Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Pascadebat, Survei LSI: Jokowi-Amin Unggul dari Prabowo-Sandi

Nurjiyanto
30/1/2019 17:46
Pascadebat, Survei LSI: Jokowi-Amin Unggul dari Prabowo-Sandi
(MI/RAMDANI MI/RAMDANI)

LEMBAGA Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil surveinya terkait respons publik dan efek elektoral pascadebat pertama capres-cawapres, 17 Januari 2019 lalu. Hasilnya, 50% responden memilih pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin lebih unggul dibandingkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, yang memperoleh suara 35,4%.

Peneliti LSi Denny JA Adjie Alfaraby menuturkan hasil persepsi tersebut disebabkan dari adanya kecenderungan para pemilih kedua paslon yang telah masuk dalam kategori loyal. Angka tersebut tidak berbeda jauh dengan tingkat elektabilitas kedua paslon di bulan Desember 2018, dimana Jokowi-Amin memperoleh elektabilitas 54,2% serta Prabowo-Sandi 30,6%.

"Separuh responden memang mayoritas sudah punya pilihan yang loyal. Jadi debat kemarin hanya dijadikan sarana untuk melihat pemaparan dari para paslon dan tidak terlalu mempengaruhi elektabilitas secara signifikan," ujarnya saat memaparkan hasil surveinya di Kantor LSI Denny JA, Jakarta, Rabu (30/1).

Baca juga: KPU Segera Tentukan 8 Panelis untuk Debat Kedua

Persepsi muncul dari 6 aspek dimensi yang dijadikan variabel. Pertama, ialah dalam pertanyaan kemampuan komunikasi yang meliputi cara menyampaikan pendaat, menyanggah, dan berargumen. Dalam variabel ini Jokowi-Amin unggul tipis diangka 39,4% sementara Prabowo Sandi 33,7%.

Lanjut ke penguasaan materi, Jokowi-Amin unggul di 37,7% sementara Prabowo-Sandi 31,2%. Lalu terkait penguasaan permasalahan sesuai tema debat, responden menanggap Jokowi-Amin unggul diangka 38% sementara Prabowo Sandi 31,6%.

"Untuk pertanyaan program kerja, publik menilai Jokowi-Amin diangka 45,2% dan Prabowo-Sandi diangka 31,2%. Sementara dalam hal kepemimpinan kuat Jokow-Amin memeroleh angka 39,4% dan Prabowo-Sandi 34,9%," ungkap Adjie.

Sementara, dalam hal kekompakan dan saling melengkapi, Jokowi-Amin berada diangka 30,1% dan Prabowo-Sandi di angka 46%.

"Dari 6 dimensi debat, Jokowi-Amin menang di 5 dimensi sedangkan Prabowo-Sandi menang di 1 dimensi. Secara umum score debat kemarin ialah 5-1 untuk paslon Jokowi-Amin," ujarnya.

Meski demikian, pihaknya memandang hasil debat kemarin tidak terlalu mempengaruhi angka elektabilitas kedua paslon. Pasalnya, jika dibandingkan dengan catatan mereka pada Desember 2018, angka elektabilitas kedua paslon di Januari 2019 hanya meningkat kurang dari 1%.

Pada Desember 2018, elektabilitas paslon Jokowi-Amin berada di angka 54,2%. Sementara di Januari 2019 naik sebesar 0,6% menjadi 54,8%. Lalu ekeltabilitas Prabowo-Sandi di Desember 2018 diangka 30,6% naik 0,4% di Januari 2019 menjadi 31%.

Begitu pula dengan angka undecided voters yang hanya berkurang 1% dari 15,2% di bulan Desember 2018 menjadi 14,2% di Januari 2019. Pihaknya juga mencatat dari 1.200 responden yang dijadikan populasi sample, sebanyak 50,6% mengaku menonton debat pertama tersebut melalui berbagai media sementara 46,7% mengaku tidak menonton.

Dari 50,6% responden yang mengaku menonton tersebut, sebanyak 29,6% menonton gelaran tersebut secara utuh, sementara 69,9% hanya menonton sebagian saja. Dirinya menuturkan, salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut dikarenakan adanya durasi debat yang terlalu lama sehingga hanya responden yang memiliki ketertarikan akan politik saja yang menonton gelaran tersebut hingga tuntas.

Adjie menuturkan, umumnya yang menonton debat secara utuh lebih banyak dari kategori pemilih yang memiliki pendidikan tinggi, ekonomi menengah atas, laki-laki, bertempat tinggal di kawasan kota, beragama muslim, serta berdomisili di wilayah pulau Sulawesi dan Kalimantan.

Baca juga: Pengumuman Caleg Mantan Koruptor Bukan Pencitraan

"Format debat kemarin terlalu lama imbasnya ke pemilih yang tidak memiliki interes dan waktu lain menjadi kurang menarik. Ditambah ada tayangan lain yang lebih menarik saat di acara tersebut berlangsung. Debat juga hanya salah satu alat pertimbaganan pemilih saja," kata Adjie.

Survei tersebut dilakukan pada 18-25 Januari 2019 dengan jumlah sample sebanyak 1.200 responden. Metode yang digunakan ialah multistage random sampling dengan teknik pengambilan data melalui wawancara tatap muka responden menggunakan kuisioner. Pihak LSI Denny JA mengklaim bahwa survei ini memiliki margin of error sebesar 2,8%. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya