Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Protes di Iran, Gempita Media dan Perubahan Rezim

Purkon Hidayat Direktur Eksekutif Middle East Foresight dan dosen tamu kajian Asia Tenggara, Universitas Tehran
09/1/2026 05:05

KETIKA sejarawan Amerika Hayden White menyebut narasi bukan cermin fakta, saya kira dia tidak sedang bercanda. Bagi White, narasi sejarah memiliki emplotment. Peristiwa-peristiwa dalam sejarah dipasang pada sebuah pola yang membentuk makna, arah, dan tujuannya. Separuh buktinya, kita saksikan dalam narasi media global tentang Iran saat ini.

 

EMPLOTMENT DAN GEGAP GEMPITA MEDIA

Setiap kali Iran dilanda protes massa, narasi global hampir serempak menyuarakan plot senada: regime change. Narasi mengenai Iran di media arus utama internasional, termasuk di Indonesia, saat ini membentuk satu ritme geopolitik yang seirama; ketika ekonomi tertekan, mata uang nasional anjlok, dan rakyat turun ke jalan, rezim tinggal menunggu waktu kejatuhannya. Pola itu berulang dan diterima luas, tapi jarang diuji ulang validitasnya.

Simaklah rekam jejak media mainstream dalam memberitakan aksi protes di Iran. Narasi global tentang protes kecil hingga besar di Iran pada 2023, 2022, 2019, 2018, 2017, 2016, 2011, 2009, 2005, 2003, 1999, 1995, dan 1992 memiliki emplotment senada. Rezim di Iran dianggap tidak layak memimpin. Untuk itu, harus diganti. Kali ini pun, awal 2026, polanya relatif sama, dengan resonansi yang lebih menggema.

 

ISU PERUBAHAN REZIM DAN ORANG NOMOR SATU

Salah satu isu paling masif di media global tentang gelombang protes di Iran mengenai orang nomor satu di Iran. The Times yang berbasis di London, yang dikutip media internasional, menurunkan berita mengenai rencana pemimpin tertinggi Iran melarikan diri ke Rusia jika aksi protes tidak dapat diatasi. Isu itu muncul berdampingan dengan ancaman serangan militer terhadap Iran oleh para pejabat tinggi Israel dan Trump yang sedang merayakan kemenangannya menyerang Venezuela dan menculik Maduro.

Bersamaan dengan gegap gempita berita itu, Ayatullah Khamenei justru muncul di tengah publik Iran dalam pertemuan dengan masyarakat pada Sabtu, 3 Januari 2026. Pada momentum hari ayah yang bertepatan dengan peringatan hari kelahiran Sayidina Ali bin Abi Thalib, Khamenei memberikan pernyataan tegas, "Kami membuka uluran tangan bagi pemrotes, tapi akan menindak keras perusuh".

Khamenei dalam pidatonya menanggapi ancaman Trump mengenai dukungan Amerika terhadap gelombang protes di Iran. Ia mengatakan, "Kami akan membuat musuh bertekuk lutut". Tentu saja di media internasional, statement tokoh kunci Iran itu dianggap gertakan semata. Namun, jika ditilik lebih jauh, pernyataannya memiliki resonansi berbeda. Dalam perang 12 hari Juni 2025, Khamenei membuktikan ucapannya dengan menginstruksikan aksi balasan serangan militer terhadap Israel.

Isu mengenai pemimpin tertinggi Iran siap melarikan diri ke Rusia jika protes membesar berpijak pada emplotment perubahan rezim di Iran, bukan peristiwa faktual. Jika memang ada momen paling rasional bagi seorang pemimpin untuk melarikan diri, Juni lalu paling tepat ketika para jenderal terdekatnya gugur dalam eskalasi perang dengan Israel.

Selain itu, berita tersebut menunjukkan kurangnya kedalaman melihat aspek budaya dalam tradisi politik dan sosial di Iran. Aspek mitologi yang membentuk karakter bangsa, termasuk tradisi politiknya, dibangun dari etos kepahlawanan. Literatur klasik Persia Shahnameh Ferdows tentang Rostam hingga Peristiwa Karbala menjadi elan vital mereka yang terus direproduksi untuk kepentingan nasional mereka. Perang delapan tahun, 1980-1988, juga perang Juni 2025 mengambil spirit dari etos kesyahidan, Pantang terhina: hidup mulia atau mati berkalang tanah.

 

PROTES DAN KERUSUHAN: DARI EKONOMI HINGGA KEAMANAN

Gelombang protes sejak dua pekan lalu hingga Kamis dini hari belum berhenti meskipun mereda. Pantauan di lapangan terhadap sejumlah titik di Tehran dan berbagai kota di Iran menunjukkan gambaran yang berlapis. Di wilayah utara Tehran, tempat saya tinggal, tidak ada gejolak dan kondisi normal. Dari toko hingga kursus musik yang berada beberapa meter saja dari rumah kami masih melayani para konsumen mereka. Kemacetan kendaraan pagi dan sore hari terus menghiasi dinamika kota.

Pada saat yang sama, informasi di sekitar bazar Selasa menunjukkan adanya aksi protes dengan sedikit kericuhan tanpa korban jiwa. Informasi dari berbagai kota di Iran seperti Isfahan yang sempat memanas pada pekan lalu juga sudah menunjukkan aktivitas normal kembali.

Di sejumlah kota di wilayah barat yang relatif dekat dengan perbatasan, seperti Ilam dan Lorestan, terjadi aksi protes yang mengarah pada sabotase. Di sejumlah titik, cukup sulit untuk memisahkan antara tuntutan ekonomi dan aksi ancaman keamanan. Namun, secara umum, situasi masih berada dalam kendali otoritas pemerintah dan tingkat ketegangan tidak separah fase-fase sebelumnya.

Laporan lapangan itu kontras dengan kegaduhan media sosial global yang terus memproduksi narasi kejatuhan rezim di Iran. Kini, pertanyaan kuncinya bukan apakah kerusuhan terjadi karena memang sudah terjadi, melainkan apakah dinamika itu benar-benar mengarah pada perubahan rezim ataukah justru mencerminkan benturan antara realitas sosial dan masa depan yang sedang dipaksakan secara naratif dengan pola terarah dalam framing media.

Tekanan ekonomi di Iran saat ini memang nyata. Pelemahan nilai tukar rial terhadap valuta asing, inflasi, dan penaikan biaya hidup memukul kelompok-kelompok tertentu, terutama pedagang dan kelas menengah ke bawah. Penutupan Bazar Teheran bukan peristiwa kecil. Lembaran sejarah Iran menunjukkan posisi sentral bazar sebagai simpul ekonomi sekaligus kanal artikulasi politik. Ketika denyut nadi bazar berhenti, pesan yang disampaikan jelas: ada problem serius yang menuntut respons negara. Namun, tekanan itu tidak menyebar secara merata. Kota tidak lumpuh. Negara tidak kehilangan fungsi dasarnya. Kondisi yang terjadi ialah tekanan tersegmentasi yang keras di titik-titik tertentu, tetapi tidak berkembang menjadi ancaman sistemik.

Hal itu menjelaskan perbedaan mendasar antara krisis kebijakan dan krisis rezim. Hingga saat ini, Iran masih berada pada kategori pertama. Respons negara juga menunjukkan pola yang relatif konsisten mengenai kombinasi pengetatan keamanan dan sinyal konsesi ekonomi. Aparat menjaga agar tekanan tidak meluas, sementara pemerintah membuka ruang kebijakan dari wacana perbaikan ekonomi dengan subsidi hingga bantuan langsung. Tentu saja pendekatan itu bukan tanpa risiko, melainkan menunjukkan satu masalah krusial: pusat kendali negara masih bekerja.

 

ANALISIS LAPIS-LAPIS KRISIS DENGAN CLA

Dari tinjauan yang lebih dalam, dinamika Iran hari ini bisa digali dari beberapa lapisan bertingkat dengan causal layered analysis (CLA). Pertama, di permukaan, yang tampak ialah aksi protes dan kerusuhan dalam bingkai berita dan video viral. Dua arus besar, pendukung dan penentang pemerintah Iran, menebarkan berita sesuai dengan kepentingan mereka di media masing-masing. Dalam banyak kasus, tidak mudah untuk memisahkan antara tuntutan ekonomi dan kepentingan lain.

Kedua, di tingkat sistem, negara masih berfungsi. Meskipun terjadi sejumlah kelangkaan bahan pokok seperti minyak dan penaikan harga, sistem terkait menyediakan alternatif. Kekurangan minyak goreng dari sawit yang lebih murah di pasar selama ini bisa disubsitusi dengan minyak wijen, zaitun, atau bunga matahari yang diproduksi lokal. Pemerintah juga sedang menyiapkan paket sabuk pengaman sosial yang akan diberlakukan segera. Otoritas keamanan Iran masih satu komando dan tidak ada laporan aksi pembelotan atau sabotase dari dalam sistem. Otoritas ekonomi dan keuangan Iran juga mengambil langkah penggantian gubernur bank sentral untuk mengembalikan stabilitas keuangan dari dampak lonjakan nilai tukar valuta asing.

Ketiga, di tingkat pandangan dunia (worldview), publik internasional yang melihat dengan kacamata media mainstream membayangkan Iran rapuh, sementara banyak aktor internal memandang krisis sebagai bagian dari siklus tekanan yang berulang.

Keempat, di tingkat terdalam, Iran masih hidup dalam narasi ketahanan dan perlawanan dengan mitologi kemartiran yang dibentuk oleh pengalaman panjang menghadapi tekanan eksternal.

Dari sinilah pemikiran Thucydides masih cukup relevan. Perubahan rezim tidak digerakkan oleh kemarahan massa semata, tetapi oleh pergeseran ketakutan, kepentingan, dan kekuatan di tingkat elite. Regime change terjadi ketika elite terfragmentasi dan kapasitas kekuasaan runtuh. Namun, hingga saat ini, tanda-tanda tersebut belum terlihat di Iran.

 

MELACAK AKAR KRISIS FINANSIAL YANG MENGGERAKKAN PROTES

Di balik lonjakan nilai tukar dolar dan melemahnya rial, terdapat satu variabel struktural yang kerap luput dari pemberitaan internasional. Aset Iran yang dibekukan di luar negeri akibat sanksi melebihi USD100 miliar. Sebagian besar dana tersebut berasal dari ekspor minyak dan gas yang secara administratif tercatat sah, tetapi ditahan di bank-bank asing karena sanksi primer dan sekunder. Ketika cadangan devisa besar tidak dapat dicairkan, bank sentral kehilangan ruang manuver, impor menjadi mahal, dan pasar valuta asing di dalam negeri memasuki fase spekulatif. Namun, dalam banyak narasi internasional, dimensi pembekuan aset itu justru disingkirkan.

Selama ini, krisis ekonomi di Iran kerap dipresentasikan sebagai kegagalan internal semata, padahal faktanya juga dipengaruhi oleh tekanan finansial kekuatan hegemoni global yang menginginkan perubahan rezim di Iran.

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya