Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Tongkat Nabi Musa

31/12/2024 05:00
Tongkat Nabi Musa
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KEPEMIMPINAN Nabi Musa Alaihissalam layak diteladani seluruh umat manusia. Sebagai nabi dan rasul, ia tak hanya memiliki mukzijat, kemampuan spesial yang dianugerahi Sang Pencipta, tetapi juga kepemimpinan yang mumpuni.

Karakteristik kepemimpinan nabi yang disebut 'titik temu' tiga agama, yakni Yudaisme, Kristen, dan Islam, itu ialah memiliki keberanian, kesabaran, ketabahan, kebijaksanaan, dan keteguhan.

Nabi yang masuk golongan Ulul Azmi (pemilik keteguhan hati) itu memiliki mukjizat, yakni tongkatnya. Bukan sembarang tongkat tentunya. Tongkatnya bisa memiliki ragam fungsi, seperti menggembala kambing, mengeluarkan air dari batu, dan berubah menjadi ular besar yang melahap ular-ular dari tukang sihir Firaun, raja lalim yang mengaku Tuhan.

Selain itu, tongkat tersebut bisa membelah Laut Merah ketika Nabi Musa dan pengikutnya dikejar Firaun dan bala tentaranya.

Perihal tongkat Nabi Musa yang melegenda itu disinggung Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya saat Peringatan Natal Nasional 2024 di GBK, Jakarta, Sabtu (28/12).

Mantan Danjen Kopassus itu meminta masyarakat untuk bersabar dan memberikan kesempatan kepadanya bekerja sungguh-sungguh karena pemerintahannya baru berjalan selama 2 bulan 8 hari.

Prabowo meminta masyarakat untuk realistis melihat keadaan. “Tapi kita juga realitis, Presiden Republik Indonesia tidak punya tongkat semacam tongkat Nabi Musa, tidak punya. Tidak punya tongkat Nabi Sulaiman, tidak punya,” tandasnya.

Presiden Prabowo memang tidak memiliki mukjizat karena bukan nabi dan rasul. Namun, bukan berarti dirinya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah keadaan yang lebih baik, seperti Pembukaan UUD 1945, yakni membangun negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Sejak Indonesia merdeka 79 tahun silam cita-cita itu masih jauh panggang dari api. Indonesia baru merdeka dari belenggu kolonialisme, tapi kemerdekaan sesungguhnya belum dirasakan segenap bangsa Indonesia.

Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, merdeka dari ketergantungan pihak asing, merdeka dari kesewenang-wenangan, dan sebagainya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka memiliki tiga makna, yakni (1) bebas (dari perhambatan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri; (2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; (3) tidak terikat, tidak oleh tergantung dari orang atau pihak tertentu.

Ibarat lepas dari mulut harimau, masuk ke masuk ke mulut buaya. Itulah nasib bangsa Indonesia. Setelah berhasil mengusir penjajahan, kini bangsa Indonesia menghadapi bangsanya sendiri. Saling 'menikam' dan saling 'memakan'.

Fenomena itu pernah diprediksi Bung Karno. Sang proklamator mengatakan, "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Namun, perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri."

Jelaslah musuh bangsa Indonesia tidak jauh-jauh, yakni sesama anak bangsa. Musuhnya ialah mereka yang mendahulukan kepentingan pribadi dan golongan dengan mengangkangi etika dan hukum.

Bangsa Indonesia juga menghadapi 'musuh dalam selimut'. Mereka tidak segan melancarkan aksi 'pagar makan tanaman' dalam penyelenggaran negara. Trias politika atau 'politik tiga serangkai' yang dianut Indonesia berupa pemisahan kekuasaan, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif, telah berubah menjadi 'trias koruptika'.

Ketiga cabang kekuasaan itu pertama kali dikemukakan John Locke, filsuf Inggris, dan kemudian dikembangkan Baron de Montesquieu, filsuf politik asal Prancis, dalam bukunya L'Esprit des Lois, The Spirit of Laws (1748).

Potret 'trias koruptika' diperlihatkan dalam praktik lancung berbangsa dan bernegara. Mereka berlomba memenuhi syahwat kekuasaan, memperkaya diri sendiri dan/atau kelompok mereka. Pilar-pilar demokrasi itu pun roboh seiring dengan ambruknya moral penjaganya.

Presiden Prabowo dan pasangannya, Gibran Rakabuming Raka, tidak perlu 'tongkat ajaib' seperti Nabi Musa untuk mengubah Indonesia lebih baik. Tantangan 2025 semakin kompleks, baik kondisi global atau domestik.

Prabowo memiliki dua 'tongkat ajaib', yakni Pancasila dan UUD 1945.

Niat untuk menyejahterakan rakyat dan memajukan Indonesia raya jangan hanya dipidatokan dari panggung ke panggung untuk mendapatkan tepuk tangan, tetapi dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur.

Semua kebijakan harus diawali kajian matang dengan melibatkan partisipasi publik yang bermakna. Terlalu banyak dipidatokan bisa blunder seperti isu amnesti untuk koruptor.

Kabinet gemuk yang mengakomodasi beragam kepentingan politik tantangan tersendiri bagi Prabowo dalam mengorkestrasi berlayarnya pemerintahan.

Hingga kini setelah pelantikan 20 Oktober lalu rakyat belum melihat 'api' yang bisa menyalakan optimisme bangsa agar keluar dari krisis yang bersifat mulltidimensional ini.

Dukungan 58% suara dalam pemilu seharusnya menjadi modal bagi presiden ke-8 ini untuk mengambil keputusan politik yang berani untuk rakyat. Sang jenderal jangan ragu mencopot pembantunya yang tidak cakap atau memotong 'lemak-lemak' dalam pemerintahannya.

Seorang pemimpin, kata John Calvin Maxwell, penulis Amerika Serikat, ialah orang yang mengetahui jalan, melewati jalan tersebut, dan menunjukkan jalan itu untuk orang lain. Tabik!



Berita Lainnya
  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.

  • Untung Ada Lebaran

    30/3/2026 05:00

    ADA celetukan sangat viral pada 1980-an dari almarhum Gepeng. Pelawak Srimulat itu berucap, "Untung ada saya."

  • Tahanan Istimewa

    26/3/2026 05:00

    YAQUT Cholil Qoumas memang telah kembali dijebloskan ke balik jeruji besi rumah tahanan KPK.

  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.