Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBELUMNYA (Media Indonesia, 16/3/2020) saya sudah menekankan bahwa hanya uji genetik berbasis polymerase chain reaction (PCR) yang mampu mendeteksi pasien virus korona baru (covid-19) secara akurat dan perlunya Indonesia melakukan mass testing (uji massal).
Tes PCR ini langsung mendeteksi keberadaan materi genetik virus dalam tubuh. Namun, setelahnya, media massa memberitakan bahwa Indonesia akan melakukan mass testing covid-19 dengan cara rapid detection test (RDT) dan sudah membeli 1 juta unit alat RDT dari Tiongkok.
Detiknews (29/3) melaporkan hasil uji RDT pertama pada masyarakat, yaitu 121 positif dan 10.338 negatif. Apa itu uji RDT dan bisa dipercayakah hasilnya?
Uji cepat RDT itu berbasis reaksi antigen-antibodi (serologi), bukan PCR. Ketika SARS-CoV-2 (coronavirus penyebab covid-19) masuk ke tubuh, tubuh akan perlahan-lahan membentuk antibodi khusus yang mengenali dan memerangi hanya SARS-CoV-2. Uji cepat RDT menggunakan konsep interaksi antara antibodi dan bagian protein si kuman yang disebut antigen. Konsep ini disebut juga konsep serologi.
Caranya, dibuat sensor biologis yang permukaannya dilapisi protein buatan, yang strukturnya sama dengan protein antigen yang dimiliki SARS-CoV-2. Ketika sensor ditetesi darah pasien covid-19, akan terjadi reaksi serologi antara protein antigen pada sensor dan antibodi dalam sampel darah.
Hasil reaksi ini divisualisasikan dengan reaksi pemberian zat warna yang menyebabkan munculnya garis berwarna pada sensor bila positif. Hasil akan keluar dalam hitungan menit (sekitar 15 menit), jauh lebih cepat dari uji PCR yang membutuhkan 6-8 jam jika dikerjakan manual (1-3 jam jika menggunakan cara rapid RT-PCR).
Butuh waktu
Masalahnya, akurasi uji RDT serologi covid-19 belum diketahui karena tidak ada satu pun yang sudah lolos uji klinis di negara mana pun. Yang pasti jauh lebih rendah dari uji PCR. Mengapa demikian? Pertama, proses pembentukan antibodi di dalam tubuh membutuhkan waktu.
RDT baru bisa menunjukkan tertular atau tidaknya seseorang oleh covid-19 hanya setelah jumlah antibodi dalam tubuh cukup banyak dan bisa terdeteksi sensor (setelah 7-14 hari sesudah penularan). Jadi, ketika jumlah virus dalam tubuh sudah cukup banyak, gejala sudah timbul dan si pasien bersifat menular. Berarti jika seseorang diuji RDT pada hari ketiga sesudah penularan, hasilnya akan negative, tapi palsu (false negative). Uji PCR lebih mampu mendeteksi keberadaan virus pada masa awal ini.
Kemudian, antibodi akan terus berada dalam tubuh setelah si pasien sembuh sehingga si pasien akan terdeteksi positif palsu (false positive) oleh uji RDT. Penyebab false positive yang lain ialah adanya kemungkinan potongan protein SARS-CoV-2 yang digunakan pada sensor ternyata tidak seunik yang diharapkan.
Akibatnya, orang-orang yang tertular virus lain bisa false positive juga. Misalnya, Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat mengatakan adanya kemungkinan hasil RDT false positive (sekitar 8%-10%) terhadap jenis coronavirus yang lain, seperti SARS dan MERS.
Sebaliknya, uji PCR sangat spesifik (di atas 95%) karena menguji langsung materi genetik virus. Itu sebabnya manfaatkan RDT berbasis serologi dengan hati-hati dan tepat.
Minimal tiga kali
Business Insider (26/3) melaporkan bahwa keakuratan alat RDT produksi Tiongkok yang digunakan di Spanyol hanya sekitar 30%. Sebenarnya ini tidak mengejutkan karena uji cepat serologi influenza pun keakuratannya hanya berkisar antara 30%-70%. Oleh sebab itu, pemerintah perlu mengatur supaya uji RDT dilakukan beberapa kali, minimal tiga kali untuk pasien yang hasil ujinya negatif.
Perlu diambil interval antartes sekitar lima hari sehingga tes ketiga dilakukan di hari ke-14. Jika hasil tes terakhir negatif dan si teruji melaksanakan social distancing dan isolasi diri dengan ketat, dia boleh dinyatakan negatif.
Jika hasil tes pertama atau ke berapa pun positif, si teruji harus segera di tes PCR dan dijadikan pasien dalam pengawasan (PDP). Suatu makalah di jurnal JAMA (27/2) melaporkan adanya pasien yang masih menjadi carrier SARS-CoV-2, bahkan pada hari ke-13 setelah dinyatakan sembuh.
Jika dilaksanakan dengan hati-hati, selain memberikan info masif tentang sebaran pasien positif covid-19 yang bergejala ringan ataupun parah, tes ini juga bisa memberikan info tambahan. Misalnya, hasil uji RDT ini bisa memberikan info mengenai orang yang sudah sembuh dan memiliki antibodi yang mungkin bisa 'dipanen' untuk riset pengembangan vaksin.
Uji RDT juga bisa dilaksanakan di setiap port-of-entry sebagai skrining awal bagi para pelancong asing yang akan masuk ke Indonesia. Juga pemerintah mungkin bisa bernegosiasi dengan perusahaan asing produsen alat RDT untuk menekan harga karena Indonesia menggunakan alat-alat ini dalam jumlah besar, yang berarti membantu perusahaan tersebut menekan biaya uji klinis. Terakhir, data uji RDT juga harus dibuka untuk umum sehingga akan menjadi kontribusi Indonesia dalam perang global melawan covid-19.
Jadi, Anda jangan senang dulu ketika hasil uji RDT Anda negatif. Belum tentu Anda tidak tertular sehingga Anda masih harus melakukan isolasi diri dan mengarantina anggota keluarga. Kemudian, melaksanakan social distancing setidaknya sampai Anda melakukan tes yang ketiga kalinya di hari ke-14. Jangan malah mudik atau nongkrong di mal.
Vaksin penguat atau booster Covid-19 masih diperlukan karena virus dapat bertahan selama 50-100 tahun dalam tubuh hewan.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mencatatkan jumlah kasus covid-19 secara global mengalami peningkatan 52% dari periode 20 November hingga 17 Desember 2023.
PJ Bupati Majalengka Dedi Supandi meminta masyarakat untuk mewaspadai penyebaran Covid-19. Pengetatan protokol kesehatan (prokes) menjadi keharusan.
PEMERINTAH Palu, Sulawesi Tengah, mengimbau warga tetap waspada dan selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan menyusul dua kasus positif covid-19 ditemukan di kota itu.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan jenis virus covid-19 varian JN.1 sebagai VOI atau 'varian yang menarik'.
DINAS Kesehatan (Dinkes) Batam mengonfirmasi bahwa telah terdapat 9 kasus baru terpapar Covid-19 di kota tersebut,
Objektif harus diakui bahwa sekolah daring adalah proses pembelajaran yang menyebabkan lahir generasi covid-19
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved