Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
"Negara-negara bergabung dalam aliansi guna berlindung dari negara lain maupun koalisi yang superioritas sumber dayanya berpotensi menjadi ancaman. Tingkat ancaman dipengaruhi pula oleh proksimitas geografi, kapabilitas ofensif, dan persepsi akan timbulnya niatan ofensif." Begitulah kesimpulan mengenai balance of threat yang ditulis Stephen M. Walt dalam Alliance Formation and the Balance of World Power.
Kurang lebih demikian kondisi yang tercipta dalam dunia internasional ketika melihat ekspansi kebangkitan Tiongkok yang begitu progresif melalui Belt and Road Initiative. Khawatir akan survival mereka, negara-negara seperti India dan Jepang berupaya melakukan suatu penyeimbangan terhadap potensi ancaman dominasi Tiongkok ini.
Dilansir dari Economic Times, sejak lima tahun terakhir India dan Jepang melakukan berbagai cara termasuk membangun kerja sama trilateral dengan berkolaborasi dengan negara lain. Pada 2022, Jepang mengajukan proposal kerja sama pembangunan kepada India dengan objek sasaran negara-negara seperti Asia Tenggara. Akan tetapi, kolaborasi India-Jepang bukanlah suatu hal yang baru karena pada 2017, kedua negara tersebut sempat melakukan inisiasi kerja sama yang dinamai Asia Africa Growth Corridor (Koridor Pertumbuhan Asia Afrika) yang nyatanya mandek di tengah jalan.
AAGC merupakan output dari pertemuan diskusi antara India dan Jepang pada 2016 yang merencanakan pembangunan kerja sama di Afrika yang menjadi bagian dari koordinasi Asia-Pacific Vision of 2025. Pada 23 Mei 2017 melalui Pertemuan Tahunan African Development Bank ke-52 yang diadakan di Ghandinagar, India, Perdana Menteri India Narendra Modi mengumumkan ikatan kerja sama yang akan dibangun antara India dan Jepang melalui AAGC.
AAGC memiliki empat area fokus utama, yakni pembangunan dan kerja sama; infrastruktur berkualitas serta konektivitas digital dan institusional; peningkatan kapabilitas dan kemampuan; juga mendirikan people-to-people partnerships. Karakteristik inisiatif kerja sama ini ialah penyelenggaraannya yang berlandaskan keuntungan bersama, nonintervensi, kesempatan bertumbuh secara kolektif, dan ketiadaan persyaratan.
AAGC kerap disebut sebagai alternatif dari Belt and Road Initiative yang dikembangkan Tiongkok karena bersifat lebih liberal, sistemnya tidak lebih mengikat, dan memiliki transparansi, terutama dalam konsekuensi kerja sama. Pada hakikatnya, AAGC merupakan suatu kerja sama triangular ketika Jepang sebagai pivotal partner, India sebagai fasilitator, dan negara-negara Afrika sebagai beneficiary partners. Keputusan untuk menjadi penyeimbang BRI yang dipandang mengancam seperti pada kasus ini dipilih lantaran jika bergabung (bandwagoning) ke pihak Tiongkok, tidak hanya vulnerabilitas akan meningkat, tetapi juga bargaining power mereka akan semakin terkikis di bawah hegemoni Tiongkok. Hal itulah yang ingin mereka hindari.
Motivasi inisiasi kerja sama AAGC oleh India dan Jepang dapat diuraikan sebagai berikut keselarasan persepsi akan potensi ancaman Tiongkok di kawasan, kemiripan sebagai pihak yang diabaikan dalam setiap langkah kepentingan nasional Tiongkok, keinginan untuk mendapatkan konektivitas kerja sama yang mencakup transparansi dan tata kelola yang keberlanjutan, mempertahankan posisi dan kedaulatan negara di level internasional maupun regional, serta kolaborasi sumber daya guna mengejar ketertinggalan dan capacity building. Sayangnya, inisiasi konsep kerja sama yang dibangun ini gagal dan hingga pada tahun-tahun berikutnya. Kedua negara tersebut tidak pernah lagi menyebut soal AAGC dalam pertemuan bilateral India-Jepang. Bahkan situs web yang seharusnya meliput perkembangan AAGC tidak menunjukan pembaruan terkini.
Kegagalan ini disebabkan karena banyak faktor. Yang pertama, rencana kerja sama yang dibuat dianggap terlalu tergesa-gesa karena tidak dibarengi oleh perencanaan yang matang. Hal ini dapat dilihat dari absennya keterlibatan dari negara-negara Asia dan Afrika yang seharusnya menjadi objek sasaran dari kerja sama ini. Kemudian, para pengamat politik internasional menganggap bahwa konsep yang dibawa oleh AAGC terlalu utopis tanpa pelaksanaan yang nyata. Mengutip dari Takuya Taniguchi, AAGC hanya merupakan dokumen visi belaka dan nihil rencana implementasi yang konkret.
Faktor ketiga yakni rencana kerja sama AAGC sangat diragukan sesuai dengan kepentingan bisnis sehingga kurang dapat menarik minat para perusahaan untuk melakukan investasi di Afrika. Hal ini disebabkan ide yang ditawarkan masih terlalu umum seperti konektivitas, pengembangan keahlian, pendidikan, dan fasilitas kesehatan, serta peningkatan standar kehidupan yang tidak berkorelasi dengan kemauan pebisnis untuk menghilangkan hambatan dalam berbisnis di wilayah Afrika. Oleh karena itu, India dan Jepang memerlukan refleksi terhadap upaya mereka di masa lalu supaya kerja sama yang akan diimplementasikan selanjutnya tidak berakhir nahas seperti AAGC.
Penting untuk mereka membenahi konsep rencana kerja sama untuk menghasilkan cetak biru yang lebih realistis dan detail. Selain itu, kedua negara tersebut membutuhkan penyesuaian terhadap visi yang dibawakan agar dapat memikat para investor seperti menawarkan proyek berbasis profit dan dapat memberikan keuntungan yang jelas bagi para pebisnis yang akan melakukan investasi di wilayah objek sasaran kerja sama. India dan Jepang juga tampaknya harus banyak belajar dari kompetitornya, yakni Tiongkok, dalam menerapkan inisiasi kerja sama yang berjalan cukup konsekutif.
Peradangan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, termasuk jantung.
Strategi ekspansi yang akan dilakukan kedua belah pihak yakni pengembangan way-side amenities (fasilitas peristirahatan) sebanyak 500 gerai dalam 5 tahun ke depan.
India adalah pembeli LNG terbesar keempat di dunia dan sangat bergantung pada Timur Tengah untuk impornya.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan sejalan dengan usulan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang meminta agar rencana impor 105 ribu unit mobil pikap dan truk dari India ditunda
Startup India Sarvam AI mengejutkan dunia dengan Sarvam Vision dan Bulbul, model AI lokal yang mengungguli Google Gemini dan DeepSeek dalam OCR dan suara.
Menkes Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat untuk meningkatakan kewaspadaan pencegahan virus nipah terutama saat bepergian ke negara-negara seperti India dan Banglades
Presiden Prabowo terima Menteri Keamanan Tiongkok Chen Yi Xin di Istana Negara. Bahas penguatan kerja sama keamanan dan intelijen BIN-MSS demi stabilitas kawasan.
Ilmuwan Tiongkok menemukan waktu paling aman bagi manusia untuk beraktivitas di Bulan. Dengan suhu ekstrem dan radiasi tinggi, pemilihan waktu jadi kunci bertahan hidup.
Masa pensiun ISS mendekat pada 2030, namun stasiun ruang angkasa komersial penggantinya belum siap. AS hadapi risiko keamanan nasional dan persaingan ketat dengan Tiongkok.
Beijing dengan tegas menentang penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional.
Dalam konflik yang terjadi selama Ramadan, Iran disebut memperoleh dukungan dari kedua negara tersebut, meskipun Beijing menyatakan sikap netral.
Komandan Shenzhou 21, Zhang Lu, baru saja mengukir sejarah sebagai astronaut Tiongkok dengan aktivitas luar kendaraan (EVA) terbanyak. Simak detail misinya!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved