Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA DPR RI Bambang Soesatyo meminta Komisi II DPR untuk mendorong Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) segera mengirimkan blanko KTP-E ke daerah yang kehabisan stok, mengingat itu merupakan syarat bagi pemilih dalam pilkada nanti. Jika blanko belum ada, harus ada langkah antisipasi yang disiapkan.
Hal itu disampaikan pria yang akrab disapa Bamsoet itu dalam menyikapi habisnya stok blangko KTP-E di beberapa daerah seperti di Kabupaten Brebes dan Kota Tasikmalaya.
"Agar mempercepat proses perekaman data kependudukan masyarakat, mengingat KTP-E menjadi salah satu syarat dalam pemilihan suara pada Pilkada Serentak yang segera akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2018," ujarnya di Jakarta, Jumat (22/6).
Kemendagri juga diminta memastikan fasilitas perekaman data kependudukan lainnya seperti alat perekam dan tinta untuk cetak KTP-E tersedia dan dapat berfungsi dengan baik di setiap daerah di Indonesia.
Pihaknya juga mendorong Kemendagri, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) di setiap daerah, serta Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) untuk membuat terobosan dan solusi berupa surat keterangan kependudukan sebagai langkah antisipasi.
"Jika sampai waktu Pilkada Serentak 2018, blanko e-KTP belum tersedia, harus ada antisipasi lain agar rakyat dapat memilih untuk melaksanakan hak politiknya."
Dia pun mengatakan KPU dan KPUD) perlu melakukan sosialisasi kepada Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan saksi-saksi yang telah didaftarkan, agar masyarakat yang memiliki surat keterangan kependudukan dari tetap diperbolehkan menggunakan hak pilihnya di tempat pemungutan suara (TPS). (OL-5)
Direktur IPR, Iwan Setiawan, menyebutkan alokasi anggaran umum untuk Pilkada langsung tahun 2024 saja mencapai Rp38,2 triliun.
Kemendagri mendorong evaluasi rekrutmen politik dan sistem pilkada untuk menekan korupsi kepala daerah yang terus berulang meski pengawasan diperketat.
Pengamat politik Citra Institute Yusak Farchan menilai tingginya biaya politik dalam pilkada menjadi persoalan serius dalam demokrasi Indonesia.
Pilkada tak langsungĀ bertentangan dengan semangat demokrasi lokal dan tidak menyelesaikan persoalan biaya politik tinggi.
Kepala Pusat Riset BRIN Mardyanto Wahyu Tryatmoko menilai wacana pilkada tidak langsung lewat DPRD tidak menjamin hilangnya politik uang dan justru berpotensi lebih mahal.
SISTEM pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung yang telah berjalan dua dekade dinilai gagal mewujudkan demokrasi substansial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved