Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
TES kemampuan akademik (TKA) baru saja selesai dilaksanakan pada awal November ini. Menurut Kemendikdasmen, tercatat sekitar 3,5 juta pelajar kelas XII mendaftar sebagai peserta. Berbeda dengan ujian nasional, TKA diposisikan bukan sebagai high-stake testing dan bersifat opsional. Namun, kebanyakan orangtua dan guru tetap mendorong siswa kelas XII untuk tetap mendaftar. Mengapa ujian yang bersifat opsional justru menjadi wajib? Hal ini bisa terjadi karena kita belum sepenuhnya bergeser dari pola high-stake testing era ujian nasional. Itu merefleksikan budaya ujian yang mendominasi proses pendidikan di sekolah.
Budaya ujian ini juga ditandai oleh keyakinan orangtua dan guru bahwa ujian eksternal lebih kredibel untuk memotret hasil belajar siswa. Inflasi nilai, misalnya, menjadi salah satu indikator lemahnya kredibilitas laporan belajar siswa. Kondisi ini berujung pada ketidakpercayaan atas laporan belajar dari sekolah sehingga orangtua dan guru mendorong siswa untuk mengikuti TKA untuk memperkuat kredibilitas portofolio mereka.
DAMPAK BUDAYA UJIAN TERHADAP PROSES BELAJAR
Ketidakpercayaan ini tidak hanya berujung pada tekanan untuk mengikuti ujian, tapi juga menggerus hakikat proses belajar itu sendiri. McDermott (2011) berargumen bahwa siswa yang kerap diuji secara eksternal mengenai apa yang mereka telah pelajari, lambat laun akan berhenti belajar untuk perubahan internal, baik itu perubahan pengetahuan, perilaku, dan nilai.
Ungkapan ini berdasar pada asumsi bahwa tidak ada dualisme antara belajar dan bertindak. Pada hakikatnya, belajar ialah tindakan yang tertanam dalam pengalaman. Namun, jika pengalaman belajar siswa hanya berpusat pada menjawab ujian eksternal, belajar pun berubah menjadi sekadar persiapan ujian, bukan untuk mengubah perilaku dan kehidupan mereka.
Di kelas pun, hal itu bisa dilihat dari perilaku siswa meminta skor dari setiap tugas yang mereka kumpulkan. Motivasi untuk belajar sebagai proses alami untuk mencari tahu dan mencari solusi dari masalah melalui pengalaman belajar justru berubah menjadi mencari nilai atau angka semata.
Padahal, pada awalnya angka berfungsi sebagai simbol untuk mengomunikasikan kemajuan belajar dan memberikan umpan balik meskipun tidak ideal untuk fungsi tersebut. Namun, seiring dengan waktu, angka berubah menjadi simbol pencapaian dan bukti hasil belajar, bahkan lebih penting dari hasil belajar yang dampaknya bisa dirasakan oleh siswa sendiri.
Kedua ilustrasi di atas dengan jelas menunjukkan bagaimana budaya ujian yang dominan memisahkan belajar dari perubahan perilaku. Jika belajar hanya untuk ujian, skor menjadi akhir dari perjalanan, bukan awal dari pemahaman yang lebih dalam. Budaya ujian bukan hanya masalah teknis, melainkan juga masalah paradigma. Selama kita memandang ujian sebagai satu-satunya bukti belajar, proses pendidikan akan terus terjebak dalam lingkaran skor dan angka. Padahal, belajar seharusnya mengubah cara kita memahami dunia dan bertindak di dalamnya.
FUNGSI DIAGNOSTIK DARI ASESMEN FORMATIF
Jika kita ingin pendidikan yang lebih bermakna, kita harus menggeser fokus dari ujian sebagai penentu ke ujian sebagai salah satu alat belajar. Pendekatan ini, yang dikenal sebagai asesmen formatif (assessment for learning), bertujuan bukan sekadar mengukur siapa yang 'paham' dan yang 'tidak', melainkan untuk membantu guru dan siswa memperbaiki proses belajar itu sendiri.
Contohnya, guru yang memberikan pertanyaan, "Sebutkan apa yang kamu ketahui mengenai daur hidup makhluk hidup?' Itu akan mendapatkan data yang berbeda dengan guru yang bertanya: "Apa yang membuat kupu-kupu dan kodok memiliki daur hidup yang sama atau berbeda?"
Pertanyaan pertama dapat memberikan informasi mengenai apa yang diketahui oleh siswa dan bersifat performatif. Sementara itu, pertanyaan yang kedua memberikan informasi lebih menyeluruh. Jawaban siswa akan memberikan gambaran mengenai bagaimana mereka memahami daur hidup dengan membandingkan pola untuk hewan yang berbeda. Pertanyaan seperti inilah yang bersifat diagnostik.
Dalam budaya ujian yang dominan, kebanyakan guru akan menggunakan pertanyaan yang bersifat performatif untuk mendapatkan data mengenai siswa dan membuat kategori siswa yang sudah paham dengan yang belum. Biasanya guru menggunakan skor jawaban tersebut untuk melakukan kategorisasi. Padahal, data ini belum tentu dapat digunakan untuk mengidentifikasi apa yang dipahami berbeda oleh siswa satu dengan yang lainnya.
Pertanyaan kedua sering digunakan dalam konteks asesmen formatif. Data yang didapatkan memandu guru mengidentifikasi pemahaman yang keliru tentang daur hidup sekaligus membantu siswa menyadari kesalahan pemahaman mereka. Kemudian guru dapat menindaklanjuti dengan merancang kegiatan belajar baru, dan inilah yang disebut oleh Black & William (1998) sebagai responsive teaching. Pengajaran yang dinamis dan merespons bagaimana siswa berkembang seiring dengan waktu.
MENYEIMBANGKAN PENDEKATAN ASESMEN
Dengan kembali pada asumsi awal bahwa belajar dan tindakan ialah satu kesatuan, fungsi asesmen formatif menjadi jelas: ia menyatukan proses belajar dengan perubahan perilaku. Ujian dalam pendekatan ini memiliki orientasi dan fungsi yang berbeda serta terintegrasi dengan proses perubahan pemahaman siswa. Oleh karena itu, untuk mengikis dominasi budaya ujian, pendekatan asesmen formatif harus menjadi norma baru di dalam kelas.
Perubahan ini diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara asesmen eksternal dan asesmen internal di kelas.
Untuk itu, guru memerlukan pembekalan yang tepat, sementara sekolah perlu merancang kebijakan asesmen yang memberikan ruang bagi praktik ini. Orangtua perlu mendapatkan informasi mengenai apa yang menjadi tujuan utama dari pendekatan ini tanpa menimbulkan kekhawatiran baru mengenai kredibiltas laporan belajar anak mereka. Di atas semua itu, siswa perlu mendapatkan pengalaman belajar yang tuntas berpandu pada umpan balik yang autentik.
Mengubah budaya ujian bukan sekadar mengganti format tes, tetapi juga mengubah cara pandang kita tentang fungsi dan peran ujian dalam proses belajar. Dengan menjadikan asesmen formatif sebagai praktik sehari-hari, siswa tidak hanya akan memahami suatu konsep, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam tindakan yang tepat. Inilah langkah menuju pendidikan yang mendalam dan lebih bermakna.
Data hasil TKA menjadi salah satu rujukan pemerintah dalam memetakan capaian pendidikan antarwilayah.
Kemendikdasmen berkomitmen menyempurnakan TKA melalui evaluasi berkelanjutan dan dialog dengan pemangku kepentingan.
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang dirilis Kemendikdasmen harus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran nasional.
DI banyak ruang kelas Indonesia, angka-angka hasil penilaian sering hadir tanpa makna yang benar-benar dipahami.
PADA November 2025 dunia pendidikan kita dikejutkan oleh dua peristiwa yang menyita perhatian nasional.
Abdul Mu’ti menjelaskan sejumlah kendala teknis yang sempat mengganggu pelaksanaan TKA. Salah satunya adalah cuaca ekstrem yang menyebabkan pemadaman listrik di wilayah NTT.
PENDIDIKAN kerap dimaknai sebatas proses belajar-mengajar di ruang kelas. Padahal, mutu pendidikan sesungguhnya dibangun oleh sebuah ekosistem yang lebih luas.
MENTERI Kesehatan memiliki ambisi besar untuk mereformasi sistem pendidikan dokter spesialis di Indonesia.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepala Sekolah dan Tenaga Kependidikan (Tendik) Sekolah Rakyat (SR) se-Jawa Timur.
Pelaksanaan TKA SD dan SMP tahun 2026 diawali dengan pendaftaran peserta 19 Januari hingga 28 Februari 2026,
Peran warga sekolah, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan murid, sangat strategis dalam memastikan sekolah aman dan nyaman.
Kesejahteraan siswa merupakan faktor penting yang selama ini kurang diteliti di Indonesia, padahal sangat berpengaruh pada perkembangan psikososial dan prestasi akademik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved