Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ketika Indonesia Menjadi Rujukan Baru Keilmuan Islam Dunia

Mohsen Hasan A, Dewan Pakar DPP Partai NasDem, Pemerhati Sosial, Politik, Budaya, Pendidikan & Isu Global, Direktur Studi Islam dan Ilmu Filsafat
28/11/2025 19:36
Ketika Indonesia Menjadi Rujukan Baru Keilmuan Islam Dunia
Mohsen Hasan A, Dewan Pakar DPP Partai NasDem, Pemerhati Sosial, Politik, Budaya, Pendidikan & Isu Global, Direktur Studi Islam dan Ilmu Filsafat(Dok ist)

PERNYATAAN Menteri Agama RI Nasaruddin Umar bahwa kini orang Timur Tengah, orang Arab harus belajar Islam ke Indonesia memunculkan perbincangan luas di ruang publik. Sebagian mungkin terkejut, sebagian lain menganggap berlebihan. Namun jika ditelaah dengan lebih tenang, pernyataan tersebut sesungguhnya mencerminkan pergeseran besar dan positif dalam lanskap keilmuan Islam dunia.

Indonesia, dengan segala keragamannya, perlahan namun pasti tampil sebagai salah satu pusat pemikiran dan peradaban Islam kontemporer. Bukan dengan klaim kekuasaan, melainkan melalui keteduhan, keluasan pandangan, dan kematangan tradisi keilmuan.

Islam Indonesia: Warisan Teduh Teruji Sejarah

Islam tumbuh di Nusantara melalui jalur yang damai, penuh hikmah, dan disampaikan para ulama yang mengedepankan akhlak. Dari Aceh hingga Ternate, Islam datang sebagai cahaya yang menyatukan bukan memecah. 

Model dakwah seperti inilah yang melahirkan wajah Islam Indonesia:
- lembut namun berprinsip,
- moderat namun kuat secara dalil,
- toleran namun tidak kehilangan identitas.

Semua nilai inilah yang kini menjadi perhatian dunia Islam terutama di kawasan Timur Tengah yang dalam beberapa dekade terakhir menghadapi turbulensi sosial-politik dan ketegangan sektarian. Indonesia menawarkan contoh Islam yang ramah, stabil, dan selaras dengan kehidupan kebangsaan. Sebuah kualitas yang semakin dicari di dunia muslim modern.

Pesantren dan PTKIN: Lahan Subur Ilmu Mendunia

Salah satu kekuatan terbesar Indonesia adalah ekosistem pendidikannya.
Negeri ini memiliki:
- lebih dari 30.000 pesantren,
- ratusan universitas Islam,
- lebih dari satu juta sarjana agama,
- dan jurnal-jurnal akademik bertaraf internasional.

Ini bukan angka semata. Di balik itu ada proses panjang lahirnya ulama, intelektual, dan cendekiawan yang mampu menggabungkan turats klasik dengan metodologi ilmiah modern.Jurnal seperti Studia Islamika, Al-Jami’ah, dan Ulumuna telah masuk kategori tinggi di Scopus dan menjadi rujukan penelitian keislaman dunia.

Banyak akademisi dari negara Arab kini mengutip karya ilmuwan Indonesia dalam bidang:
- fiqh sosial,
- tafsir kontemporer,
- moderasi beragama,
- manajemen zakat-wakaf,
- dan relasi agama–negara.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar menjadi murid tetapi telah menjadi produsen pemikiran dan keilmuan.

Moderasi Beragama: Sumbangan Penting Indonesia untuk Dunia Islam

Salah satu kontribusi terbesar Indonesia adalah kemampuan mempraktikkan wasathiyah (moderasi) dalam konteks nyata. Tidak sekadar konsep tetapi menjadi budaya:
- Islam hidup berdampingan dengan keragaman suku dan agama,
- demokrasi berjalan tanpa menyingkirkan iman,
- kebebasan tumbuh tanpa kehilangan batas syariat,
- dialog lintas agama dilakukan tanpa menurunkan martabat Islam.

Dalam beberapa tahun terakhir, delegasi dari Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Oman datang khusus untuk mempelajari program moderasi beragama Indonesia. Mereka melihat bagaimana ulama, pemerintah, dan masyarakat bekerja bersama menjaga keteduhan beragama di tengah kompleksitas kemajemukan. Indonesia telah menjadi laboratorium keberagamaan yang berhasil.

Tradisi Keilmuan Nusantara Dihormati dalam Sanad dan Sejarah

Tidak banyak yang menyadari ulama Nusantara sejak abad ke-17 memiliki kiprah besar di Makkah dan Madinah. Para ulama Melayu-Jawi pernah membentuk al-Jawiyun Circle di Masjidil Haram, mengajar orang Arab, dan menulis karya yang masih tersimpan hingga kini.
Sanad ulama Indonesia bersambung langsung ke pusat-pusat ilmu di Haramain dan Hadramaut. Keturunan mereka baik ulama lokal maupun keturunan Hadrami menjadi penjaga tradisi keilmuan yang dalam dan bersih.

Kini, ketika Indonesia berkembang menjadi negara muslim besar dengan stabilitas sosial yang baik, tradisi keilmuan itu menemukan bentuk barunya: kuat dalam spiritualitas, kaya dalam metodologi, dan matang dalam pengalaman kebangsaan.

Indonesia Bukan Pengganti Timur Tengah Tetapi Mitra Peradaban

Pernyataan Menteri Agama sesungguhnya tidak sedang menepuk dada atau merendahkan siapapun. Ia menggambarkan kenyataan bahwa dunia Islam kini semakin multipolar: tidak lagi bergantung pada satu pusat, tetapi pada banyak simpul pengetahuan.
Timur Tengah tetap memiliki warisan ilmiah sangat besar. Namun Indonesia juga kini memiliki modal sosial, spiritual, dan intelektual yang menjadi rujukan baru. Keduanya bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk saling menguatkan.

Khulasoh: Cahaya dari Timur Jauh

Indonesia hari ini menjadi salah satu tempat di mana Islam dipelajari bukan hanya sebagai teks tetapi sebagai pengalaman hidup yang damai.
Ketika bangsa-bangsa mulai melihat ke sini, itu bukan karena kita lebih tinggi tetapi karena:
- Allah memberi kedamaian di negeri ini,
- ulama menjaga akhlak ilmunya,
- dan umat menjadikan agama sebagai jalan tengah, bukan medan pertengkaran.

Jika Timur Tengah mulai belajar dari Indonesia, itu pertanda baik: Islam sedang memasuki fase baru di mana cahaya ilmu tersebar ke segala penjuru termasuk dari negeri yang dulu dikenal sebagai Tanah Jawi. Dan mungkin inilah salah satu peran terbaik yang bisa diberikan Indonesia untuk dunia: menjadi teladan Islam yang teduh, cerdas, dan mempersatukan. (H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik