Selasa 21 September 2021, 20:25 WIB

Optimalkan Agripreneur Muda untuk Ketahanan Pangan

Hendro Puspito, Pengusaha, Mahasiswa Program Doktor Pengembangan SDM Pascasarjana Universitas Airlangga | Opini
 Optimalkan Agripreneur Muda untuk Ketahanan Pangan

Dok pribadi
Hendro Puspito,

 

SEBUTAN negara agraris melekat pada Indonesia. Mengandung siratan negara yang memiliki lahan pertanian yang luas, keanekaragaman sumber daya alam melimpah dengan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Pertanian memiliki peranan strategis dalam sektor pemenuhan kebutuhan pokok dan mampu mendongkrak sektor ekonomi, sosial dan perniagaan.

Mengulang kembali sejarah pada 1984, Indonesia berhasil swasembada beras. Mendapat pengahargaan dari FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) pada 1985. Dalam hal ini menjadi poin yang harus diraih kembali oleh bangsa Indonesia. Pangan merupakan kebutuhan paling mendasar untuk kelangsungan hidup. 

Negara yang tidak mampu mencukupi kebutuhan pangannya, rentan terjadi gejolak. Baik gejolak harga maupun ketergantungan pasokan dari negara lain. Secara garis besarnya, kedaulatan negara bertumpu pada swasembada pangan.

Sejalan dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, maka akan kebutuhan pangan semakin tinggi. Secara tidak langung akan berdampak terhadap perekonomian dan kesejahteraan petani. Logikanya petani di Indonesia taraf hidupnya semakin baik, dan ini bisa memicu banyak orang untuk menjadi petani termasuk para pemuda yang memiliki potensi.

Realita tak semanis ekspektasi, di lapangan berkata beda. Regenerasi petani muda semakin menurun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2020 ada sekitar 33,4 juta petani yang bergerak di semua komoditas sektor pertanian. Angka tersebut lebih kecil jika dibandingkan jumlah petani pada 2019 mencapai 34,58 juta dan 2018 tercatat 35,70 juta orang.

Adapun dari jumlah tersebut, petani muda yang berusia 20-39 tahun hanya 8% atau setara dengan 2,7 juta orang. Sekitar 30,4 juta orang atau 91% berusia di atas 40 tahun. Rendahnya minat anak muda terjun ke dunia pertanian, dikarenakan rendahnya upah tidak sebanding dengan prosesnya.

Langkah strategis perlu diterapkan untuk membangkitkan agripreneur muda berkecimpung di sektor pertanian. Agripreneur muda merupakan generasi muda yang memiliki jiwa enterpreneur, semagat baja, berani maju dan siap bersaing positif dengan perkembangan modernisasi.

Inovasi teknologi pertanian

Bertani tidak harus kotor atau penuh lumpur. Teknologi hadir memberikan solusi dan inovasi. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) harus terus di lakukan. Pelatihan SDM sangat perlu untuk mendorong pemanfaatan teknologi. Mulai dari proses penanaman, pemeliharaan, pengelolaan pasca panen dan bagaimana strategi penjualan. 

Pemerintah harus memberikan jaminan atas peningkatan pendapatan petani. Dengan memberikan perlindungan harga yang layak. Selama ini harga pokok penjualan (HPP) yang ditetapkan pemerintah masih di bawah biaya produksi.
 
Pertanian merupakan garda terpenting dalam situasi pandemi. Memiliki peran kuat dalam pemenuhan pangan nasional dalam menjaga imunitas tubuh. Tren kehidupan sekarang perlu makan sehat dan memanfaatkan alam. Masyarakat terdorong untuk memilih bahan pangan yang sehat dan aman. Peluang ini merupakan momentum baik bagi pengusaha pertanian.

Peran agripreneur muda dengan teknologi, akan memudahkan dalam proses dan strategi penjualan hasil produksi. Digitalisasi melalui e-commerce mampu memperpendek rantai pasok dan mempermudah penjualan. Pasar yang luas terbuka bagi petani muda untuk terus berinovasi. Jika pemanfaatan teknologi dikorelasikan dengan jiwa wirausaha muda, hasilnya akan optimal. Berdampak terhadap perekonomian bangsa dan stabilitas ketahanan pangan terjaga, serta mampu meraih kembali predikat negara swasembada pangan.

Baca Juga

MI/Ebet

Move On

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 05 Desember 2021, 05:00 WIB
PANDEMI covid-19 yang melanda dunia dalam dua tahun terakhir telah mengubah banyak hal pada perilaku...
Dok. Pribadi

Sastra sebagai Perisai Dampak Revolusi Industri

👤Aguk Irawan MN Sastrawan, Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Bantul, Wakil Ketua Lembaga Seni, Budaya, dan Peradaban (LSBPI) MUI Pusat 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 05:00 WIB
Ironisnya, penelitian Taufik Ismail (2005), mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi kita ini relatif nol membaca karya...
MI/Vicky G

Reuni 212 di Antara Pandemi Covid-19, Perizinan, dan Aplikasi Online

👤Eko Suprihatno, Jurnalis Media Indonesia 🕔Jumat 03 Desember 2021, 19:43 WIB
Orasi yang disampaikan dalam reuni itu juga isinya tentang kelucuan seperti stand up...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya