Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
MESKIPUN berdasarkan Surat Edaran PGRI Nomor 447/Um/PB/XIX/2007 tanggal 27 November 2007 secara resmi lirik lagu Hymne Guru yang diciptakan (alm) Sartono tidak lagi menyatakan guru sebagai pahlawan tanda jasa, narasi bahwa guru adalah 'pahlawan'--dan lebih lagi 'tanpa tanda jasa'--telanjur melekat di benak banyak orang Indonesia. Secara global, guru sebagai 'pahlawan' telah dianggap sebagai kebenaran tak terelakkan.
Masyarakat membangun narasi ini untuk merepresentasikan kekaguman terhadap profesi yang lekat dengan dedikasi dan pengorbanan. Guru dipandang sebagai mentor, sumber ilmu, sekaligus jaminan masa depan murid-muridnya. Sosok guru banyak digambarkan sebagai manusia yang berbuat melebihi harapan kebanyakan manusia. Karena itu, di berbagai budaya dan masyarakat, profesi guru selalu menempati posisi terhormat.
Namun, benarkah narasi 'guru sebagai pahlawan' tepat? Apakah kepahlawanan yang disematkan memberikan keuntungan pada guru dalam menjalankan tugasnya? Lebih jauh, apakah menempatkan 'guru sebagai pahlawan' adalah salah satu cara yang tepat untuk memperbaiki kualitas pendidikan kita?
NARASI KEPAHLAWANAN
Pahlawan atau hero (dan heroine) berasal dari kata dalam bahasa Yunani, heros, yang dimaknai sebagai pelindung (protector) atau penjaga (safeguard). Terminologi ini telah mengalami perubahan seiring waktu. Dalam mitologi Yunani kuno, heros merujuk pada figur dengan kemampuan super--sering kali perpaduan dewa dan manusia--yang melakukan kebaikan seperti memerangi monster.
Pada masa modern, sebutan pahlawan berkembang dan identik dengan pahlawan perang, mereka yang biasanya menunjukkan keberanian, pengorbanan (bahkan mengorbankan hidup mereka), seiring dengan berbagai kualitas diri atau karakter baik (noble qualities) seperti teguh pendirian, dapat dipercaya, integritas/jujur, berkehendak kuat, dan sebagainya.
Oleh karena itu, kita menemukan pahlawan dalam banyak aspek kehidupan, seperti paramedis, pemadam kebakaran, dan tenaga kesehatan garda depan.
Dalam banyak narasi, baik yang autentik maupun yang sengaja dikonstruksi, guru hampir selalu dilukiskan sebagai sosok yang penuh dengan kebaikan. Kalaupun ada kisah buruk tentang seorang guru, pesan moralnya tetap sama. Kisah itu justru menggambarkan kualitas yang tidak diharapkan dari seorang guru sehingga pada akhirnya ia dianggap tidak pantas menyandang gelar tersebut.
Dalam perjalanan sejarah di Indonesia, bahkan guru pernah identik dengan istilah 'pahlawan tanpa tanda jasa' yang dimaknai sebagai perayaan penghargaan terhadap kerja tanpa pamrih, pengorbanan di jalan sunyi, dan kerendahan hati demi orang lain: murid mereka. Kisah tentang guru sering didominasi gambaran kerasnya kehidupan mereka: gaji yang kecil, medan yang sulit, dan fasilitas sekolah yang tidak layak.
Kondisi ini lalu dikontraskan dengan dedikasi serta perjuangan mereka yang dianggap berada di luar nalar kebanyakan orang. Mereka tetap bekerja, mendidik anak bangsa demi masa depan yang lebih baik. Banyak kisah kehidupan nyata guru di Indonesia yang dapat kita temui dan mewakili narasi 'pahlawan tanpa tanda jasa' ini. Kisah perjuangan guru di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar, misalnya, selalu menyentuh hati sekaligus menumbuhkan optimisme bagi pendidikan yang lebih baik di Indonesia.
GURU PAHLAWAN
Meskipun kisah-kisah ini patut dihargai, patut dipertanyakan apakah narasi guru sebagai pahlawan sesungguhnya menguntungkan bagi guru dan dunia pendidikan? Terdapat sisi yang kurang menguntungkan dalam narasi guru sebagai pahlawan. Salah satunya adalah devaluasi profesi, yang mana narasi guru sebagai pahlawan justru memberikan peluang bagi penurunan makna bagi profesi guru sendiri.
Tidak hanya itu, narasi yang membangun asumsi bahwa mendidik anak adalah sekadar panggilan hidup yang heroik dan bentuk murni dari pengorbanan cenderung mengarahkan bahwa penghargaan untuk kerja-kerja mendidik adalah imbalan yang bersifat moral, bukan material. Karena itu, ekpektasi kemartiran ini sering menjadi dasar rasionalisasi untuk gaji, perhatian, dan fasilitas yang kurang memadai.
Anggapan umum yang dibangun adalah bahwa pahlawan sejati hanya membutuhkan keberhasilan anak didiknya sebagai kompensasi. Meskipun guru akan dipuji dan diucapkan selamat atas prestasi muridnya, narasi ini sesungguhnya hanya mengalihkan beban tanggung jawab. Tugas keberhasilan pendidikan seolah-olah hanya berada di pundak guru, dan bukan pada negara dan masyarakat yang seharusnya menyediakan dana serta dukungan yang memadai.
Narasi guru adalah pahlawan juga menempatkan guru bekerja dalam situasi kerja yang sering tidak masuk akal. Karena 'pahlawan' adalah sosok yang melampaui kebanyakan orang lain, guru sering diharapkan melakukan banyak hal di luar kapasitas normal mereka. Mereka diharapkan berperan layaknya manusia super: menjadi konselor, motivator, pekerja sosial, dan orangtua pengganti.
Di saat yang sama, mereka juga harus berjibaku mengelola kelas yang kerap terlalu besar sambil menghadapi tuntutan birokrasi yang kompleks dan tanpa henti. Dalam situasi semacam ini, ancaman burn out atas profesionalisme mereka dan kelelahan emosional menjadi sangat dekat dan nyata. Karena itu, jika guru gagal memenuhi tugas dan harapan atas kerja, mereka dengan mudah berada dalam pilihan antara 'pahlawan' atau 'pihak yang harus disalahkan'.
Secara struktural, narasi kepahlawanan guru berpotensi mengaburkan kegagalan sistemis dalam sistem pendidikan. Fokus pada upaya heroik guru dalam mendidik, mengalihkan perhatian banyak masalah struktural pendidikan seperti kemiskinan, ketimpangan, ketidakadilan, dan kebijakan pendidikan yang tidak memadai (Pandolpho: 2019; Leland: 2019).
Saat guru dipuji karena menembus hutan atau mengorbankan gaji untuk fasilitas sekolah, perhatian mudah tertuju pada pengorbanan inspiratif individu alih-alih pada kegagalan sistem yang memaksa mereka berkorban. Narasi semacam ini hanya akan membebaskan pembuat kebijakan dan masyarakat luas dari tanggung jawab untuk mewujudkan pendidikan yang adil dan bermartabat. Seolah masalah pendidikan dapat diatasi dengan menugaskan banyak individu yang berdedikasi dan siap berkorban dan bukan pada upaya perbaikan struktural yang terukur dan menimbang prinsip keadilan.
Narasi kepahlawanan guru mungkin berangkat dari niat baik. Namun, tanpa perhatian pada persoalan struktural, narasi kepahlawanan guru hanyalah hiburan semu yang tidak mengatasi akar masalah pendidikan. Menjadikan guru sebagai awal perbaikan mutu pendidikan adalah langkah krusial. Peningkatan kapasitas guru adalah sebuah keniscayaan. Namun, menjadikan guru sebagai pahlawan tanpa dukungan sistem yang nyata justru merupakan pilihan yang keliru dan perlu kita tinggalkan.
KEGELISAHAN guru terhadap kehadiran teknologi di ruang kelas kerap dianggap sebagai gejala baru.
Guru dan mahasiswa dilibatkan dalam pendidikan gizi di sekolah penerima MBG untuk meningkatkan kesadaran nutrisi dan mengoptimalkan konsumsi makanan siswa.
Saat harga tiket masuk ke museum murah saja, faktanya minat publik untuk wisata edukasi masih rendah.
MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengatakan kementeriannya memberikan bantuan kepada ribuan guru korban bencana Sumatra berupa banjir bandang.
INDONESIA ialah negeri yang tak terpisahkan dari dinamika alamnya.
Perpanjangan waktu ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mendorong peningkatan profesionalisme dan kesejahteraan guru melalui sertifikasi pendidik.
KITA sering mengenang para pahlawan, tetapi jarang menghidupkannya kembali dalam tindakan dan kehidupan nyata. S
Nama Achijat tercantum di plat kuning yang terpampang di Museum Tugu Pahlawan bersama tokoh heroik Bung Tomo atau Sutomo, dan lain lain.
Jenderal Sarwo Edhie Wibowo masuk ke daftar pahlawan nasional Indonesia, dalam peringatan hari Pahlawan Nasional, Senin 10 November 2025.
Tidak hanya berkecimpung di dunia akademik, Prof. Mochtar juga berkiprah di bidang pemerintahan. Ia pernah menjabat Menteri Kehakiman dan Menteri Luar Negeri.
Presiden Prabowo Subianto menyerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto, yang diterima oleh putri sulungnya Siti Hardijanti Rukmana.
Salah satu yang menerima gelar pahlawan nasional dari Presiden Prabowo Subianto di Hari Pahlawan 2025 adalah mantan presiden Soeharto.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved