Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Guru Muda Indonesia

Nunuk Suryani Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen RI
10/11/2025 05:05
Guru Muda Indonesia
(MI/Duta)

LAHIRNYA ikrar bersama yang diucapkan pada 28 Oktober 1928 oleh kaum muda Indonesia dari berbagai daerah Nusantara menandai lahirnya kesadaran nasional dalam bersatu demi cita-cita kebangsaan. Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 merupakan tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kaum muda saat itu punya tekad sama untuk membangun bangsa yang merdeka dan berdaulat meskipun latar belakang beragam suku, agama, dan daerah.

Kaum muda pada saat itu berhasil membentuk fondasi kuat yang bernama nasionalisme tanpa pijakan etnisitas atau daerah, tetapi pada identitas bersama sebagai bangsa Indonesia. Kaum muda tidak lagi sempat melihat ada daerah tertinggal, terdepan dan terluar (istilah daerah 3T) yang memiliki peta pembangunan rendah dan berlokasi di perbatasan atau tapal batas negara. Namun, kaum muda saat itu siap dalam membangun napas keindonesiaan demi tegaknya bangsa Indonesia.

Dalam hal ini, Sumpah Pemuda ternyata tidak hanya melahirkan sebuah ikrar kebangsaan semata, tetapi juga cita-cita atas pendidikan nasional. Bagaimana membangun keseimbangan antara pendidikan sekolah dan pendidikan di rumah ataupun satu nilai pengetahuan dan nilai keteladanan. Saat kaum muda debat tentang pendidikan membentuk manusia merdeka, muncul tanda tanya atas relasi pendidikan dan guru dalam mengisi semangat kemerdekaan.

 

KOMPETENSI LEBIH

Alangkah hebatnya, bagi guru muda Indonesia sebagai sarjana terpilih yang direkrut, dilatih, dan dikirimkan membersamai rakyat sebagai guru di pelosok Nusantara sudah harusnya lebih berbangga. Paradigma guru yang harus selalu minta digugu (ikuti) dan ditiru (bersamai) sering kali kandas saat berhadapan dengan kenyataan mengingat guru muda harus mengajarkan kerendahan hati. Kebanggaan atas kecerdasan saat di bangku kuliah, kemudian tersadar bahwa dalam dunia pendidikan selalu ada langit di atas langit.

Guru muda harus memahami bahwa cara terbaik untuk belajar ialah dengan bertanya. Dengan bertanya, guru muda menjadi sadar bila banyak orang pintar dan baik yang tinggal di ujung Nusantara. Masih banyak orang baik yang lebih inspiratif di negeri ini dan sudah waktunya guru muda melakukan terobosan untuk dunia pendidikan Indonesia. Artinya, guru muda harus terlebih dahulu mengenal nusantara yang seutuhnya mengingat untuk menghasilkan karya besar bagi Indonesia harus mengenalnya terlebih dahulu.

Sebagai guru muda, kiranya harus paham bahwa Indonesia bukan hanya sebatas kota, melainkan juga berbagai ranah kehidupan desa yang tidak muncul diberita, tapu memiliki etika dan norma pendidikan yang lebih membahana. Bagi guru muda, di mana pun penempatan semestinya tidak lagi menjadi persoalan. Berpijak dari daerah penempatan, guru muda diharapkan mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak. Guru muda harus berbaur dengan anak-anak di daerah dengan cara mengajar yang kreatif di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.

Guru muda harus lebih mengenal pada konteks akar rumput Indonesia melalui interaksi dengan masyarakat dari level desa hingga kabupaten. Guru muda harus membangun rasa persaudaraan ke seluruh pelosok negeri agar semakin merajut tenun kebangsaan Indonesia. Di sinilah guru muda belajar tentang kepemimpinan pendidikan selama penempatan supaya punya pemahaman utuh terhadap akar rumput rakyat Indonesia.

Guru muda Indonesia harus percaya bahwa kualitas pendidikan suatu daerah sangat tergantung bagaimana rakyatnya turut andil menciptakan ekosistem pendidikan yang baik. Kompetensi yang dimiliki guru muda dapat membantu dan mendorong rakyat semakin berdaya menciptakan ekosistem pendidikan yang baik dan bermartabat. Pada akhirnya, berpijak dari guru muda akan bisa melahirkan generasi muda terbaik yang bakal terlibat keterwakilannya dalam kompetensi kelas dunia.

 

LEBIH PEDULI PENDIDIKAN

Penulis paham bahwa guru muda terus dipacu kompetensinya. Tantangan guru muda dalam taraf melahirkan anak didik berkompeten mengusik setiap langkahnya. Guru muda kini harus lebih cekatan dalam membangun interaksi di internal sekolah. Dia harus terlibat aktif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dan melibatkan guru dan kepala sekolah dalam kegiatan intrakurikuler dengan metode belajar kreatif atau ekstrakurikuler. Inovasi harus dibangun dalam benak guru muda jika ingin membangun kompetensi pendidikan berkelas dunia.

Dalam perannya, guru muda harus tampil sebagai generasi yang berakhlak mulia. Muncul keprihatinan terhadap fenomena di kalangan guru, khususnya guru muda yang terkadang kurang bijak dalam menggunakan media sosial. Saat menyampaikan pendapatnya saja, guru muda sering lupa dengan bahasa yang kurang pantas. Karena itu, pada era digital, kecakapan bermedia sosial, tutur kata yang santun, dan etika publik bagi seorang guru muda ialah bagian dari integritasnya sebagai seorang pendidik.

Di samping itu, guru muda tidak boleh seperti katak dalam tempurung, tetapi harus lebih aktif dalam pelibatan masyarakat. Guru muda perlu terlibat aktif dalam kegiatan di tengah masyarakat serta mendorong untuk meningkatkan kapasitasnya. Guru muda harus membangun kepercayaan diri dan masyarakat dalam rangka mengelola sumber daya, mengambil keputusan, berjejaring, dan berkolaborasi dengan penggerak dunia pendidikan yang ada di sekitarnya.

Bahkan, kalau guru muda ingin memiliki kemampuan lebih, dia harus terlibat dalam kebijakan pendidikan daerah. Guru muda perlu terlibat aktif dalam rangka membangun pendidikan di daerahnya. Guru muda juga harus terus memelihara, menjalin komunikasi, dan mengembangkan jejaring pendidikan yang berkelanjutan, baik antaraktor pendidikan daerah maupun antardaerah demi membangun dunia pendidikan yang lebih transformatif.

Apalagi oase dunia pendidikan nasional direspons pemerintah melalui program prioritas Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi calon guru, yang mana program itu mayoritas pesertanya adalah guru-guru berusia muda. Agenda PPG adalah mewujudkan pendidikan guru professional, berakhlak mulia, dan sejahtera demi terciptanya pendidikan bermutu. Kebijakan yang menyasar guru muda, misalnya menjadi di Sekolah Rakyat, tentu harus memiliki kompetensi lebih dalam mengelola anak didiknya.

Pada akhirnya, akan lahir guru muda yang adaptif. Guru muda yang kelak bisa kembali dari daerah penempatan awalnya mampu menginisiasi gagasan baru yang lebih baik. Guru muda Indonesia adalah sosok yang berkarier di bidang pendidikan dengan membawa gagasan dan kesejahteraan bagi lingkungannya. Sosok guru muda Indonesia merupakan para tokoh kunci yang siap mengisi lini negeri dan swasta sebagai figur yang peduli pendidikan.

Memahami dunia pendidikan nasional harus dimulai dengan memahami atas realitas masyarakat Indonesia. Pendidikan yang sejati tidak boleh tercerabut dari akar budaya bangsa karena memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Guru muda akan senantiasa berjaya dan lebih bisa sejahtera bila lebih paham pendidikan yang berkarakter kuat dari akar budaya manusia Indonesia.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya