Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Covid-19 dan Sekolah Masa Depan

Vinsensius Darmin Mbula Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik
10/6/2020 05:00
Covid-19 dan Sekolah Masa Depan
(Dok. Pribadi)

PANDEMI covid-19 membawa pengaruh bagi berbagai aspek dalam kehidupan kita, termasuk dunia pendidikan. Model pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang selama ini identik dengan tatap muka dan interaksi fisik guru dan murid ‘dipaksa’ menerapkan model pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Faktanya, hal ini tidak mudah diterapkan karena ketidaksiapan sekolah-sekolah kita dan berbagai elemen lain dalam merespons situasi darurat seperti ini. Akibatnya, guru dan kepala sekolah mengeluh karena tidak tahu bagaimana mengubah semua model pembelajaran dalam jangka waktu yang begitu cepat.

Sementara itu, ada orangtua yang juga stres karena merasa banyak waktunya disibukkan untuk membantu anak mengikuti pelajaran dan mengerjakan tugas-tugas.

Di daerah terpencil yang jauh dari kata memadai untuk ketersediaan alat-alat komunikasi, yang terjadi ialah anak-anak dibiarkan saja di rumah, berharap mereka bisa belajar sendiri.

Efek lanjutannya ialah banyak orangtua meminta agar uang sekolah dikurangi. Pengandaiannya karena anak tidak ke sekolah maka banyak biaya operasional di sekolah juga berkurang. Di sisi lain, sudah banyak sekolah yang mulai mengeluh tentang kesulitan keuangan, bahkan terancam tutup.

Apa pemicu berbagai hal itu? Mesti diakui bahwa pandemi ini membantu kita mengenali dengan baik berbagai persoalan yang sejatinya sudah sekian lama terjadi di dalam dunia pendidikan kita.

Namun, kita tidak menyikapinya secara serius. Pandemi ini, dalam arti tertentu, memaksa kita juga untuk mulai serius memikirkannya. Pertama, terkait pemerataan akses. Narasi-narasi tentang kesulitan guru-guru di pelosok untuk bisa melaksanakan PJJ setidaknya memperjelas adanya ketimpangan.

Bahwa masih banyak di negeri ini yang untuk mendapatkan listrik saja masih susah, komputer masih menjadi barang langka. Belum lagi jika bicara soal telepon pintar.

Kedua, jalinan kerja sama antara sekolah, guru, dan orangtua yang tidak terbangun dengan baik. Fakta menunjukkan bahwa orangtua tidak benar-benar dilibatkan dalam seluruh rangkaian proses pendidikan kita. Orangtua, misalnya, hanya dilibatkan ketika berbicara soal masalah keuangan atau dipanggil ke sekolah ketika anak mereka melakukan pelanggaran disiplin.

Akibatnya, dalam situasi seperti ini, antara sekolah dan orangtua tidak ada kesalingpahaman yang berujung pada sikap saling menuntut satu sama lain.

Ketiga, suka atau tidak suka, kegagapan guru dan sekolah menerapkan model PJJ mengungkap fakta bahwa selama ini guru-guru kita belum mengeksplorasi beragam model pembelajaran.

Tatap muka di ruang kelas dengan model guru mengajar dan murid mendengar masih menjadi tren. Akibatnya, perubahan drastis lewat PJJ selama pandemi membuat guru kelabakan. Keempat, di sisi lain, kita belum memampukan peserta didik belajar mandiri dan belajar bermakna.

Mereka diantar pada kesadaran bahwa belajar merupakan sesuatu yang bermakna bagi hidup mereka. Hal ini menjadi masalah besar bagi PJJ yang mengandaikan adanya kesadaran dalam diri anak sendiri untuk mau belajar mandiri.


Harus tepat sasar

Berangkat dari beberapa persoalan di atas, kiranya upaya kita melakukan perubahan ke depan harus benar-benar tepat sasar.

Pertama, pemerintah perlu benarbenar memberi perhatian pada soal pemerataan akses saranaprasarana dasar bagi seluruh wilayah di Indonesia.

Ini merupakan bagian dari tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD 1945. Kita sekarang sampai di era yang mana ketersedian akses internet dan perangkat komunikasi sudah sama pentingnya dengan kebutuhan dasar lain, seperti buku-buku.

Kedua, sekolah kiranya perlu membangun relasi yang organik dengan orangtua. Karena itu, mereka betul-betul bisa sama-sama merasakan kesulitan yang terjadi sekarang. Iklim kerja sama yang dibangun mesti dilandasi rasa saling percaya dan saling menghormati.

Komunikasi yang baik antara sekolah dan orangtua juga penting, terutama dalam upaya mempertahankan eksistensi sekolah serta memastikan bahwa hak guru-guru dan tenaga pendidikan lainnya masih bisa dipenuhi.

Ketiga, sudah saatnya berbagai pihak memberi perhatian serius pada guru-guru kita. Tentu saja mereka tidak hanya dituntut untuk sanggup berubah, tetapi juga mereka difasilitasi agar dimungkinkan untuk memenuhi apa yang diharapkan.

Harus diakui bahwa sentuhan kita pada upaya memperkuat kompetensi guru belum sepenuhnya berjalan. Hal yang juga tidak kalah penting ialah mengasah spiritualitas mereka agar benar-benar memiliki passion dengan tugas.

Keempat, sudah saatnya mengkaji kembali kurikulum dan model pembelajaran kita agar memberi ruang bagi upaya penumbuhan rasa cinta belajar dalam diri anak yang mana mereka sampai pada kesadaran bahwa belajar ialah hal yang memang penting bagi diri mereka.

Gagasan merdeka belajar dari pemerintah yang mana sekolahsekolah mendapat ruang yang terbuka untuk mengemas kurikulum dan guru mulai dibebaskan dari beban administratif, kiranya dimanfaatkan untuk lebih banyak membangun relasi yang dekat dengan peserta didik dan menumbuhkan spirit cinta belajar dalam diri mereka.

Peserta didik juga mesti dibiasakan mampu mengambil makna dari setiap pengalaman mereka.

Hal itu direfl eksikan dan diolah, lalu sampai pada aksi-aksi konkret demi kebaikan bersama.

Pandemi ini menjadi sebuah kesempatan bagi kita untuk hening sejenak dan membangun ikhtiar menata kembali sekolah-sekolah kita agar kita lebih siap dalam situasi krisis seperti saat ini. Selain itu, kita juga perlu bersama-sama merumuskan langkah-langkah konkret saat kita akan memasuki situasi kenormalan baru pascapandemi ini.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya