Kamis 20 Agustus 2020, 18:00 WIB

Urgensi Edukasi Rempah Nusantara

Mohamad Atqa, Antropolog; Bekerja di Ditjen Kebudayaan Kemdikbud | Opini
 Urgensi Edukasi Rempah Nusantara

Dok.pribadi
Mohamad Atqa

DI tengah situasi yang menggelisahkan umat manusia, banyak orang kembali tersadarkan akan keberadaan rempah-rempah. Ini sebagai produksi tanaman yang berkhasiat untuk menjaga daya tahan tubuh dan meningkatkan imunitas. 

Betul, memang belum ada hasil penelitian yang cukup sahih bahwa rempah-rempah dapat membantu penyembuhan bagi mereka yang terpapar covid-19. Akan tetapi, khasiatnya diyakini banyak pihak dapat menangkalnya. Bahkan Presiden Jokowi kerap mempromosikan bahan rempah-rempah untuk menghindari virus korona.

Alhasil, permintaan rempah-rempah melonjak tinggi. Warga menyerbu hampir setiap pasar tradisional atau supermarket. Ekspor rempah pun meningkat- menurut Kementerian Perdagangan naik 19,28% dari Januari hingga April 2020. Sampai-sampai Presiden Jokowi meminta para petani memproduksi rempah-rempah secara besar-besaran. 

Memori kolektif 
Rempah-rempah menempati posisi penting ketika dunia dilanda pandemi covid-19. Namun, yang juga tidak kalah penting adalah bagaimana memanfaatkannya untuk membangun memori kolektif bangsa kita. Memori kolektif berarti membangun ikatan keutuhan masyarakat selain menjadi variabel gerak budaya (Mudji Sutrisno, 2005). Sebagai ingatan bersama dibangun dari pengalaman masa lalu yang terorganisir dan diolah demi kepentingan masa kini (Paul Connerton, 1989). 

Sejarah telah mencatat bahwa rempah-rempah pernah mengharumkan Nusantara. Negeri ini pernah menjadi pemain penting dan pemasok utama dalam perdagangan dunia, jauh sebelum bangsa Eropa melakukan aktivitas perdagangan di Asia Tenggara. Begitu pentingnya rempah-rempah dalam kehidupan manusia, sehingga ia menjadi komoditas utama yang mampu mempengaruhi kondisi politik, ekonomi, maupun sosial budaya dalam skala global. 

Poros perdagangan rempah-rempah global Asia (India-Nusantara-Tiongkok) melalui perairan Hindia hingga Pasifik ini merupakan puncak peradaban penting Nusantara pada masa lalu. Terletak di sepanjang jalur maritim tersibuk di dunia, Nusantara dari masa ke masa telah menjadi daerah strategis yang amat penting dan tujuan perdagangan selama ribuan tahun. 

Tak pelak, sebagai akibat dari lalu lintas laut yang padat ke Asia Timur, Timur Tengah, Eropa dan sebaliknya, banyak peradaban berinteraksi; bertukar pengetahuan, pengalaman, dan budaya. Ia menjelma sebagai ruang silaturahmi antar manusia lintas bangsa sekaligus sarana pertukaran dan pemahaman antarbudaya yang mempertemukan berbagai ide, konsep, gagasan dan praksis, melampaui konteks ruang dan waktu-dipertemukan oleh sungai, laut dan samudera. 

Jalur perdagangan rempah menyebabkan berkembangnya beragam pengetahuan dan kebudayaan yang bukan saja menjadi warisan budaya bagi Indonesia, namun juga merupakan warisan budaya bagi dunia. Akibat posisi geo politik dan geo ekonomi yang sangat strategis dan terletak di antara dua benua dan samudera, Indonesia merupakan global meeting point. 

Hanya saja membahas rempah-rempah bukan sekadar menyoal perilaku hidup sehat ataupun komoditas eksotis semata. Lebih dari itu, memori kolektif rempah-rempah harus mampu menumbuhkan kebanggaan dan nasionalisme warga negara serta memberikan pemaknaan penting tentang arti berbangsa. 

Edukasi rempah
Sayangnya, jejak sejarah rempah sepertinya tenggelam oleh zaman. Kesadaran akan masa lalu belum atau tidak dirasakan penting sehingga masyarakat kita tidak terjaga memori kolektifnya akan kekayaan Nusantara. Bagaimana mungkin kesadaran cinta tanah air tumbuh apabila kita sebagai bangsa tidak tahu sejarahnya? 

Seiiring dengan itu, edukasi tentang pembudidayaan, keragaman jenis, penggunaan dan pemanfaatan rempah-rempah masih rendah. Persentase penggunaan rempah dalam kuliner, misalnya, porsinya sangat kecil. Bahkan penggunaan rempah di Indonesia bagian Timur, yang merupakan cikal bakal rempah, sangat minim. Begitu pula dengan pola edukasi rempah yang masih jauh di bawah kopi, jika melihat menjamurnya kedai kopi hingga profesi barista.

Melihat fenomena tersebut dan menyadari pentingnya mengangkat isu ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya menggaungkan jalur rempah melalui gerakan berkesinambungan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Jalur rempah 'dihidupkan' kembali sebagai memori kolektif. Hal ini dilakukan dengan memberikan edukasi kepada publik yang mencakup beberapa hal, di antaranya mengenai kedudukan rempah-rempah yang mempersatukan dan membentuk perkembangan peradaban Nusantara dan dunia. 

Nusantara merupakan simpul penting pertukaran antarbudaya yang mempertemukan berbagai ide, ilmu pengetahuan, agama, bahasa, estetika, hingga adat kebiasaan, selama berabad-abad (Dewi Kumoratih, 2020). Selain itu, mengisi imajinasi bangsa tentang kemaritiman dan kebaharian yang sudah lama kosong, dengan kemasyuran Nusantara yang pernah menjadi penguasa niaga dan politik secara global dengan kebesaran armada maritimnya. 

Narasi kultural-historis ini 'dikobarkan' agar spirit kejayaan rempah-rempah hidup kembali menjadi nilai dan gaya hidup dalam masyarakat mulai dari pendidikan, kesehatan, gastronomi, sastra, seni, dan seterusnya. Mulai dari pemberdayaan komunitas budaya rempah, pengembangan eduwisata jalur rempah, hingga pertunjukan seni, gastronomi, pengetahuan dan pengobatan tradisional, workshop, dan lainnya. 

Seiring dengan itu, pengembangan dan pemanfaatan rempah-rempah mesti dilakukan yang mencakup dari hulu sampai hilir. Mulai dari pelatihan, mengoptimalkan produksi dan kualitas, pemasaran, serta penggunaannya dalam industri kesehatan dan kecantikan, kuliner, pariwisata dan lainnya. Tak kalah pentingnya, budaya rempah-rempah ini 'dikumandangkan' melalui berbagai media, serta diproduksi dan direproduksi sebanyak-banyaknya.

Dengan demikian, nilai-nilai budaya rempah bisa meresap dalam masyarakat, terwariskan dengan baik kepada generasi muda, dan menjadi bahasa bersama untuk menggambarkan dan menjelaskan masa lalu untuk kepentingan masa depan bangsa ini. 

Lantas untuk apa? Dengan upaya itu Indonesia dapat mengantarkan jalur rempah sebagai warisan dunia (world heritage). Selain sebagai pengarusutamaan kebudayaan dalam pembangunan nasional, pengakuan dunia menjadi bagian penting dari soft diplomacy saat berhadapan dengan negara lain. Indonesia lebih mudah merealisasikan klaimnya sebagai poros maritim dunia, mengukuhkan visi Indonesia tentang ideologi maritimnya. Dampak positif yang besar bagi modal pembangunan berkelanjutan dapat tercapai.

Kesemua itu hanya bisa dilakukan melalui upaya kolektif dengan menggerakkan inovasi, kebijakan, perangkat birokrasi, dan kekuatan rakyat. Sinergi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, serta keterlibatan seluas-luasnya komunitas, petani, akademisi, peneliti, dan pengusaha adalah syarat wajib.

Baca Juga

Dok.Pribadi

Keadilan Hukum di Masa Covid-19

👤Ratno Lukito Guru Besar FSH-UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Direktur Riset dan Publikasi Yayasan Sukma 🕔Senin 25 Januari 2021, 00:15 WIB
PEMAHAMAN tentang makna keadilan hukum sejatinya telah mengalami perkembangan yang sedemikian...
Dok. Pribadi

Menengok Agenda Perempuan di Istana, Siapa Pengawalnya?

👤Yulianti Muthmainnah | Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) 🕔Minggu 24 Januari 2021, 14:15 WIB
Mereka fokus berjuang dan bekerja, karena korban terus berjatuhan, agenda perempuan membutuhkan perhatian dan sangatlah...
Dok. Pribadi

Idham Azis, Donald Trump dan Penciptaan Sejarah Baru

👤RD Hermen Sanusi | Pengamat Sosial 🕔Minggu 24 Januari 2021, 13:55 WIB
Bagi Trump kekuasaan itu harus dipertahankan, termasuk dengan cara-cara arkhais primitif yang ia tunjukan setelah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya