langsung membela putranya.
Sebab, tindakan yang sama juga tidak dilakukan Sudjiatmi, ibunda Jokowi, saat anaknya mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah. Seperti Jokowi dituduh keturunan Cina, bahkan anggota PKI.
Baca juga : Subkhan Bantah Tulis Permintaan Maaf Terbuka
Seperti diketahui, Mien Uno menggelar konferensi pers setelah Sandiaga dituding terlalu banyak melakukan sandiwara.
Tudingan sandiwara itu muncul setelah sejumlah kegiatan kampanye Sandiaga ternyata tidak benar-benar melibatkan masyarakat.
Salah satunya, pengakuan petani bawang bernama Subkhan yang mengaku terus merugi. Belakangan, diketahui Subhan adalah mantan anggota KPUD Brebes sekaligus simpatisan Prabowo Subianto-Sandiaga.
Mien Uno meminta semua yang menuduh Sandi minta maaf.
“Saya ingin berhadapan dengan orang itu untuk mengatakan bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang memang benar terjadi. Siapa yang mau berhadapan dengan saya sebagai ibunya?" tantangnya.
Tina menganggap respons Mien Uno terkesan reaksioner. Apalagi sikap sang ibu yang meminta semua orang untuk meminta maaf.
Justru, kata Tina, sikap Bu Djiatmi menunjukkan kesantunan komunikasi yang sangat baik. Tudingan yang membabi buta bisa diredam oleh ketenangan seorang ibu.
“Masyarakat melihatnya jadi adem,” kata Tina yang beberapa waktu lalu memutuskan hijrah dan mengenakan jilbab tersebut.
Tina yakin, ketenangan Bu Djiatmi lahir dari sikap dan laku hidup yang panjang dalam kesabaran dan pemahaman tentang keikhlasan.
“Yang saya tahu, Bu Djiatmi selalu rajin baca Surat Al Fatihah dan Surat Al Ikhlas sebanyak ratusan kali dalam sehari agar anaknya diberi kekuatan menghadapi fitnah. Saya kira sikap kalem dan tenang lahir dari ibadah yang begitu istiqamah selama puluhan tahun,” katanya. (RO/OL-8)
Polisi meluruskan kabar viral pengamen membawa mayat di Tambora, Jakarta Barat. Karung tersebut dipastikan berisi seekor biawak.
UU ITE 2024 tidak menghapus sanksi pidana bagi penyebar hoaks dan ujaran kebencian. Regulasi baru justru memperjelas batasan jenis kebohongan digital
Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya selidiki laporan Partai Demokrat terkait hoaks yang menyeret SBY. Empat akun medsos dipolisikan atas fitnah korupsi dan status tersangka.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya hoaks cuaca di puncak musim hujan Desember-Februari, termasuk isu Squall Line.
BMKG memastikan kabar ancaman Squall Line dan badai ekstrem 31 Desember 2025–1 Januari 2026 adalah hoaks. Tidak ada peringatan resmi dikeluarkan.
Sebuah video palsu berdurasi 12 detik yang mengeklaim sebagai rekaman sel Jeffrey Epstein sebelum tewas muncul di situs pemerintah.
KPK menetapkan Hasto Kristiyanto sebagai tersangka suap terkait buronan Harun Masiku. Hasto disebut aktif mengupayakan Harun memenangkan kursi anggota DPR pada Pemilu 2019.
Bagi Mahfud, batalnya memakai kemeja putih tersebut lima tahun lalu menyimpan pesan tersendiri.
KPID Sulawesi Selatan mengaku belum bisa menindak caleg dan parpol yang mulai mencuri start pada Pemilu 2024.
PENDUKUNG Joko Widodo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kini berbalik mendukung calon presiden (capres) Prabowo Subianto jelang Pilpres 2024.
Beberapa upaya dari KPU untuk mencegah terjadinya kembali korban jiwa dari petugas KPPS.
"Mas Ganjar kan enggak nyapres, enggak nyapres beliau," kata Immanuel di Jakarta, Minggu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved