Minggu 24 April 2022, 05:00 WIB

Selaras Alam

Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini
Selaras Alam

MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

 

PANDANGAN kita tentang sampah umumnya berkonotasi negatif, baik secara harfiah maupun kiasan. Kotor, jorok, sumber penyakit, dan sebagainya. Istilah ‘sampah masyarakat’, misalnya, mengacu kepada mereka yang dianggap tidak berguna secara sosial. Intinya sampah mesti disingkirkan jauh-jauh. Padahal, suka atau tidak suka, sampah juga merupakan bagian dari produk budaya manusia. Selain arsitektur dan perangkat teknologi yang canggih-canggih itu, kebudayaan (yang katanya hasil olah akal budi manusia), juga menghasilkan satu juta kantong plastik per menit, termasuk bekas wadah takjil yang belakangan ini sering kita konsumsi.

Jika bangunan arsitektur kita puja dan kagumi, sampah, termasuk plastik, mesti dibuang jauh-jauh. Ke mana? Koran atau televisi hanya sering menyebutnya di TPA (tempat pembuangan akhir), yang entah di mana. Barangkali sebagian dari kita pun enggan memikirkannya. Padahal, menurut temuan para ahli lingkungan, sebagian dari jutaan ton mikroplastik itu ada yang bersemayam dalam perut ikan dan sejumlah mikroorganisme laut lainnya. Bahkan, menurut artikel yang dimuat The Guardian awal April lalu, para peneliti dari Hull York Medical School, Inggris, menemukannya pada paru-paru manusia. Adapun jenis plastik yang paling banyak ditemukan pada organ pernapasan manusia itu ialah polypropylene yang kerap digunakan pada plastik kemasan dan polyethylene terephthalate yang sering jadi bahan baku botol plastik.

Sampah-sampah plastik itu jelas bukan produk sampingan budaya. Ia justru bagian dari produk kebudayaan yang secara sadar dibuat manusia untuk memenuhi selera konsumsi mereka. Sayangnya, gunungan sampah yang kita hasilkan setiap hari, aliran limbah kimia yang mencemari sungai, polusi asap dari ratusan juta kendaraan yang menghasilkan gas rumah kaca, serta mikroplastik yang mengotori lautan, jarang dibicarakan atau dilihat dari perspektif budaya. Mungkin, lantaran perspektif kita tentang sampah sebagai benda yang mesti disingkirkan, ‘produk’ hasil budaya manusia itu pun seolah luput dari perbincangan kritis.

Sampah atau limbah memang sudah ada sejak dulu, bahkan mungkin sejak zaman batu. Namun, limbah-limbah itu kini sudah jauh lebih berbahaya. Jika di zaman embah-embah kita dulu, mereka mungkin hanya menghasilkan limbah pelepah pisang yang akan membusuk dengan sendirinya di tepi sungai, generasi kita kini menghasilan jutaan ton sampah yang sulit terurai, entah sampai kapan. Sejumlah ahli memperkirakan pada 2050 sebanyak 12 miliar ton plastik akan terakumulasi di tempat pembuangan sampah. Sebagian lainnya mengatakan lebih dari satu juta kantong plastik dikonsumsi setiap menit secara global.

Paparan angka ini, menurut saya, tak akan berarti apa-apa selama perspektif dan kesadaran manusia terhadap sampah, tidak diubah. Ia harus dianggap jadi bagian internal kita, bukan sekadar ekses produksi. Para ahli ilmu bumi bilang aktivitas manusia telah berdampak pada seluruh planet ini beserta sejumlah makhluk mikrobiologis di dalamnya. Era antroposen, kapitalosen, atau apa pun istilahnya. Intinya sekarang kita memasuki zaman limbah, sebut saja begitu. Mungkin dengan memaparkan berbagai dampak bahayanya, kita jadi sadar untuk menata ulang pola produksi dan konsumsi sehingga dapat mengurangi polusi baik di darat, laut, maupun udara.

Peringatan Hari Bumi dua hari lalu yang bertema Invest in our planet tidak cukup dirayakan hanya dengan menanam pohon atau sekadar menebar tukik (bayi penyu) di lautan. Ingat, Bumi sedang tidak baik-baik saja. Dampak pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan ialah sabda alam untuk memperingatkan kita semua. Investasi paling mendesak dan berharga yang mesti dilakukan untuk menyelamatkan kehidupan di planet ini ialah menyelaraskan lagi laku hidup kita dengan alam. Jargon Back to Nature yang pernah populer di awal milenium, sepertinya perlu digaungkan lagi dan dipraktikkan dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar slogan yang dicetak massal untuk kepentingan industri fesyen. Mari selamatkan Bumi.

Baca Juga

MI/Duta

Asas Legalitas dalam Sistem Hukum di Indonesia, Relevankah?

👤Romli Atmasasmita Guru Besar (Em) Universitas Padjadjaran 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:10 WIB
Ketentuan itu cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang bersifat heterogen; berbeda-beda kultur daerah adat satu dan...
Dok. Pribadi

Waisak, Momentum Introspeksi Diri

👤Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja Ketua Umum Parisadha Buddha Dhrama Niciren Syosyu Indonesia (NSI) 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:05 WIB
HARI raya Waisak merupakan sebuah momentum untuk semakin mendalami makna perjuangan Buddha Sakyamuni dalam menghayati darma dan...
MI/Duta

Pemimpin ASEAN: Saatnya Belajar pada Angsa Hitam Ukraina

👤Hary Prabowo Analis Internasional dan Geopolitik Asia-Pasifi k 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:00 WIB
UKRAINA kini telah menjadi bara api paling membara. Pelan, tapi pasti. Sumbu api merembet ke negeri-negeri Balkan, Eropa Timur, hingga...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya