Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
AWAL kemunculan covid-19 di Wuhan, Tiongkok pada Januari lalu mengkhawatirkan kita semua. Kebetulan ada enam mahasiswa Riau yang berkuliah di Wuhan, dan sudah kembali ke Riau pada Februari setelah menjalani karantina di Natuna.
Setelah mendapat cerita dan gambaran yang mencekam, bersama dr. Indra Yovi (jubir covid-19 dan ketua tim dokter), dan dr. Nuzelly Husnedi (Direktur RSUD Arifin Achmad) saya menyambangi Gubernur Riau Syamsuar untuk menyampaikan kekhawatiran kami. Termasuk langkah-langkah penanganan bila virus ini sampai di Bumi Lancang Kuning.
Pemeriksaan suhu tubuh penumpang penerbangan internasional dengan thermal scanner, seperti saat kemunculan virus ebola dan virus MERS, merupakan salah satu hasil dari pertemuan tersebut.
Dalam perkembangan gejala yang ditimbulkan virus ini mulai bervariasi, bahkan ada yang tanpa gejala namun dapat menulari orang lain. Ini yang terjadi terhadap pasien 01 covid-19 di Indonesia ketika ia menemui WNA yang tidak bergejala. Namun setelah pulang ke negaranya diketahui ia positif covid-19.
Kemunculan kasus pertama di Indonesia ini cukup mengguncang kita, terutama pasar alat kesehatan untuk masker bedah dan baju hazmat. Beruntung Pemprov Riau sudah menyiapkan stok awal untuk masker bedah dan baju hazmat. Bantuan alat pelindung diri (APD) dari masyarakat, perusahaan, organisasi, dan berbagai pihak sangatlah berguna.
Senin (18/3) merupakan saat kemunculan covid-19 pertama di Riau setelah hasil swab pasien M (64). Sayangnya, butuh waktu lima hari untuk mengetahui hasil tersebut karena sampel swabnya dikirim ke laboratorium Balitbangkes di Jakarta.
Seiring bertambahnya pasien dan sampel swab yang harus diuji, hasil pengujian terkadang baru diterima hingga 2 minggu. Dalam waktu menunggu tersebut pasien seperti digantung. Penggunaan APD menjadi boros karena pasien dalam pengawasan (PDP) diberlakukan protokol pasien covid-19.
Pembelian alat Real-Time Polymerase Chain Reaction (PCR) atau alat pemeriksa swab pasien covid-19 sesuai standar WHO, membuat waktu uji sampel swabnya di laboratorium biomolekuler RSUD Arifin Achmad menjadi 2-3 hari. Rasanya alat PCR menjadi sebuah keharusan di setiap daerah agar tidak perlu menunggu hasil kelewat lama.
Perilaku masyarakat
Tantangan terberat dalam menghadapi virus ini adalah mengubah perilaku masyarakat. Data UNICEF pada 2014 mengungkapkan bahwa 75,5% masyarakat Indonesia tidak mencuci tangan karena menganggap tangan mereka bersih.
Selain itu, riset yang dilakukan Sydney University menunjukkan bahwa secara tidak sadar manusia menyentuh wajah mereka rata-rata 23 kali per jam yang 44% melibatkan kontak dengan mata, hidung, atau mulut. Kondisi ini berlawanan dengan protokol kesehatan pencegahan covid-19.
Sosialisasi terkait protokol pencegahan covid-19 ini sudah dilakukan jauh-jauh hari. Mayoritas masyarakat rasanya sudah tahu terkait hal tersebut. Tetapi mayoritas belum menjalankan protokol tersebut. Dari observasi yang dilakukan dr. Indra Yovi pertengahan Mei ini hanya 24% masyarakat Riau yang menggunakan masker ketika keluar rumah.
Itu pun belum termasuk protokol kesehatan lainnya, seperti jaga jarak, cuci tangan dengan sabun, keluar rumah bila penting, dan lainnya. Inilah kenyataan dan harus kita ubah.
Terlebih kajian Bappenas RI menyebutkan Riau sebagai daerah dengan risiko penyebaran virus terbesar ke-9 di Indonesia. Sungguh suatu hal yang tak boleh dianggap remeh.
Ketika Kementerian Kesehatan membuka opsi untuk pemerintah daerah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Pemprov Riau mempertimbangkan pemberlakuannya. Hal itu mengingat posisi wilayah ini berada di pusat pulau Sumatra.
Pekanbaru merupakan pusat perdagangan yang memiliki mobilitas tinggi dengan daerah penyangganya seperti Siak, Kampar, dan Pelalawan. Ditambah pelabuhan Dumai yang aktivitasnya tinggi karena memiliki jalur transportasi laut antar negara. Pemberlakuan PSBB merupakan sebuah keharusan.
PSBB menjadi perantara untuk mengubah perilaku masyarakat yang belum pakai masker, tak melakukan jaga jarak, dan masih berkumpul untuk hal tidak penting. Masyarakat pun teredukasi untuk selalu bermasker, mencuci tangan seusai beraktivitas, dan tidak menyentuh wajah. Penindakan tegas bagi pelanggar PSBB bisa dilakukan karena ada dasar hukumnya.
WHO belum lama ini menyatakan kemungkinan virus ini akan bersama kita selamanya, atau setidaknya sampai vaksin virus ini ditemukan. Tentu saja hal ini berimbas pada perekonomian masyarakat.
Protokol ketat
Itu sebabnya penerapan protokol kesehatan merupakan harga mati kalau tak ingin pandemi covid-19 berkepanjangan. Menjalankan protokol ini penting karena yang terlihat sehat belum tentu tidak tertular dan tidak menulari.
Simak saja pernyataan Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan yang mengungkapkan pada 8 Mei 2020 diadakan acara sertijab perwira tinggi Polri di Mabes Polri. Sehari setelah acara tersebut, diketahui salah satu peserta sertijab Irjen Supratman dinyatakan positif covid-19. Penerapan protokol pencegahan covid-19 secara saklek membuat perwira tinggi lainnya yang hadir tidak tertular virusnya.
Kini, tantangan cukup berat ada di depan mata ketika sejumlah pasar tradisional, mal, hingga pusat perbelanjaan dipenuhi warga yang berbelanja kebutuhan Idul Fitri. Sebegitu pentingkah membeli baju untuk Lebaran, sehingga melupakan ancaman virus korona?
Padahal Majelis Ulama Indonesia (MUI), organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sudah menyerukan agar umat muslim melakukan ibadah dari rumah. Untuk solat Jumat yang wajib saja bisa diganti dengan solat zuhur, kenapa kita memaksakan diri menggelar solat ied di masjid atau lapangan?
Perlu kita pelajari bahwa lonjakan tajam kasus covid-19 di Tiongkok terjadi setelah masyarakat mudik pada hari raya Imlek.
PSBB murni untuk menjaga kesehatan masyarakat. Kalau mobilitas masyarakat tetap seperti biasa tanpa menjalankan protokol pencegahan, kurva covid-19 akan meningkat tajam, dan hal itu berujung pasien bisa membludak. Bayangkan kalau hal tersebut tidak terkendali, tentu akan membuat sistem dan tenaga kesehatan akan kewalahan.
Kita paham masyarakat masih ada yang harus bekerja, apalagi yang bidangnya terkait pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Kalau memang harus bekerja di luar rumah, jalankanh protokol kesehatan dengan ketat, pakai masker, jaga jarak, dan seringlah mencuci tangan.
Pada saat-saat seperti ini kita jangan egois. Pikiran 'kalau tertular paling saya saja yang kena' harus dihilangkan. Ketika satu orang tidak menjalankan protokol pencegahan, dia dapat menulari orang lain, dan orang lain itu dapat menulari lebih banyak orang lagi.
Ketika ada satu orang positif covid-19, dokter dan perawat akan merawatnya, apoteker akan memberi obatnya, tim penelitian epidemiologis akan turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan terhadap kontak eratnya dan ke mana saja ia pergi, dan masih banyak lagi. Tidak sesimpel 'kalau tertular nanti bisa sembuh'.
Juga jangan berpikiran 'dia saja tidak pakai masker', 'orang itu bisa curi-curi mudik', dan pikiran-pikiran yang membawa contoh orang lain melakukan hal yang salah. Di saat seperti ini, kita bertanggung jawab atas kesehatan sendiri. Ingatkan mereka yang belum menjalankan protokol kesehatan. Kalau mereka bebal setidaknya kita sudah menyelamatkan diri sendiri dan keluarga, dengan menjalankan protokol kesehatan.
Masyarakat adalah garda terdepan penanganan virus ini. Kalau kita mau beraktivitas kembali, ekonomi kembali normal, beribadah bersama-sama lagi, mari sama-sama ikuti PSBB dan jalankan protokol pencegahan covid-19. Pembatasan ini terjadi akibat dampak dari pandemi.
Agar dampaknya segera hilang, kita harus segera selesaikan akar masalahnya, yaitu pandemi. Bukan malah mengabaikan pandemi dan berkata you only live once. Justru karena hidup cuma sekali, kita lakukan yang terbaik dan berguna bagi masyarakat luas.
Itulah ikhtiar yang bisa kita lakukan untuk mencegah penyebaran virus ini, untuk menjaga diri sendiri, menjaga keluarga kita, membantu tenaga kesehatan, dan menjaga kesehatan masyarakat. Tujuannya agar kita tetap bisa bersama menyambut Ramadan dan Lebaran di tahun-tahun berikutnya.
HARIMAU Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) berusia remaja menuju dewasa dilaporkan muncul di sekitar pemukiman penduduk di RT.14/RW.14 Desa Benteng Hulu, Siak, Riau.
Seekor gajah jantan dewasa berusia sekitar 40 tahun ditemukan mati mengenaskan dengan kondisi kepala terpotong di area konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP), Pelalawan, Riau.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan tidak akan memberi toleransi kepada pelaku pembunuhan gajah yang ditemukan mati dalam kondisi dimutilasi.
Gakkum Kehutanan memeriksa PT RAPP terkait kematian Gajah Sumatera di Riau. Investigasi fokus pada pemenuhan kewajiban perlindungan satwa di areal konsesi.
JARINGAN Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) mengecam keras atas pembantaian seekor Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) di areal konsesi.
Gakkum Kehutanan mengejar dan membongkar jaringan yang diduga terlibat dalam pembunuhan Gajah Sumatera yang mati terpenggal di Riau.
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved