Kamis 23 September 2021, 05:00 WIB

Ancaman itu Bernama Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim

Dwikorita Karnawati Kepala BMKG | Opini
Ancaman itu Bernama Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim

MI/Seno
Ilustrasi MI

 

LETAK geografis Indonesia yang berada di antara persilangan dua samudra dan dua benua, serta merupakan negara kepulauan dengan topografi yang sangat beragam, menjadikan iklim Indonesia begitu sangat dinamis dan kompleks. Tidak jarang, fenomena iklim yang ada di Indonesia adalah imbas dari fenomena yang terjadi di belahan bumi lain.

Contohnya, saat banjir besar menyergap Jabodetabek di penghujung tahun 2019 hingga awal tahun 2020 lalu. Kejadian tersebut disebabkan oleh seruak dingin (cold surge) dari Tibet ke Hong Kong yang selanjutnya masuk ke Jakarta. Cold surge sendiri merupakan rambatan massa udara dingin dari daratan Asia ke arah selatan.

Sejumlah faktor yang berperan terhadap iklim Indonesia di antaranya adalah fluktuasi suhu permukaan laut, inter-tropical convergence zone (ITCZ), dipole mode index (DMI), suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator, monsun Asia Tenggara-Australia, sirkulasi Hadley dan Walker, serta arus lintas Indonesia (arlindo). Selain itu, iklim Indonesia juga turut dipengaruhi oleh tiga sistem peredaran angin, yaitu angin pasat, angin meridional, dan angin lokal.

Keseluruhan komponen tersebut berinteraksi membentuk suatu sistem baik lokal, regional, maupun global, yang kemudian turut menentukan varian dan keragaman iklim Indonesia. Dalam jangka panjangnya, varian dan keragaman iklim ini mengalami pergeseran akibat perubahan iklim global.

Perubahan iklim inilah yang kemudian menjadi faktor penguat, mengapa cuaca ekstrem semakin kerap menghantam Indonesia. Mulai dari hujan lebat disertai kilat dan petir, siklon tropis, gelombang tinggi, hingga hujan es. Ketika bertemu dengan kerentanan lingkungan, fenomena ekstrem ini tidak jarang merembet menjadi bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang, angin puting beliung, dan tanah longsor.

Dampak kerusakan yang ditimbulkan pun semakin berkali lipat karena rusaknya lingkungan akibat pembalakan liar, pencemaran air, tanah, dan udara, juga hutan gundul hingga tanah tandus.

Hasil penelitian tentang cuaca ekstrem yang dipublikasikan di Bulletin of the American Meteorological Society tahun 2018 lalu mengungkap fakta bahwa telah terjadi peningkatan intensitas dan frekuensi gelombang panas di Asia timur laut serta Eropa selatan di tahun tersebut. Sebaliknya, di belahan bumi lain yakni Inggris terjadi cuaca dingin ekstrem.

Perubahan iklim serta pemanasan global juga berdampak pada peningkatan frekuensi kemunculan badai atau siklon, peningkatan curah hujan, banjir, kemarau panjang dan kekeringan, kebakaran hutan, juga mencairnya es di belahan Kutub Utara dan Selatan yang berakibat naiknya muka air laut sehingga menenggelamkan dataran rendah dan pulau-pulau kecil.

World Economic Forum dalam The Global Risk Report 2019 menyatakan perubahan iklim menempati posisi paling atas sebagai penyebab musibah global, seperti bencana alam, cuaca ekstrem, krisis pangan dan air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati, serta runtuhnya ekosistem.

 

Kode merah

Baru-baru ini, dalam laporan yang dikeluarkan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada Agustus 2021 lalu juga menyebutkan bahwa emisi gas yang membuat suhu bumi menghangat saat ini mungkin akan melampaui batasan kesepakatan iklim global 1.5 °C yang telah ditetapkan hanya dalam waktu 10 tahun. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres bahkan menyebut laporan tersebut sebagai kode merah untuk kemanusiaan atau code red for humanity.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri mencatat secara keseluruhan, 2016 merupakan tahun terpanas dengan nilai anomali sebesar 0,8 °C sepanjang periode pengamatan 1981 hingga 2020. Tahun 2020 sendiri menempati urutan kedua tahun terpanas, dengan nilai anomali sebesar 0,7 °C. Adapun tahun 2019 berada di peringkat ketiga, dengan nilai anomali sebesar 0,6 °C.

Sebagai perbandingan, informasi suhu rata-rata global yang dirilis World Meteorological Organization (WMO) di laporan terakhirnya pada awal Desember 2020, juga menempatkan 2016 sebagai tahun terpanas (peringkat pertama), dengan tahun 2020 sedang on-the-track menuju salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah dicatat.

Deretan fakta tersebut selayaknya menjadi alarm bagi semua negara di dunia, termasuk Indonesia, bahwa dampak perubahan iklim begitu sangat dahsyat. Layaknya pandemi covid-19, perubahan iklim tidak bisa ditangani secara lokal atau regional saja. Butuh keterlibatan aktif seluruh komunitas internasional dan langkah tegas berskala besar untuk memerangi perubahan iklim.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menyatakan komitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebanyak 26% pada tahun 2020 dan 29% pada tahun 2030 sesuai dengan konvensi perubahan iklim yang telah disepakati. Dalam konvensi perubahan iklim tersebut, Indonesia wajib menurunkan emisi karbon di sektor kehutanan 17,2%, sektor energi 11%, sektor limbah 0,32%, sektor pertanian 0,13%, serta sektor industri dan transportasi sebesar 0,11%.

 

Mitigasi

Ibarat maraton, Indonesia dan seluruh komunitas internasional kini tengah berkejaran dengan waktu seiring intensitas cuaca ekstrem yang kerap melanda akibat perubahan iklim. Di sektor pertanian, ilmu titen kini bahkan sudah sulit untuk diterapkan. Petani kerap dilanda gagal panen akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Jika situasi ini terus dibiarkan, dikhawatitkan ketahanan pangan Indonesia bisa hancur. Dampak lanjutannya akan berujung pada ketidakstabilan ekonomi, sosial, dan politik Republik ini.

Tidak ada pilihan lain, selain semua orang harus bertindak karena perubahan iklim tidak memandang batas teritorial negara. Setiap individu dapat ikut berperan dalam mitigasi dengan cara mengurangi penggunaan sampah plastik, tidak membuang sampah sembarangan, membatasi penggunaan kendaraan bermotor dengan energi fosil. Lalu, mulai beralih ke sarana transportasi umum, menghemat penggunaan listrik dan air, serta menanam pohon/penghijauan yang lebih masif dan tepat.

Hal-hal tersebut memang terlihat sepele, tapi membawa dampak positif sangat besar dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca guna memerangi/memitigasi perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Persis seperti kata pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Baca Juga

Dok. Pribadi

Merawat Nalar Kritis

👤Khoiruddin Bashori Dewan Pengawas Yayasan Sukma Jakarta 🕔Senin 18 Oktober 2021, 05:10 WIB
DALAM dunia yang saling terhubung secara global dan digital, peserta didik membutuhkan pengetahuan dan keterampilan baru untuk...
MI/Duta

Pendidikan Karakter ala Sukma Bangsa

👤Priltus Andronikus Lamonta Guru Matematika Sekolah Sukma Bangsa Sigi, Sulawesi Tengah 🕔Senin 18 Oktober 2021, 05:05 WIB
PENDIDIKAN merupakan ujung tombak kehidupan yang menentukan masa depan. Ia merupakan wujud praktik nilai-nilai baik yang ada dalam sebuah...
MI/Ebet

Ombrometer

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 17 Oktober 2021, 05:00 WIB
Di sebanyak 267 kelurahan di DKI Jakarta, telahdipasangi alat pengukur curah hujan atau...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencegah Proyek Kereta (jadi) Mubazir

Pembengkakan biaya menjadi biang keladi perlu turun tangannya negara membiayai proyek dengan dana APBN.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya