Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM sebuah makalah berjudul “Exposure to Air Pollution and Covid-19 Mortality in the United States” (2020), Xiao Wu dan empat peneliti dari Departemen Biostatistik Harvard, T.H. Chan School of Public Health memaparkan, pasien covid-19 yang tinggal di daerah dengan tingkat polusi udara tinggi, ternyata lebih mungkin mengalami kematian. Berita ini cukup mengejutkan. Ketika dunia tengah berjuang untuk menahan laju pandemi covid-19, temuan penelitian membuktikan bahwa kualitas udara, dan tingkat kematian covid-19 memiliki hubungan yang erat.
Bagi beberapa orang lain, berita ini tidak sepenuhnya mengejutkan lagi. Meskipun, korelasi antara kualitas udara dan kematian terkait covid-19 ini tampak lemah pada awalnya, beberapa orang toh sudah menyoroti bahwa, bagaimanapun, sindrom gangguan pernapasan akut, yang telah lama dikaitkan dengan udara yang tercemar, telah menjadi penyebab utama kematian terkait covid-19.
Tulisan ini, bukanlah sebuah “studi kesehatan ilmiah” yang coba meneliti komponen-komponen atau partikel-partikel halus dalam udara kotor yang bisa membawa virus, hingga membantu penyebaran virus korona masuk ke tubuh manusia. Melainkan, sebuah “studi kasus” yang – kalau boleh – bisa selanjutnya menjadi awasan bagi kita (negara dan masyarakat), agar, selalu membunyikan “lonceng siaga” akan persebaran bahaya covid. Sebab, hubungan antara infeksi covid-19, polusi udara dan tingkat kematian sudah menjadi sebuah temuan konklusif yang valid.
Beberapa kasus
Polusi udara adalah bahaya kesehatan lingkungan paling mematikan yang dihadapi manusia. Setiap tahun, ia menyebabkan 790 ribu kasus kematian dini di Eropa, dan sekitar 8,8 juta kematian dini di seluruh dunia (MI, 12/03/2019). Satu temuan penting di AS baru-baru ini menyebut, tingginya tingkat kematian terkait covid-19 tidak hanya berkorelasi dengan kondisi polusi udara saat ini. Tetapi, juga dengan paparan udara buruk yang berkepanjangan dari waktu ke waktu. Misalnya, mereka yang tinggal di negara bagian AS yang telah mengalami polusi udara yang memburuk selama 15 hingga 20 tahun terakhir, memiliki tingkat kematian yang jauh lebih tinggi.
Helena Varkkey, dosen senior di University of Malaya, Malaysia dalam tulisannya “Air Pollution and Covid-19 Mortality: Considerations for Southeast Asia” (2020) menginformasikan sebuah laporan global tahun 2019, tentang tingkat polusi udara tahunan. Dalam laporan tersebut disoroti bahwa 99 dari 100 kota dengan udara paling tercemar berada di Asia. Namun sekarang, ketika Tiongkok dan negara-negara lain di Asia Timur mulai perlahan-lahan keluar dari cengkeraman covid-19, negara-negara Asia Tenggara malah masih ditimpa banyak masalah.
Data per 22/09/2021 menyebut, Indonesia sebagai peraih peringkat kelima untuk kasus harian covid-19 ASEAN di bawah Vietnam, Malaysia, Filipina dan Thailand. Belum lagi, kritik yang menimpa Indonesia karena tidak transparan dalam penanganan covid-19-nya, berikut pelaporan dan kemampuan pemerintahnya untuk menangani wabah. Lalu, laporan Greenpeace, organisasi lingkungan global, pada Maret 2019 juga menyebut, Jakarta sebagai wilayah yang memiliki kualitas udara terburuk di Asia Tenggara.
Buruknya kualitas udara di Jakarta, tak hanya berasal dari peningkatan kendaraan pribadi yang mengaspal di jalanan Jakarta. Tapi, juga dari sumber polutan lain, semisal industri PLTU yang mengelilingi Jakarta dalam radius 100 km. Polusi ini, juga berasal dari kantong industri di sekitar Jakarta, seperti Jawa Barat dan Banten. Di daerah lain di Indonesia kita juga masih mendengar kegagalan pemerintah Indonesia dalam melindungi hutan dan lahan gambut dari pembakaran.
Pakar Kebijakan Publik, Trubus Rahadiansyah di Kontan.id (14/08/2019) mengatakan, kontribusi pabrik terhadap emisi di Jakarta cukup besar, yakni 60%. Sayangnya, pemerintah justru berkontribusi terhadap industri penyumbang emisi itu dengan membangun PLTU di Cirebon dan Indramayu, yang justru bisa memperparah kondisi udara di Jawa Barat. Berita paling baru dilaporkan oleh Tirto.id (30/09/2021) tentang lumpur Lapindo yang meraih rekor sebagai sumber metana terbesar di bumi, penyumbang efek gas rumah kaca, dan bencana hidrometeorologi di Indonesia.
Kewajiban negara
Jika kasus-kasus seperti di atas dibiarkan terus, orang-orang yang tinggal di lingkungan berpolusi akan terkena penyakit degeneratif oleh paparan udara kotor, hingga dalam wabah covid-19 ini akan menjadi kelompok rentan. Maka, tugas negara yang paling wajib ialah, tidak membiarkan kualitas udara buruk terus meracuni warga negaranya hingga membuat mereka kian rentan.
Retorika, bahwa negara berkembang (baca: Indonesia) memiliki hak untuk mengeksploitasi sumber daya alam mereka agar menjadi lebih berkembang harus dikritisi. Sebab, bukan tidak mungkin telah membantu memperkuat keyakinan di kalangan masyarakat bahwa beberapa degradasi lingkungan diperlukan, dan bahkan dapat dibenarkan atas nama pembangunan dan kemakmuran ekonomi.
Di tengah upaya menekan penyebaran laju covid-19, hubungan antara kualitas udara dan kematian akibat covid-19 seharusnya juga menjadi alasan yang cukup bagi pemerintah, untuk tidak lalai dalam memantau dan menegakkan peraturan konservasi dan pembakaran hutan selama ini. Pembakaran lahan pertanian dilarang pada cuaca kering dan berangin. Karena, akan menyebabkan polusi kabut asap yang parah. Pemerintah, harus lebih tanggap terhadap ratusan ribu hektar hutan yang hilang di provinsi Papua dan Papua Barat pada tahun 2011-2019, karena dialihkan menjadi perkebunan kelapa sawit.
Memang di Asia Tenggara umumnya dan Indonesia khususnya, agribisnis dan industri manufaktur sudah menjadi sektor-sektor penyumbang utama PDB, indikator penting pengukur kondisi perekonomian negara. Dan pada saat yang sama, terdengar wajar bagi negara-negara untuk memfokuskan seluruh tenaga dan konsentrasi mereka untuk memajukan sektor-sektor ini. Namun, perlu diingat bahwa terobosan-terobosan baik tersebut, tidak boleh mengorbankan kualitas udara.
Mengutamakan kualitas udara dan kelestarian lingkungan di tengah wabah covid-19 tidak boleh dipandang sebagai satu agenda yang mewah dan luar biasa. Tetapi, sebagai tindakan wajib pemerintah yang bertanggung jawab. Besar keyakinan saya, di saat dunia masih berjuang untuk memahami berapa lama krisis kesehatan global ini akan berlangsung, lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan di Indonesia akan memberi harapan dan kesempatan berjuang bagi orang-orang Indonesia untuk mengatasi pandemi ini.
Kita perlu sadar pada pembuktian studi ilmiah bahwa polusi udara berhubungan erat dengan tingkat keparahan pasien covid-19. Partikel dalam polusi udara yang cukup kecil untuk dihirup ke paru-paru dan masuk ke aliran darah, memiliki efek jangka panjang melemahkan sistem pernapasan, kardiovaskular, dan kekebalan seseorang. Dalam hubungan dengan covid-19, seseorang dengan paru-paru dan saluran pernapasan yang sudah lemah, memiliki risiko lebih tinggi untuk tidak hanya terinfeksi. Tetapi, juga menderita gejala yang lebih buruk.
Kesimpulannya sudah jelas. Tempat tinggal pasien covid-19 yang berada di lingkungan dengan tingkat polusi udara yang tinggi, turut mendukung pasien selangkah-dua langkah lebih maju menuju gerbang kematian. Di tengah pandemi covid-19 ini, apakah kita akan membiarkan kualitas udara buruk terus meracuni kita, dan membuat kita kian rentan? Padahal, udara bersih, lingkungan sehat, dan jaminan atas kesehatan adalah hak kita sebagai warga negara.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Studi itu menemukan hubungan antara paparan partikel super kecil polutan udara (PM2,5) dan nitrogen dioksida dengan peningkatan risiko tumor otak.
Polusi udara luar ruangan dapat meningkatkan risiko diabetes, bahkan pada tingkat polusi yang selama ini dianggap aman oleh EPA dan WHO.
Satelit Sentinel-4 milik ESA berhasil mengirimkan citra pertama yang memetakan polusi udara di Eropa dan Afrika Utara. Misi ini akan memantau kualitas udara setiap jam.
Penelitian terbaru menemukan awan di Samudra Atlantik dan Pasifik kini makin redup akibat udara yang lebih bersih.
Polusi udara dan asap rokok merupakan dua faktor lingkungan yang kerap diabaikan, padahal keduanya memiliki dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak.
Teknologi artificial intelligence yang semula sekadar alat yang bersifat pasif --semacam kalkulator yang menunggu instruksi-- menjadi AI yang bertindak sebagai kolaborator sejati.
Tidak ada makan siang gratis di dalam politik. Bantuan elite dan oligarki tentu menuntut balasan.
Pahit getir pembentukan negara tidak bisa dilepaskan pula dari derita luka dan sengsaranya rakyat. Nyawa rakyat lebih banyak musnah dibandingkan nyawa elite selama berjuang.
Empat langkah krusial tetap dibutuhkan agar kebijakan tidak berhenti sebagai respons sesaat.
Fenomena penghujat di masyarakat bukan hal baru. Dalam psikologi sosial ini disebut negativity bias: kecenderungan manusia lebih cepat melihat kesalahan ketimbang kebaikan.
Pertanyaan yang menyentak bukanlah apakah mungkin membubarkan lembaga DPR di alam demokrasi, melainkan mengapa anggota DPR minta tunjangan rumah Rp50 juta per bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved