Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
IA sampai pada ujung hidupnya. Tapi narasi kepergiannya tak berujung. Ia pergi dalam sunyi. Pamit dalam diam. Diam dan sunyi itu menjadi saksi terakhir ziarah hidupnya. Namun keduanya meninggalkan warisan histeria. Miris. Sedih. Marah. Kecewa. Lemparan komentar tak henti. Nurani tumpul. Kepekaan mandul. Saling mempersalahkan. Saling cuci tangan.
Satu pertanyaan tetap memukul nurani: kita semua dimana? Negara, agama, masyarakat absen. Ia hidup dalam himpitan. Hidup terasa hampa. Dan memutuskan berpindah dari ruang kosong itu. Ia pun memasuki pelukan maut. Maut dihindari semua orang. Menjadi sahabat baginya ketika semua berpaling. Maut menjadi selimut hangat ketika semua dingin. Maut itu seperti naungan.
Ketika kemiskinan menjadi terik-panas menghanguskan rasa bangga; memupuskan harapan. Maut seperti angin segar sebagai lorong terakhir menyambung nyawa. Ketika nafasnya berada di ruang hidup hampa kasih sayang. Di sini runtuhlah tanduk harapan hidup sebagai sebuah pesan.
Kehadiran seorang anak adalah pesan kehidupan. Kehadirannya menuntut peran orang tua dan lembaga sekitarnya sebagai rahim hidup. Lewat peran sesama dan lembaga terdekat, ia dilatih untuk berperan juga. Sekolah adalah salah satu lembaga penyanggah pesan kehidupan.
Ia menanamkan struktur dan sistem peran kehidupan yang kompleks.
Tetapi mulai dari yang sederhana. Peran itu tidak terjadi di ruang hampa. Ia terjadi dalam ruang dan waktu. Butuh instrumen. Infra-struktur. Mulai dari yang sederhana dan murah sampai yang kompleks dan mahal. Pakaian. Alat tulis. Pena. Buku tulis. Ini yang sederhana. Namun yang sederhana ini juga tidak bisa dia peroleh. Mungkin ini hanya kasus beli di tengah himpitan lain. Ia bukan satu-satunya kasus. Kasus sejenis cukup banyak.
Manusia sebuah pesan. Namun ia sering tiba di alamat yang salah. Sialnya ia tidak memilih titik tiba itu. Dengan itu, ia menjadi pesan bisu. Bisu di tengah bibir yang nyinyir. Bisu di tengah lidah yang mengumbar janji manis. Ia jadi pesan yang tak dibaca. Tak didengar. Tak diperhatikan. Tak dijawab. Tak dibalas. Ia tersembunyi. Terabaikan di tengah pesan-pesan kerja.
Di tengah pesan dan undangan pesta. Di tengah pesan hiburan viral. Ia menemukan dirinya sebagai pesan tak menarik. Tak bermakna. Diabaikan. Didelete. Dihapus. Dibuang.
Peran-peran struktur, lembaga, dan nurani menjadi lumpuh. Hidup menjadi hampa. Ia dianggap tak ada di tengah keberadaannya. Hatinya pun galau. Benih kekecewaan tumbuh. Tunas putus asa menggerogoti jiwanya yang polos. Ia pun mengakhiri peran hidupnya terlalu pagi. Ketika teman sebayanya dengan ceria bersiap mengarungi lautan masa depannya.
Ia berpaling pada pohon itu. Pohon rahmat yang mestinya menancapnya ke rahim Ibu Bumi bersama akar-akarnya yang halus nan perkasa. Pohon itu mestinya membawanya ke keagungan Bapa Langit yang menaungi semesta. Tempat dia menggantungkan cita-citanya setinggi bulan dan bintang-bintang. Justru menjadi landasan pacu kematian tragis. Tangga penjagal nyawa. Menjadi ujung tragedi hidup. Tali yang mengikat nadi kehidupan. Justru kini menjadi jerat maut yang meninggalkan akhir ziarah hidup yang aib. Masih terlalu muda. Tapi dalam benaknya apa gunanya menjadi dewasa dalam kehampaan.
Tangan mungil itu menitip pesan pahit. Paradoks kehidupan. Ia yang kekurangan alat tulis, tetapi dengan alat itu juga, ia membungkus pesannya yang terakhir. Kepada ibu yang melahirkannya. Kepada masyarakat, agama, dan bangsa. Kepada Ibu Pertiwi yang tentunya punya rahim. Pesan kecewa di ujung pena. Goresan luka hidup.
Dalam surat lusuh. Dengan untaian kata-kata terasa menyayat. Pesan itu memukul wajah bangsa. Meneror nurani negeri. Pesan itu menjadi guratan tinta hitam. Menjadi beban sejarah bagi ibu pertiwi. Jika ia masih berpilar moral dan berlandas spiritual. Sepertinya bagi dia, Ibu Pertiwi jadi ibu pelupa, pelit dan kikir. Punya rahim tapi mandul. Ia gagal menjadi rahim kasih. Rahim itu bukan lagi ruang hidup. Ia seperti ruang jenazah tanpa mata. Tampak glamour di satu sisi. Keren dengan ini dan itu di sudut lain. Tidak bagi bumi di mana dia berpijak. Ia terpuruk dalam ruang hampa keadilan.
Bagi dia, sesama tidak lebih dari mayat berjalan dengan mata bersinar neraka. Ia pun berlari dari bumi celaka ini. Tapi dengan pesannya itu, ia coba mengetuk pintu hati untuk terakhir kali. Sambil berpaling. Berharap bahwa dia yang terakhir. Jangan tangisi aku. Tangisi dosamu. Jadilah rahim hidup bagi yang lain. Jika tidak, Ibu Pertiwi bisa berada di ujung tanduk.
Pohon dimana dia menghembuskan napasnya masih hidup. Di pohon itu hendaknya kita bertekuk. Berlutut. Bertobat. Sadar bahwa pesan politis manis sering hanya siasat licik. Yang berakhir pahit. Program yang indah mungkin hanya modus dan tipu daya untuk memenuhi kantong sendiri. Pesan religius tak tumbuh karena tanpa aksi. Pesan moral hanya pantun kosong tak bernurani. Mendesak untuk berbalik arah. Akui ada yang salah. Ada tumpukan uang triunan. Manis bagi yang memegangnya. Pahit bagi yang hanya mendengar angkanya. Hidup bukan sekedar angka uang. Tapi sebuah gerakan jawaban nyata dalam semua bidang.
Gerakan yang berakar pada nurani yang adil, peka, dan peduli. Jika tidak gerakan itu seperti menggali kubur. Seperti berlari di treadmill. Berputar di tempat. Segelintir orang akan berkeringat uang dan fasilitas. Yang lain hanya dapat kuah kosong. Karena gerakan itu tidak mulai dari bawah. Tidak mulai dari pinggir. Tidak mulai dari yang rentan. Semoga pohon di mana dia berpamit memberikan tunas harapan baru dan benih rahim hidup bagi Ibu Pertiwi yang mandul.
KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta lembaga terkait memberikan pendampingan psikososial untuk saudara dan keluarga anak korban bunuh diri di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, korban sering meminta ibunya untuk melakukan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya siswa tersebut.
Kehadiran tim psikologi Polda NTT merupakan respons cepat dan terukur untuk memastikan keluarga korban mendapatkan penguatan mental yang memadai.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved