Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Pahlawan: Dikenang atau Dihidupkan?

Agus Trihartono Guru Besar Departemen Hubungan Internasional, Universitas Jember
20/11/2025 05:00
Pahlawan: Dikenang atau Dihidupkan?
(MI/Seno)

KITA sering mengenang para pahlawan, tetapi jarang menghidupkannya kembali dalam tindakan dan kehidupan nyata. Salah satu paradoks bangsa ini ialah acap kali lebih fasih memuja masa lalu, tetapi pelit menyalakan keberanian yang sama di masa kini. Kepahlawanan sering diejawantahkan dalam upacara tahunan, bukan dalam napas kehidupan sehari-hari.

Kepahlawanan sejatinya selalu menjadi jalan pulang bagi sebuah bangsa. Kepahlawanan mengingatkan pada nilai-nilai yang pernah membuat negeri ini tegak di bawah langit yang tidak selalu ramah. Namun, dalam dunia mutakhir yang semakin digital dan seremonial, makna kepahlawanan kerap kehilangan daya getar.

Kita merayakan Hari Pahlawan dengan parade dan unggahan, seolah sudah cukup dalam menunaikan bakti kepada sejarah dan ibu pertiwi. Padahal, seperti diingatkan Benedict Anderson (1991), sebuah bangsa hanya bisa hidup bila imajinasinya terus diperbarui oleh kesadaran moral. Tanpa itu, pahlawan hanya tinggal nama kaku di tugu dan gambar beku di tembok sekolah.

Kini, generasi muda, baik Z maupun setelahnya, tumbuh dalam dunia yang hampir sepenuhnya baru. Mereka lahir dalam banjir informasi, di mana nilai-nilai dapat dipertanyakan dan setiap otoritas dapat digugat. Karena itu, tidak sedikit dari mereka menolak heroisme yang hanya berwujud seremonial apalagi glorifikasi. Mereka menuntut makna, keaslian, bahkan bukti nyata bahwa keberanian masih mungkin hidup. Di tangan generasi ini, kepahlawanan menjelma menjadi aksi sehari-hari, tertuang dalam membela keadilan sosial, menolak korupsi, atau menyuarakan isu lingkungan tanpa takut berbeda dengan suara arus utama.

Selain itu, gerakan digital menjadi wajah baru dari perjuangan. Dari kampanye lingkungan di media sosial hingga solidaritas lintas komunitas atas nama keadilan gender, kemanusiaan, dan bahkan kebangsaan. Gerakan ini nyata dan menjelma.

Generasi ini bisa jadi sedang menulis babak kepahlawanan yang berbeda. Mereka mungkin tidak selalu berseragam dan berbaris di medan laga. Tetapi, mereka berperang melawan lupa, melawan kebisuan, serta melawan kemapanan yang mengorbankan nurani.

 

TANTANGAN

Definisi kepahlawanan pun agaknya mulai bergeser dari heroisme perang menuju keberanian moral. Karena, di masa depan, tantangan bangsa ini tidak melulu datang dari negara lain dengan moncong senjata, melainkan dari ketimpangan pengetahuan dan penguasaan teknologi. Dalam konteks itu, pahlawan adalah mereka yang berani mengembalikan kemerdekaan berpikir, serta menjaga agar teknologi tetap menjadi alat, bukan tuan. Ini bukan sekadar tanggung jawab moral, tapi juga strategi bertahan sebagai bangsa berdaulat di tengah kekuatan global yang makin terkonsentrasi.

Juga, tantangan zaman ini tidak kalah berbahaya dari masa kolonial. Dulu penjajahan datang lewat meriam dan kapal dagang. Sekarang ia menyusup lewat algoritma dan dominasi data. Seperti diingatkan oleh ekonom Yanis Varoufakis (2023) dengan menyebutnya sebagai technofeudalism, sebuah model relasi kekuasaan baru di mana segelintir korporasi digital menukar kebebasan dengan kenyamanan. Perlahan, kedaulatan manusia direduksi menjadi sekadar ‘pengguna’, dan kemerdekaan berubah menjadi pilihan terbatas di gawai ponsel.

Oleh karena itu, makna kepahlawanan abad ini bisa jadi sangat berbeda dengan makna dalam teks dan konteks lama. Kepahlawanan menuntut keberanian berpikir kritis dan tetap menjaga martabat manusia di tengah dominasi teknologi. Pahlawan masa kini, karenanya, adalah mereka yang tidak tunduk kepada algoritma, yang menolak menjadi angka dalam statistik, serta yang berani berkata tidak ketika sebagian besar memilih diam. Kepahlawanan bukan lagi semata pengorbanan fisik, melainkan perjuangan mempertahankan kesadaran dan nilai kemanusiaan.

Menjelang Indonesia Emas 2045, generasi baru ini akan memegang kendali sejarah. Mereka adalah ahli waris sekaligus pembaru. Namun, warisan itu hanya bermakna bila nilai kepahlawanan tidak berhenti pada ingatan, melainkan dihidupkan dalam tindakan. Karenanya, menjadi pahlawan di masa ini berarti menjaga integritas di tengah godaan pragmatisme, menolak korupsi di tengah kebiasaan kompromi, serta menghidupkan nurani di tengah derasnya teknologi nirhati.

Lebih dari itu, menghidupkan semangat kepahlawanan juga berarti menolak banalitas politik dan pragmatisme moral. Intelektual terkemuka, Soedjatmoko (1985), pernah menulis, bangsa ini hanya akan besar bila ia tahu apa yang diperjuangkannya. Maka, tugas generasi hari ini tak hanya mengenang, tapi juga meneruskan pergulatan nilai yang dulu diperjuangkan para pahlawan dengan cara yang sesuai dengan tantangan kini.

Pada akhirnya, kepahlawanan tidak selalu memerlukan seragam formal. Ia justru sering menjelma dalam kejujuran ketika dunia menertawakan autentisitas, empati di tengah jarak sosial yang diperlebar oleh teknologi, dan kesetiaan kepada cita-cita bersama ketika semua sibuk dengan kepentingan pribadi. Di sinilah nilai itu hidup kembali, bukan di monumen, bukan hanya di upacara, melainkan di hati yang tetap setia kepada kebenaran.

Mungkin, generasi muda kita tidak perlu menunggu medan perang untuk menjadi pahlawan. Cukuplah bila setiap hari bisa melawan ketidakpedulian, menolak kemunafikan, dan berpihak kepada kebenaran. Sebab, pada akhirnya, pahlawan sejati bukanlah mereka yang diingat, melainkan mereka yang dihidupkan, dalam tindakan, dalam nurani, dan dalam keberanian menjadi manusia di tengah dunia yang perlahan semakin tereduksi kemanusiaannya.

Mungkin di situlah bangsa ini menemukan jalan pulangnya kembali. Setiap zaman selalu melahirkan bentuk perjuangan sendiri dan setiap generasi diberi kesempatan untuk menjawab tantangan dengan caranya sendiri. Bila generasi terdahulu berjuang menegakkan kemerdekaan, maka generasi kini berjuang menegakkan kesadaran. Bahwa menjadi pahlawan bukanlah tentang mati untuk negeri, melainkan hidup sepenuhnya untuk menjaganya.

 

TELADAN

Sejarah telah memberi kita banyak nama besar. Namun, masa depan Indonesia tidak hanya memerlukan nama untuk diingat, tetapi juga teladan untuk dihidupkan. Setiap generasi harus menemukan cara sendiri untuk pulang pada makna kepahlawanannya, yakni bekerja dengan hati, berpikir dengan jernih, dan berjuang tanpa pamrih.

Sebab, menjadi pahlawan, pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak dikenang, melainkan seberapa besar menjadi inspirasi untuk terus menjaga kehidupan dan kemanusiaan agar tetap berharga.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik