Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Peringati Hari Pahlawan, Mengenang Sosok Heroik Letnan Achiyat

Syarief Oebaidillah
11/11/2025 21:36
Peringati Hari Pahlawan, Mengenang Sosok Heroik Letnan Achiyat
Ilustrasi(Dok ist)

SETELAH Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, situasi Indonesia belum stabil karena belum banyak negara mengakui kemerdekaan RI. Pada pertengahan September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta dan mereka berada di Surabaya pada 25 September 1945. Tentara Inggris sebagai pasukan sekutu yang baru memenangkan Perang Dunia 2, tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) datang bersama dengan tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Tugas mereka adalah melucuti tentara Jepang dan memulangkan mereka ke negaranya, membebaskan tawanan perang yang ditahan oleh Jepang, sekaligus mengembalikan kekuasaan Belanda.

Saat situasi di Jakarta tenang  dan kondusif, ternyata rakyat Surabaya tidak dapat menerima Belanda untuk kembali berkuasa dengan dukungan sekutu. Perlawanan rakyat Surabaya ditandai dengan perobekan bendera Belanda di atas hotel LMS (Yamato, sekarang Majapahit) tanggal 19 September 1945. Dan sejak itu terjadilah terjadilah pertempuran di banyak tempat di Surabaya. Puncaknya pertempuran 10 Nopember 1945 yang mengakibatkan 20.000 korban jiwa rakyat Surabaya dan sekitar 1.600 prajurit sekutu.

Peringatan Hari Pahlawan yang digelar setiap tanggal 10 November pada tahun 2025 ini diwarnai polemik atas anugerah gelar pahlawan pada tokoh tertentu. Terlepas pro kontra yang terjadi, peringatan Hari Pahlawan disematkan pada kisah heroik para pejuang bangsa negeri ini dalam  pertempuran besar di Surabaya, 10 November 1945.

Di antara tokoh heroik pada peristiwa heroik tersebut ,terdapat sosok Letnan Achiyat yang  dikenal sebagai Alap-alap Simokerto yang terkenal kisah perjuangannya saat mempimpin pasukan berani mati, khususnya di kalangan masyarakat Surabaya.

Letnan Achijat  bertempur hebat melawan pasukan sekutu Inggris pada 10 November 1945 di Surabaya. Dan pertempuran besar itu dipantik oleh terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, pemimpin Tentara Inggris untuk Jawa Timur pada 30 Oktober 1945.

Kendati  masih tidak diketahui secara pasti di tangan siapa tewasnya Jenderal Mallaby. Namun, Letnan Achijat diduga pelaku penembak jitu  yang menembak Jenderal Mallaby tersebut. Karena saat itu pembunuh Mallaby menjadi penjahat perang paling dicari, maka hanya segelintir pejuang yang tahu siapa pelakunya, dan tetap tutup mulut.

Menurut salah seorang putra almarhum Akbar Achiyat, pada tahun 1973 saat akan menunaikan ibadah haji, dalam sambutan perpisahan keberangkatan yang ada rekaman aslinya, Moch. Achijat baru mengakui bahwa dialah yang menghabisi Mallaby di dalam mobil Buicknya.

Akbar mengungkapkan dalam  buku Perjuangan Laskar Hizbullah di Jawa Timur, ditulis juga di halaman 155, 185, 186, bahwa "yang mengoordinasi penyerangan arek-arek Suroboyo adalah Cak Achiyat, pemuda Ansor yang bergabung dalam pasukan Hizbullah."

Selain itu, lanjutnya, sejumlah  dokumen Inggris menyebutkan jika pelaku penembakan Mallaby merupakan sniper berusia 16-17 tahun. Letnan Achijat pada saat terjadinya peristiwa tersebut berusia 17 tahun. Ia juga seorang sniper andal.

Letnan Achijat merupakan salah satu tokoh pejuang yang lahir di Simokerto, Surabaya. Sosok Letnan Achijat turut berjasa besar dalam perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Surabaya.

Perang  heroik 10 November 1945 merupakan pertempuran besar pertama usai kemerdekaan RI di mana ribuan tentara dan rakyat Surabaya yang ikut mengangkat senjata gugur.Namun pengorbanan besar para pejuang 10 November ini menjadi diantara sebab dunia internasional mengetahui dan mengakui kemerdekaan RI.

Nama Achijat tercantum di plat kuning yang terpampang di Museum Tugu Pahlawan bersama tokoh  heroik Bung Tomo atau Sutomo, dan lain lain.
Pada tahun 1976 Letnan Achiyat wafat akibat kecelakaan di Surabaya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan ( TMP) Ngagel. 

Akbar Achiyat yang merupakan alumni FISIP UI dan, salah satu putra almarhum, berharap bahwa generasi muda dapat memahami betapa pentingnya Hari Pahlawan. "Setelah memproklamasikan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan tidak kalah penting pula saat mempertahankan kemerdekaan itulah pengorbanan puluhan ribu nyawa pejuang yang membuat kemerdekaan Indonesia diakui secara internasional," pungkas Akbar kepada Media Indonesia di Jakarta, Selasa (11/11). (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik