Kamis 08 Desember 2022, 05:00 WIB

Dampak Kesehatan Letusan Gunung Berapi

Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/ Guru Besar FKUI Mantan Direktur WHO Asia Tenggara serta mantan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan & Kepala Balitbangkes | Opini
Dampak Kesehatan Letusan Gunung Berapi

MI/Seno
Ilustrasi MI

 

SETAHUN sejak letusan tahun lalu, pada Desember ini kembali terjadi letusan Gunung Semeru. Perkembangan letusan yang ada membuat statusnya naik dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV) pada Minggu (4/12) sejak pukul 12.00 WIB. Pemerintah setempat juga menyatakan masa tanggap darurat selama 14 hari. Semuanya dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan bahaya dalam hari-hari mendatang, dan juga menangani masalah yang dihadapi saat ini, termasuk menangani lebih dari dua ribu warga yang mengungsi. Kita berupaya, berharap dan berdoa, semoga saudara-saudara kita di sekitar Gunung Semeru mendapat pelayanan terbaik. Bila masih ada letusan susulan, atau keluar asap dan debu, kita harapkan dampaknya dapat dicegah atau diminimalisasi.

Dampak letusan gunung berapi antara lain, awan panas yang dapat langsung menerpa tubuh manusia dan bangunan. Bahkan, bukan tidak mungkin awan panas dapat terhisap ke dalam paru-paru yang disebut ‘trauma inhalasi’, suatu keadaan kesehatan serius yang mungkin perlu tindakan bronkoskopi, yaitu pemeriksaan dan pembersihan paru dan saluran napas.

Kita ketahui, bahwa isi perut bumi yang dikeluarkan oleh gunung meletus berbahaya bagi kesehatan. Secara umum, ada dua hal yang perlu diwaspadai, yaitu padatan atau debu dan gas yang potensial membahayakan. Sedikitnya, ada enam penyakit dan masalah kesehatan yang perlu diwaspadai warga, pada saat dan pascaerupsi gunung berapi.

Pertama, yang paling sering dialami adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), yang antara lain ditandai dengan batuk dan demam. Hal ini dapat diperburuk apabila tempat pengungsian cukup padat sehingga ISPA dapat menular antarwarga.

Bila infeksi saluran napas memburuk, dapat timbul penyakit kedua, yaitu infeksi saluran napas bawah, dalam bentuk radang di paru, baik pneumonia atau bronkitis akut. Penyakit ketiga yang perlu diwaspadai adalah alergi, radang atau iritasi pada mata, serta keempat ialah hal yang sama pada kulit. Gangguan pada mata dan kulit ini dapat terjadi, antara lain karena iritasi atau kontak langsung mata dan kulit dengan asap, atau debu vulkanis.

Penyakit kelima, gangguan saluran cerna, dapat berbentuk sakit perut, diare, dll. Hal ini, terjadi antara lain karena materi letusan gunung mencemari sumber air yang digunakan warga. Selain itu, juga mungkin akibat tempat pengungsian yang kurang memenuhi aspek higienis. Hal itu tentu harus diantisipasi dengan baik agar tidak terjadi pada penanganan letusan Gunung Semeru kali ini.

Masalah kesehatan keenam adalah perburukan dari penyakit kronik yang sudah ada sebelumnya, baik karena daya tahan tubuh yang turun maupun karena stres atau lalai makan obat, atau karena dampak langsung asap dan debu vulkanis. Misalnya, pasien asma bronkial dapat kambuh dan mendapat serangan asma, atau pasien penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) seperti emfisema dan bronkitis kronik, menjadi makin sesak berat dan perlu pertolongan khusus.

Tentu saja, kemungkinan terjadi sakit akan bergantung pada tiga hal utama. Pertama, daya tahan tubuh warga yang terdampak, kedua adalah jenis dan kadar bahan yang ada dalam debu vulkanis dan asapnya.

Dan ketiga adalah pelayanan kesehatan yang tersedia, baik program pencegahan maupun pengobatan.

 

 

Kandungan asap dan debu vulkanis

Untuk mengantisipasi masalah kesehatan di atas, selain tersedianya pos pelayanan kesehatan, juga harus diperiksa kandungan asap dan debu vulkanis, serta kemungkinan pencemaran pada air dan lingkungan. Kita tahu, bahwa yang perlu dikawatirkan dalam debu vulkanis adalah kandungan logamnya, selain bentuk fisiknya yang dapat langsung mengiritasi.

Untuk memeriksa kandungan logam pada debu vulkanik, maka dilakukan dua metoda, yaitu mengukur total kandungan per satuan berat, dan kedua mengukur konsentrasi yang terlarut, yaitu berapa konsentrasi logam tersebut yang bisa terlarut bila debu vulkanis terkena/bercampur dengan air, antara lain dengan prosedur TCLP (Toxicity Characteristic Leaching Procedure). Dari pemeriksaan itu, dapat diidentifikasi berbagai logam, seperti timbal, tembaga, krom, seng, mangan, besi dan silika. Bila ditemukan, maka dinilai kadarnya apakah masih di bawah atau sudah melewati ambang batas.

Logam lainnya, yang ada pada debu vulkanis umumnya berupa natrium, kalsium, kalium yang apabila tercampur debu dan terhirup, juga mengakibatkan iritasi. Sedangkan komponen logam yang lain, seperti timbal, seng, kadmium tembaga biasanya kadarnya rendah, berdasarkan pengamatan dari letusan gunung berapi sebelumnya.

Hal yang perlu mendapat perhatian, adalah adanya silika (Si) dan besi (Ferum). Silika akan berpotensi menimbulkan iritasi pada kulit, mata, dan pernapasan dan gangguan kesehatan lainnya. Silika berupa butiran kecil yang tajam sehingga bila terhirup akan menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan. Akibat lebih serius, adalah batuk-batuk parah bahkan bisa iritasi berat pada saluran pernapasan. Selain itu, juga gangguan di kulit dan mata. Selain itu, besi (Fe) bila bertemu dengan air dan mangan (Mn), akan menyebabkan air berbau amis, dan berubah warna menjadi kecokelatan hingga kehitaman.

Selain kandungan logam, sebaiknya juga dilakukan analisis kualitas air sumur warga dan juga di tempat pengungsian. Sampel air dapat diuji antara lain dengan tingkat kekeruhan yang ditandai dengan angka NTU (nephelometric turbidity unit), dan tentu juga nilai pH dll.

Kandungan gas yang dikeluarkan letusan gunung berapi juga perlu untuk diwaspadai. Karena dapat membentuk gas SO2 dan dengan reaksi alam membentuk unsur sulfat yang sangat iritatif pada kulit, mata dan saluran pernafasan.

Kandungan gas lain yang meningkat pasca letusan gunung berapi adalah karbon monoksida (CO) yang bersifat mengikat oksigen. Sehingga, bila terhirup maka orang bisa meninggal karena kekurangan oksigen, serta NO2 yang berpotensi mengakibatkan iritasi pada mata dan pernapasan.

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) milik Kementerian Kesehatan dapat melakukan berbagai jenis pemeriksaan logam, gas dan air, yang hasilnya dapat menjadi salah satu bahan penentuan kebijakan publik.

 

 

Pencegahan dampak kesehatan

Tujuh langkah pencegahan yang perlu diketahui masyarakat, untuk mencegah penyakit akibat asap dan debu vulkanik letusan gunung berapi. Pertama, bagi daerah yang terdampak asap dan debu vulkanik, hindari keluar rumah atau tempat pengungsian, bila tidak sangat diperlukan. Kedua, bila terpaksa keluar rumah, gunakan pelindung seperti masker dan helm, serta gunakan baju lengan panjang.

Ketiga, menutup sarana air atau sumur gali, agar tidak terkena debu dan pencemar lainnya. Keempat, selalu mencuci dengan bersih semua makanan, buah, sayur dll untuk menghindari gangguan pada saluran cerna. Upaya penting kelima adalah, segera mencari pengobatan ke sarana pelayanan kesehatan bila terdapat keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi pada mata dan kulit, agar keluhan dan penyakitnya dapat ditangani sejak dini dan tidak menjadi berat.

Pencegahan keenam, bagi masyarakat yang memiliki penyakit kronik, obat rutin harus selalu dikonsumsi. Misalnya obat sakit gula, darah tinggi, atau obat jantung. Ketujuh, selalu melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), baik di rumah dan juga semaksimal mungkin di tempat pengungsian. Semoga dampak akibat erupsi Gunung Semeru ini dapat segera dikendalikan dengan baik.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Transfer

👤Syamsir Alam Dewan Pengawas Yayasan Sukma 🕔Senin 06 Februari 2023, 05:15 WIB
TRANSFER merupakan kemampuan untuk memperluas dan menerapkan pengetahuan/keterampilan yang telah dipelajari dalam satu konteks ke...
MI/Ebet

Merawat Ruang Publik

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 05 Februari 2023, 05:30 WIB
Pandai-pandailah memilah karena sebagian di antara informasi yang kini melimpah ialah...
DOK pribadi.

Festival Kopi: sebuah Langkah Besar Media Indonesia

👤Bagas Hapsoro, Dubes RI untuk Swedia (2016-2020), Staf Ahli Asosiasi Kopi Indonesia 🕔Sabtu 04 Februari 2023, 15:30 WIB
Kepedulian terhadap kopi tidak akan berarti tanpa perhatian penuh kepada para...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya