Sabtu 09 April 2022, 09:08 WIB

Peran Filantropi dalam Mendukung Upaya Penurunan Prevalensi Stunting di Indonesia

Gusman Yahya, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia | Opini
Peran Filantropi dalam Mendukung Upaya Penurunan Prevalensi Stunting di Indonesia

DOK TANOTO FOUNDATION

 

STUNTING masih menjadi tantangan tersendiri bagi perkembangan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Persepsi beragam tentang stunting membuat penanganannya sering kali belum tepat sasaran. 

Banyak orang yang masih menganggap stunting hanyalah masalah kurangnya asupan gizi yang berdampak pada pertumbuhan fisik anak semata, terutama tubuh pendek. Padahal, lebih dari itu, stunting berdampak pada perkembangan daya pikir seorang anak. Dalam jangka panjang, stunting menyebabkan kelemahan kognitif dan memengaruhi tingkat kecerdasan generasi sebuah bangsa.

Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) yang diluncurkan tahun lalu, angka stunting nasional mengalami penurunan sebesar 3,3%, yaitu dari 27,7% di tahun 2019 menjadi 24,4% di tahun 2021. Kabar gembira ini nampaknya perlu diikuti dengan kajian mendalam, khususnya jika mengacu pada standar World Health Organization (WHO). Pada standar WHO, angka stunting (pendek menurut usia) dikaitkan dengan angka wasting (kurus menurut tinggi badan). 

 

Gusman Yahya, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia


Baca Juga: Tanoto Foundation Kembangkan Desain Berbasis Masyarakat sebagai Inovasi Penurunan Stunting di Indonesia

Disebutkan bahwa Bali menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang berkategori baik dengan angka stunting rendah (<= 20%), yaitu 10,9% dan wasting rendah (<= 5%), yaitu 3%. Lalu, bagaimana dengan kondisi 33 provinsi lainnya? 

Dari data yang sama disebutkan bahwa provinsi yang masuk dalam kategori kronik dengan angka stunting rendah dan wasting tinggi, yaitu Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, dan D.I. Yogyakarta. Provinsi dalam kategori akut dengan angka stunting tinggi dan wasting rendah adalah Bengkulu. Sementara kategori terakhir, kronik dan akut terdapat di 27 provinsi sisanya dengan angka stunting dan wasting tinggi. 

Gambaran singkat tersebut secara tidak langsung menunjukkan kasus stunting dapat kita jumpai di hampir semua provinsi di Indonesia. Secara akumulatif, jumlahnya kurang lebih mencapai 9 juta anak. Dengan kondisi ini, bayangkan, apa yang akan terjadi pada generasi mendatang. Bagaimana kualitas sumber daya manusia Indonesia nantinya? Terlebih di tahun 2030, Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi.

Tingginya kasus stunting di Indonesia, membuat pemerintah melakukan sejumlah upaya. Komitmen pemerintah salah satunya diwujudkan dalam bentuk penyediaan anggaran untuk penurunan stunting . Tercatat, di tahun 2022 ini, pemerintah telah menganggarkan Rp22 triliun untuk penurunan stunting . Selain itu, berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pemerintah menetapkan target penurunan prevalensi stunting dari 24% menjadi 14% di tahun 2024.

Walaupun demikian, diakui, upaya yang dilakukan pemerintah belum cukup efektif jika belum ada sektor lain yang turut mendukung. Stunting merupakan isu lintas sektor yang perlu ditangani bersama melalui pendekatan multipihak di semua lingkup, baik daerah maupun nasional. Jika kita lihat lebih dalam, stunting bukanlah masalah sektor kesehatan semata. Ada isu-isu lain yang turut berperan, misalnya permasalahan gender dan anak, pendidikan, isu sosial, dan lain sebagainya. Dengan permasalahan yang kompleks dan multidimensional itu, diperlukan aksi gotong royong yang melibatkan komitmen jangka panjang dari berbagai pihak dan berbagai lapisan dalam bentuk koalisi multi-pihak yang memiliki tujuan bersama.

Dukungan aksi kolektif multi-pihak dapat memfasilitasi kolaborasi dan mendorong inklusifitas semua aktor terkait (pemerintah, sektor swasta, filantropi, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat) dalam perencanaan, pengembangan, penerapan, dan pemantauan tujuan penurunan stunting. Filantropi, sebagai sebuah sektor non-pemerintah dalam pembangunan, juga mempunyai andil. Fleksibilitas yang dimiliki sektor filantropi dapat menjadi modal utama untuk membantu penurunan angka stunting hingga ke berbagai daerah. 

Selain itu, dengan sumber daya yang dimilikinya, sektor filantropi juga dapat memfasilitasi program-program advokasi dan pendampingan langsung ke masyarakat terkait isu kesehatan, pangan, dan gizi.

Filantropi Indonesia, sebagai sebuah perhimpunan/asosiasi filantropi di Indonesia, turut mendukung upaya pemerintah dalam penanganan stunting. Sebagai sebuah filantropi hub, Filantropi Indonesia berperan sebagai fasilitator, penghubung, maupun jembatan bagi multisektor dalam penyelesaian masalah sosial di Indonesia. Melalui Klaster Filantropi Ketahanan Pangan dan Gizi, misalnya, lembaga filantropi dan organisasi/jaringan nirlaba secara kolektif berupaya merumuskan strategi-strategi penurunan angka stunting di daerah melalui pendekatan programatik.

Sejumlah program upaya percepatan penurunan stunting juga dijalankan oleh anggota-anggota Klaster Filantropi Indonesia lainnya. Dari Klaster Pendidikan, ada Tanoto Foundation melalui program SIGAP (Siapkan Generasi Anak Berprestasi), sementara Dompet Dhuafa, dari Klaster Ketahanan Pangan dan Gizi, juga memiliki program LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma).

Sebagai lembaga filantropi, keduanya sama-sama melakukan program-program intervensi kepada remaja, pasangan muda, ibu hamil dan menyusui, serta orang tua dengan anak balita. Kegiatan yang dilakukan meliputi sosialisasi pola hidup sehat, pola asuh, pola makan, dan pengetahuan tentang gizi seimbang. 

'It takes a village to raise a child' merupakan sebuah kutipan lama dari benua Afrika yang nyatanya masih relevan sampai saat ini. Tak hanya di tingkat keluarga, diperlukan segenap komunitas masyarakat untuk memastikan seorang anak dapat tumbuh baik dan sehat di lingkungannya. 

Mari bergandeng tangan dan bergotong-royong menyelamatkan generasi emas Indonesia di masa yang akan datang. Upaya-upaya yang kita lakukan akan berarti jika dimulai dari sekarang. (OL-10)

Baca Juga

MI/Duta

Asas Legalitas dalam Sistem Hukum di Indonesia, Relevankah?

👤Romli Atmasasmita Guru Besar (Em) Universitas Padjadjaran 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:10 WIB
Ketentuan itu cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang bersifat heterogen; berbeda-beda kultur daerah adat satu dan...
Dok. Pribadi

Waisak, Momentum Introspeksi Diri

👤Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja Ketua Umum Parisadha Buddha Dhrama Niciren Syosyu Indonesia (NSI) 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:05 WIB
HARI raya Waisak merupakan sebuah momentum untuk semakin mendalami makna perjuangan Buddha Sakyamuni dalam menghayati darma dan...
MI/Duta

Pemimpin ASEAN: Saatnya Belajar pada Angsa Hitam Ukraina

👤Hary Prabowo Analis Internasional dan Geopolitik Asia-Pasifi k 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:00 WIB
UKRAINA kini telah menjadi bara api paling membara. Pelan, tapi pasti. Sumbu api merembet ke negeri-negeri Balkan, Eropa Timur, hingga...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya